INFO NABIRE
Home » Blog » Pelaksanaan Sholat Ied Di Masjid Baitul Makmur, Kampung Argo Mulyo, Distrik Uwapa Nabire

Pelaksanaan Sholat Ied Di Masjid Baitul Makmur, Kampung Argo Mulyo, Distrik Uwapa Nabire

Ribuan umat Muslim di kota Nabire menggelar Sholat Ied menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Seperti yang dilaksanakan oleh umat muslim di Masjid Baitul Makmur, Kampung Argo Mulyo, Distrik Uwapa Nabire, Jumat 15 Juni 2018.

Sholat Ied di Masjid Baitul Makmur dipimpin oleh Imam sekaligus Khotib, Ustad Mustamarudin S.Pdi, dan tema ceramah Sholat Ied yang diangkat adalah Konsekuensi Syahadat Untuk Muhasabah Diri.

Dalam ceramahnya, ustad Mustamarudin mengajak umat muslim untuk kembali merenung dan merefleksikan perjalanan hidupnya hingga memasuki hari raya Idul Fitri 1439 H.

“Di hari yang sangat mulia dan berbahagia ini, di tengah-tengah suasana hati dan lidah kita yang sejak semalam tidak mau berhenti dari bertasbih, bertahmid, bertahlil dan bertakbir, kita mencoba merenung, bertafakkur dan bertadzakkur, dalam upaya untuk ber-“Muhasabah an nafs” (mengintrospeksi diri) kita masing-masing, sudah berapa jauhkah perjalanan hidup yang telah kita lalui ? Dan masih berapa jauh lagi perjalanan hidup yang harus kita lalui ?”, kata Ustad.

“Apakah selama sekian tahun hidup di alam dunia ini, kita telah menempuhnya dengan jalan yang benar ? Atau, Na’udzubillah, kita telah menempuhnya dengan jalan yang sesat ? Sehingga apa yang menjadi “Hadaf Asasi” (titik tujuan terakhir) dari perjalanan hidup kita yaitu mencapai “Mardhatillah” (Ridha Allah SWT) masih harus kita pertanyakan kembali kepada diri kita masing-masing”, tuturnya.

Lebih lanjut, Ustad Mustamarudin mengajak umat muslim yang hadir untuk merenungkan mengenai ikrar 2 kalimat syahadat yang diikrarkan kita yaitu “Aku bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah”. Dikatakan 2 kalimat yang sangat pendek dan singkat sekali, untuk mengucapkan hanya memerlukan waktu beberapa detik saja.

Namun sejarah kemudian mencatat, betapa selama “tiga belas” tahun Rasulullah SAW terbukti belum berhasil sepenuhnya membuat lidah kaum musyrikin Makkah mengucapkan dua kaliamat tersebut. Timbul mungkin pertanyaan di dalam benak kita masing-masing, mengapa begitu sulit orang-orang musyrik pada waktu itu untuk mengucapkan dua kalimat syahadat ?” Padahal dua kalimat tersebut berbahasa Arab, bahasa mereka sendiri, yang bukan orang Arab saja paling hanya memerlukan waktu beberapa menit untuk pandai mengucapkannya. Allahu akbar 3x Laa Ilaha illallah Allahu Akbar Walillahilhamd Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Namun yang menjadi masalah sebenarnya bukan hanya sekadar lidah mereka, tapi justru hati dan keyakinan merekalah yang berat untuk mengikrarkan dua kalimat tersebut. Sebab mereka memahami dan menyadari betul akan makna yang terkandung di balik dua kalimat tersebut. Mereka menyadari betul, bahwa pernyataan “Laa ilaaha illallah” (tiada Tuhan kecuali Allah) di samping mengandung pengertian “Laa ma’buuda illallah” (mengesakan Allah sebagai Zat satu-satunya yang berhak diibadahi) juga berarti “La hukma illallah” (mengesakan Allah dari segi hukum dan aturan yang ditetapkan-Nya)”, katanya.

Mereka menyadari sepenuhnya, bila dua kalimat tersebut diikrarkan, maka apa saja yang mereka Tuhankan saat itu harus dibuang jauh-jauh dari keyakinan mereka, untuk kemudian menggantinya dengan keyakinan hanya kepada Allah SWT. Mereka menyadari betul bila dua kalimat tersebut diikrarkan, itu berarti segala macam aturan hidup dan hukum yang sebelumnya mereka jalankan harus segera dicampakkan dari kehidupan, untuk kemudian menggantinya dengan aturan dan hukum yang datang dari Allah SWT. Inilah yang membuat baik lidah lebih-lebih hati mereka sangat berat untuk mengikrarkan dua kalimat syahadat.

