Menelusuri Keindahan Pulau Arguni di Teluk Berau Fakfak

Fakfak – Arguni merupakan sebuah pulau karang berbentuk unik di Teluk Berau, Distrik Arguni, Fakfak, Papua Barat. Pulaunya berlekuk-lekuk dengan banyak tanjung dan teluk. berpasir putih dan banyak anggrek liar tumbuh di pulau ini. Tidak hanya itu saja, pesona bawah air sekitar Arguni juga sangat bagus untuk snorkeling atau diving.
Pulau Arguni juga menjadi pusat Pertuanan Arguni yang dipimpin oleh seorang raja bermarga Pauspaus. Rumah Raja Arguni ada di pulau ini. Ciri khas rumah Raja Arguni berdinding pelepah sagu.
Raja Arguni oleh masyarakat setempat dikenal juga dengan nama Raja Bule karena secara turun temurun albino atau berkulit putih.
Penduduk Arguni secara keseluruhan beragama Islam. Rumah warga Pulau Arguni berderet di samping jalan yang terbuat dari semen. Kumpulan rumah makin ke atas bukit mengikuti kontur topografi daratan.
Sehari-harinya, penduduk Arguni hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber air bersih untuk dikonsumsi. Sedangkan untuk MCK, mereka mengandalkan air sumur yang payau.
Di depan Pulau Arguni terdapat Pulau Kambing, walaupun namanya begitu tapi tidak ada kambing seekorpun di pulau tersebut. Pulau Kambing juga berpasir putih, banyak pohon kelapa di pantainya.
Dengan hasil perikanan yang melimpah, selain dijual ke British Petroleum LNG Tangguh, nelayan Arguni sangat kreatif, mereka mengolah ikan menjadi ikan asin dan abon ikan.
Dibandingkan dengan kampung-kampung lainnya di Teluk Berau, Arguni cukup beruntung karena pulau ini mendapat akses sinyal telepon seluler.
Sekitar bulan Juli setiap tahunnya, Arguni menjadi destinasi wajib bagi bule-bule kapal pesiar dari Bali yang menuju Raja Ampat.
Keunikan Pulau Arguni tersembunyi di ceruk dan tebing karstnya. Pulau Arguni sendiri mulai dikenal di Eropa ketika pada tahun 1678, pelaut Eropa Johannes Keyts berlayar di Teluk Berau dan membuat sketsa gambar-gambar tebing prasejarah di Teluk Berau.
Selanjutnya pada1937-1938, tim ekspedisi the Forschungsinstitut fur Kulturmorphologie of the University of Frankfurt melakukan eksplorasi di Pulau Arguni. Hasil eksplorasi di Pulau Arguni ditulis oleh J. Roder dengan judul Ergebnisse einer Probegrabung in der Hohle Dudumunir auf Arguni, Mac Cluer-Golf (Holl. West Neuguinea) (1940), yang menyebutkan keberadaan situs gua penguburan, situs hunian prasejarah dan situs lukisan tebing prasejarah berwarna merah di Teluk Berau, Fakfak.
Masyarakat setempat mempercayai warna merah pada gambar tebing prasejarah berasal dari darah dan terabadikan di bagian tengah dinding batu karang. Simbol berwarna merah itu sudah ada ribuan tahun lalu. Untuk cap tangan berwarna merah, kisah lisan menuturkan, telah ada ketika nenek moyang mereka tenggelam dan sempat memegang Pulau Arguni.
Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang ke Pulau Arguni mungkin akan terheran-heran karena saking banyaknya kambing yang berkeliaran. Memang, kambing merupakan hewan peliharaan favorit masyarakat Arguni.
Populasi kambing di pulau ini lebih banyak daripada jumlah penduduk Arguni. Saat ini penduduk Arguni sekitar 300 KK. Kambing-kambing di Pulau Arguni oleh pemiliknya dibiarkan bebas berkeliaran begitu saja.
Untuk menandai kepemilikan masing-masing kambing, biasanya oleh pemilik diberikan identitas kalung warna-warni dari tutup botol minuman. Kambing-kambing ini masuk-keluar halaman rumah mencari rumput dan sisa sayur-sayuran atau sisa-sisa nasi.
Pada umumnya, kambing-kambing Arguni berukuran tubuh kecil dan kurus karena harus berebut makanan dengan yang lain. Harga kambing ini cukup fantastis, Rp 6 hingga 8 juta untuk seekor kambing jantan siap potong.
Yang lebih fantastis lagi, rupanya dalam mencari daun-daunan, kambing-kambing ini mampu memanjat dinding karang yang terjal. Bahkan sangat lincah meloncat dari tebing karang yang satu ke tebing karang yang lain. Tidak jarang, ada saja kambing yang lompat jendela masuk ke dalam dapur mencari nasi.
[Nabire.Net/Hari Suroto]
Tinggalkan Komentar