INFO NABIRE
Home » Blog » Miris, Stok Darah Di UTD RSUD Nabire Sering Kosong & Belum Ada Bank Darah, Pasien RSUD Siriwini Nabire Sering Disuruh Cari Darah Sendiri

Miris, Stok Darah Di UTD RSUD Nabire Sering Kosong & Belum Ada Bank Darah, Pasien RSUD Siriwini Nabire Sering Disuruh Cari Darah Sendiri

Kebutuhan darah bagi perawatan pasien di RSUD Nabire masih sangat kurang, bahkan stok darah yang dimiliki Unit Transfusi Darah (UTD) di RSUD Nabire lebih sering tidak ada.

Hal ini sangat dikecewakan sejumlah warga Nabire yang keluarganya dirawat di RSUD Siriwini Nabire. Warga mengaku karena kehabisan stok darah, mereka diminta mencari darah sendiri, sehingga kewalahan harus mencari donor darah sendiri.

Rahman, warga Nabire, kepada Nabire.Net minggu siang (04/03), menceritakan, waktu itu ibunya dirawat di RSUD Siriwini Nabire dan membutuhkan 4 kantong darah, namun pihak RSUD Siriwini mengaku tidak memiliki stok darah sehingga Rahman harus mencari sendiri donor darah.

Demikian juga Nanang, warga Kampung Kimi, Nabire. Nanang menuturkan saat keluarganya dirawat di RSUD Siriwini Nabire, pihaknya membutuhkan 4 kantong darah, namun lagi-lagi stok darah tidak ada di RSUD Siriwini Nabire. Sayangnya, karena dukungan donor darah terlambat, nyawa keluarganya tak tertolong.

Persoalan stok darah yang kosong di RSUD Siriwini Nabire sebenarnya bukanlah hal baru, namun sudah lama terjadi. Pihak RSUD Nabire sendiri dalam hal ini Unit Transfusi Darah (UTD) RSUD Siriwini Nabire mengakui tidak bisa menyimpan stok darah lebih dari seminggu karena darah tersebut akan rusak, akibat tidak memiliki Bank Darah.

Ketika menanyakan hal ini kepada salah staf UTD RSUD Siriwini Nabire, Max Maniawasi, minggu (04/03), Nabire.Net belum mendapatkan tanggapan dari yang bersangkutan.

Sementara itu, menanggapi persoalan ini, Wahyudiantoro selaku relawan Palang Merah Indonesia (PMI) kabupaten Nabire, kepada Nabire.Net minggu sore (04/03), mengatakan, pemasukan dan pengeluaran kantong darah tidak imbang, sementara UTD RSUD Siriwini Nabire belum memiliki Bank Darah, sehingga darah yang didonorkan tidak bisa bertahan lama.

Diakui Wahyudiantoro, kebutuhan akan kantong darah sangat tinggi, namun persediaan alat Bank Darah tidak ada. Padahal jika Bank Darah tersebut ada, kantong darah bisa distok hingga 2-3 bulan. Namun karena tidak ada Bank Darah, maka kantong darah hasil donor hanya bertahan seminggu, dan jika sudah melewati seminggu maka darah tersebut akan rusak.

Wahyudiantoro menuturkan, ketersediaan darah di Nabire saat ini merupakan tugas dan tanggung jawab UTD RSUD Siriwini Nabire, karena belum aktifnya kepengurusan PMI di Nabire, hal ini sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 91 Tahun 2015 tentang Pelayanan Transfusi Darah.

“Kami sendiri dari PMI Nabire sudah memperjuangkan agar pelayanan darah di Nabire bisa lebih baik lagi dengan pengadaan Bank Darah, dan hal ini sudah kami sampaikan kepada Pemerintah Daerah kabupaten Nabire sejak 2012, namun hingga saat ini belum ada tanggapan serius dari pemda Nabire”, tegas Wahyu.

Ditambahkan Wahyu, seharusnya pelayanan darah diselenggarakan oleh PMI, namun apabila di daerah tersebut belum ada PMI maka UTD RSUD yang melayani pelayanan darah.

Dirinya berharap, pemerintah daerah bisa segera mengatasi persoalan ini, karena ketersediaan darah sangat penting bagi pelayanan kemanusiaan khususnya kepada warga Nabire yang urgent membutuhkan dukungan kantong darah.

[Nabire.Net]


Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.