Sebagai seorang mu’min tentunya kita meyakini, bahwa “dua” kalimat syahadat yang diikrarkan seorang sebagai pernyataan diri masuk Islam, mengundang konsekuensi bagi yang bersangkutan untuk “Aslama – Islam”, tanpa mengundang lagi akalnya untuk mempermasalahkan, mengapa sesuatu itu halal atau haram, sunnah atau wajib, kendati tidak menutup ruang bagi akalnya mencari hikmah di balik perintah dan larangan Allah SWT. Allah SWT telah mengingatkan kita akan hal ini di antaranya dalam firman-Nya :

“Kini tiba giliran bagi kita untuk merenung dan bertanya kepada diri masing-masing setelah sekian belas atau sekian puluh tahun kita mengikrarkan dua kalimat syahadat, apakah kita telah konsekuen mewarnai kehidupan dengan nilai-nilai yang terkandung di balik dua kalimat tersebut ? Rasa-rasanya kita memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat secara jujur menjawab pertanyaan tersebut. Dan sementara pertanyaan itu sendiri belum mampu kita jawab sejujur-jujurnya, idzinkanlah saya mengajak hadirin dalam renungan yang lain”, katanya.

Setiap hari (baik di kala shalat maupun di luar shalat seperti juga di pagi hari ini) berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus kali lidah kita mengucapkan “Allahu Akbar”. Dengan kalimat ini kita berikrar, bahwa tidak ada yang patut kita “Akbar” (Agung) kan kecuali Allah, baik sederajat apalagi melebihi Allah SWT. Benarkah itu ? Tidakkah kita pernah meng-“Akbar”-kan akal dan hawa nafsu kita sendiri ? Sehingga kita sudah tidak merasa takut lagi dengan ancaman Allah karena melanggar aturan dan hukum-Nya, namun begitu sangat takut untuk melanggar aturan ciptaan akal kita sendiri.

Andaikata seluruh pertanyaan yang kita ajukan kepada diri kita masing-masing dalam renungan di pagi hari ini, kita jawab dengan “Benar”, maka Alhamdulillah, sebab dengan demikian cocoklah sudah antara ucapan yang kita ikrarkan dengan realita kehidupan kita sehari-hari. Namun, andaikata pertanyaan-pertanyaan tersebut terpaksa harus kita jawab secara jujur dengan: “Belum benar” atau bahkan “Tidak benar”, maka idzinkanlah saya mengingatkan diri sendiri, dan mudah-mudahan pula dapat menjadi “Tazkirah” (petingatan) bagi hadirin sekalian, akan peringatan Allah SWT dalam firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian menyatakan sesuatu yang kalian sendiri tidak melakukannya (lain yang di hati, lain yang diucapkan dan lain pula yang diperbuat). Betapa besarnya rasa benci dan murka Allah bilamana kalian menyatakan sesuatu yang kalian sendiri tidak melakukannya” (Q.S. Ash Shaaf: 2-3)
الله اكبر3 x الله اكبر ولله الحمد

Pada akhir khutbah ini, idzinkanlah saya mengajak hadirin bermuhasabah dan bertafakkur. Kehidupan di alam dunia ini suatu saat akan berakhir, dengan memasuki fase ketiga dari empat fase yang telah, sedang dan akan kita jalani (Q.S. Al Baqarah, 2 : 28). Entah kapan saat itu terjadi, kita akan meninggalkan alam dunia yang fana ini menuju kehidupan di alam Barzah. Diawali saat sakratal maut dengan dibukanya hijab alam ghaib (Q.S. Qaaf, 50 : 22). Pada saat itu, masing-masing kita akan dijemput rombongan Malaikat. Jika calon almarhum seorang hamba Allah yang saleh, maka yang menjemputya rombongan Malaikat “Ath Thoyyibiin” yang datang dan menyapa calon almarhum dengan ucapan “Salaamun ‘alikum” (keselamatan atasmu) “udkhulul jannata bimaa kuntum ta’maluun” (kami datang untuk menjemput dan mengantarkan kamu sampai ke syurga nanti, oleh sebab amal perbuatan yang telah kau lakukan” (Intisari Q.S. An Nahl, 16 : 32).

