INFO NABIRE
Home » Blog » Obat Habis di Apotek RSUD Nabire, Pemprov Papua Tengah Hadirkan Kartu Sehat Papua Tengah

Obat Habis di Apotek RSUD Nabire, Pemprov Papua Tengah Hadirkan Kartu Sehat Papua Tengah

Obat Habis di Apotek RSUD Nabire, Pemprov Papua Tengah Hadirkan Kartu Sehat Papua Tengah
(Obat Habis di Apotek RSUD Nabire, Pemprov Papua Tengah Hadirkan Kartu Sehat Papua Tengah)

Nabire, Pemerintah Provinsi Papua Tengah akan mensupport RSUD Nabire dengan Kartu Sehat Papua Tengah (KSPT). KSPT ini serupa dengan Kartu Papua Sehat yang sudah tidak ada lagi.

“Kartu Sehat Papua Tengah (KSPT) ini akan bergulir 2023, makanya pihak RSUD Nabire percaya diri bisa menggandeng pihak ketiga yaitu apotek yang dekat dengan RSUD Nabire yaitu apotek Pelita Farma,” kata Direktur RSUD Nabire, dr. Frans Sayori, M.Kes., saat diwawancarai Nabire.Net, Kamis siang (27/04/2023).

Dijelaskan, kerja sama dengan apotek Pelita Farma tidak selamanya, selama RSUD Nabire bisa menangani kondisi obat secara normal maka perjanjian kerjasama dengan apotek akan berakhir.

“Kita fokus untuk peningkatan pelayanan masyarakat. Kenapa hanya OAP yang disupport KSPT? Lalu bagaimana dengan non OAP? Hal ini sesuai dengan Otsus, sesuai dengan juknis di KSPT. Dalam UU Otsus, ada kriteria OAP yaitu Bapak dan Ibu asli Papua, Bapak atau Ibu asli Papua dan atau non OAP tetapi lahir dan besar di Papua”, beber dokter Sayori,

Terkait tudingan dari Netizen, mengapa pihak RSUD Nabire tidak memindahkan obat saja dari apotek Pelita Farma ke RSUD Nabire, dokter Frans Sayori menjawab tidak semudah itu. Berbicara obat, ada efek samping, ada masa kadaluarsa, sehingga tidak mudah melakukan hal itu.

Ketika ditanyakan terkait mekanisme pengambilan obat di apotek Pelita Farma, dokter Frans Sayori menjelaskan, selama ini sudah viral di Nabire bahwa masyarakat harus membeli obat di luar. Di samping itu, ada tudingan lain bahwa RSUD Nabire sudah kongkalikong dengan apotek tertentu, atau dokternya sudah kongkalikong dengan apotek tertentu.

“Di dalam pelayanan kesehatan, seorang dokter dalam meresepkan obat itu yang dipikirkan adalah keselamatan pasien. Coba anda bayangkan kalau dengan alasan tidak ada obat lalu dokter tidak menulis resep. Ini tidak manusiawi. Tetapi bagaimana dokter meresepkan obat dengan harapan data dan obat ada, kemudian pasien bisa tertolong”, tutur dokter Sayori.

Kemudian, apotek di Nabire tidak sama dengan di luar Papua. Tetapi sistem pengadaan obatnya itu, dipesan, ditunggu datang, bisa jadi obat sudah dipesan tetapi saat ini habis karena masih menunggu kontainer masuk, sehingga itulah yang menjadi kendala.

Lalu mengapa RSUD Nabire tidak menyiapkan stok obat yang banyak? Dikatakan dokter Frans Sayori, jika pihak RSUD Nabire sudah menyiapkan stok yang banyak, pihak RSUD tidak bisa memprediksi yang datang ambil dan dapat obat itu sekian, nanti dibatasi bulan ini 100, datang pasien 500, habis juga.

“Untuk OAP, kalau obat di apotek RSUD tidak ada, ambil dulu di apotek Pelita Farma dan itu gratis karena ada Kartu Sehat Papua Tengah (KSPT). Gratis dengan melampirkan KTP atau KK,” lanjutnya.

Sementara bagi pasien OAP yang tidak memiliki KTP, RSUD Nabire sudah menyiapkan Dukcapil mini di RSUD Nabire. Nabire Hebat Sadar Adminduk (NASA).

“Kemudian copy resep, dengan copy resep itu bisa untuk pencatatan dan pelaporan bahwa ini kita layani, ini buktinya, kemudian yang kita layani betul-betul OAP,” tuturnya.

Bagaimana dengan pasien non OAP? “Kalaupun sudah jalan bagus, kita akan layani semua, karena pelayanan kesehatan tidak boleh membeda-bedakan pasien, tetapi urgentnya yaitu pelayanan kepada pasien OAP. Solusi ini akan dievalusi setiap minggu, setiap bulan,” pungkas Direktur RSUD Nabire, dr. Frans Sayori, M.Kes.

[Nabire.Net]


Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.