Saudara-saudariku, di Hari Raya Idul Fitri ini, hari yang mustajab untuk berdoa, apa artinya dan apa jadinya diri kita jika tidak ditolong oleh Allah, semoga Allah yang maha mendengar lagi maha menatap, mengabulkan semua doa-doa kita. Marilah sejenak, kita tutupkan mata, kita bebaskan pikiran, singkirkan dulu semua yang masalah kehidupan kita, kita berzikir, lembut saja, Marilah kita merenungi diri dengan zikir yang sederhana tapi penuh keyakinan bahwa Allah benar-benar mendengar, melihat, menyaksikan pertemuan kita ini.

Saudara-saudariku, Mari kita kenang orang-orang di sekitar kita pada Idul Fitri yang lalu. Sebagian di antara mereka tidak lagi bersama kita. Mereka tidak lagi tertawa ria menjelang buka terakhir kemarin; mereka juga tidak berangkat ke masjid pagi ini; mereka juga tidak akan mengulurkan tangannya untuk saling memaafkan sebentar lagi hari ini. Mereka telah dipanggil, insya Allah, untuk berlabuh di pangkuan kasih sayang Ilahi.

Saudara-saudariku, Kenanglah orang tua kita, Ayah dan Ibu kita. Ibu yang menyayangi kita, Ibu yang selalu meneteskan airmata ketika kita pergi, Ibu yang rela tidur tanpa selimut demi melihat kita tidur nyenyak dengan dua selimut. Ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kita terbaring sakit. Ibu yang selalu ingin melihat kita tersenyum walaupun ia harus bekerja keras. Coba renungkan ketika ibu kita melahirkan kita, Beliau rela mengorbankan nyawa untuk kita. Beberapa puluh tahun lalu saat kita dikandung oleh orang tua kita, betapa bahagia mereka, mereka menantikan kelahiran kita, dan mengharap anak yang akan lahir adalah anak yang sholeh dan sholehah, yang berbakti dan selalu sayang kepada mereka.

Saat Ibu melahirkan kita, ibu kita merasakan sakit yang amat sangat, menangis kesakitan, antara hidup dan mati. Bahkan mungkin jika diberi pilihan oleh Tuhan antara menyelamatkan nyawanya atau nyawa bayinya, pastilah ia akan memilih menyelamatkan bayinya dari pada nyawanya sendiri, Tapi apa? Apa yg kita lakukan saat ini, kita hanya melihat beliau, Ibu dan Ayah kita, dengan penderitaannya, mencaci makinya, melawannya, mengacuhkannya… Apakah kita pernah berfikir ingin memeluk mereka..?? Apakah terfikir dibenak kita untuk membuat mereka tersenyum??

Mungkin, saat ini beliau masih ada, masih sehat. Tetapi perhatikanlah, bayangkanlah … rambut mereka satu persatu makin memutih… kulit mereka makin berkerut… sinar wajahnya makin meredup. Masihkah kita belum sadar? Kata-kata yang telah kita ucapkan yang kadang membuat mereka terbangun di tengah malam untuk menangis karena kata-kata kasar kita, namun mengapa kita tak pernah menyadari. Mengapa kita tak mau minta maaf?..

Allahuma shalli wa sallim wa barik’ala Muhammad, wa’ala alihi wa ashbaihi ajmain.

Ya Allah, wahai Dzat Yang Maha Mendengar, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.

Wahai Rabb Yang Maha Menyaksikan. Engkau saksikan kami pada hari ini berkumpul di hadapan-Mu, sebagaimana kami akan berkumpul di hari kiamat nanti.

Ya Allah, inilah kami, hamba-hamba-Mu yang hina berlumur nista, kini tengah menengadahkan tangan menghiba kepada-Mu. Sehina apapun diri kami, kami adalah makhluk ciptaan-Mu. Kami memohon di hari yang penuh kemuliaan ini, ampunilah seluruh dosa-dosa kami.

Rabbana zhalamna anfusana wa illam tagfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin. (Wahai Rabb kami, sungguh kami telah zalim kepada diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami, tentulah kami akan menjadi orang-orang yang merugi).

Duhai Allah Yang Maha Mendengar, ampuni orang tua kami. Ampuni segala kezaliman kami kepada ibu-bapak kami. Andaikata kedurhakaan kami menjadi penggelap kehidupan mereka, maka jadikanlah kami saat ini menjadi anak-anak yang saleh dan salehah yang dapat menjadi cahaya bagi kehidupan orangtua kami, di dunia dan di akhirat.

Allahummaghfirlana wali walidaina warhamhuma kama rabbayana sighara.

Ya Allah, selamatkanlah orang tua kami yang berlumur dosa. Islamkan yang belum Islam. Beri hidayah bagi yang masih tersesat. Pertemukan bagi yang belum pernah berjumpa ibu-bapaknya ya Allah. Lapangkan kuburnya bagi yang ada di alam kubur. Cahayai kuburnya dan ringankan hisabnya. Jadikan mereka ahli surga-Mu, ya Allah. Tolonglah ya Allah, darah dagingnya melekat pada tubuh kami ini, air matanya, keringatnya. Golongkan kami menjadi anak yang tahu balas budi.

Ya Allah, selamatkan seluruh anggota keluarga kami. Jangan biarkan keluarga kami menjadi sumber bencana. Beri hidayah bagi yang belum mengenal-Mu. Jangan biarkan keluarga kami cerai berai, hina di dunia, hina di akhirat.

Ya Rabb, selamatkanlah guru-guru kami, para ulama yang telah mewakafkan hidupnya di jalan-Mu. Selamatkan orang-orang yang mendoakan kami, secara terang-terangan maupun tersembunyi.

Duhai Tuhan yang Maha Pengampun, ampuni tetangga-tetangga kami, sahabat-sahabat kami. Ampuni para pemimpin atas dosa-dosanya. Jangan biarkan bangsa kami dipimpin oleh orang yang tidak mengenal-Mu, yang tega berkhianat kepada-Mu. Jadikan bangsa kami dipimpin oleh orang-orang yang saleh, yang amat mencintai-Mu, mencintai agama-Mu, juga mencintai hidup lurus di atas jalan-Mu.

Ya Allah yang Maha Mendengar, berkahilah hari ini dan hari-hari selanjutnya. Demi keagungan-Mu ya Allah, demi segala janji-janji-Mu yang tiada mungkin Engkau ingkari, ijabah-lah siapapun yang bermunajat saat ini, ya Allah. Amin, amin, amin, ya Hayyu ya Qayyum birahmatika nastain ya arhamar rahimin. Amin ya Allah. Amin ya Allah. La ilaha illa Anta subhanaka inna kunna minaz zhalimin. Ya Hayyu ya Qayyum, ya Hannan ya Mannan, ya Badius samawati wal ardhi, ya Dzal jalali wal ikram.

Ya Allah, berikan kelapangan bagi yang dihimpit kesusahan. Berikan jalan keluar bagi yang dihimpit kesulitan. Beri kecukupan bagi yang selalu kekurangan. Ya Allah, bayarkan bagi mereka yang hidupnya dililit hutang.

Ya Allah, angkat derajat mereka yang selalu dihina dan direndahkan. Lindungi kaum muslimin dan muslimat yang terancam dan teraniaya. Tolonglah para pejuang di jalan-Mu. Dimanapun mereka berada, tolonglah para mujahidin dan mujahidah yang siang malam berjuang memuliakan agama-Mu.

Ya Allah, jadikan umur yang tersisa ini menjadi seindah-indah umur. Jadikan siapapun yang bermunajat ini menjadi ahli shalat yang khusyuk, ahli tahajjud, ahlipuasa. Jangan biarkan kami jauh dari Al-Quran. Jadikan kami di umur yang masih tersisa ini menjadi ahli sedekah yang tulus, ahli amal yang istiqamah.

Allahumma inna nas’aluka imanan kamilan wa yaqinan shadiqan wa qalban khasyi’an wa lisanan dzakiran. Allahumma inna nas’aluka taubatan qablal maut, wa rahmatan ‘indal maut wa maghfiratan ba’dal maut. Allahumma inna nas’aluka husnul khatimah wa na’udzubika min su’il khatimah.

Allahummaghfir lil mukminina wal mukminat wal muslimina wal muslimat, alahya’I minhum wal amwat, innaka sami’un qaribun mujibud da’awat, ya qadhiyal hajat.

RABBANA ATINA FIDDUNYA HASANAH WAFIL AKHIRATI HASANAH WAQINA ADZABANNAR.

Subhana rabbika rabbil ‘izzarti ‘amma yashifun wasalamun ‘alal mursalin walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

[Nabire.Net/Mustamarudin]


Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.