Ibadah Minggu Sengsara Ke V, Sekaligus Perayaan HUT Ke 75 GKI Tabernakel Oyehe Nabire, Minggu 26 Maret 2017
“Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.”
Demikian kutipan firman Tuhan yang diangkat dari Injil Matius 26:57-68, yang menceritakan tentang Yesus di Hadapan Mahkamah Agama, yang disampaikan pada Ibadah Minggu Pagi, Minggu Sengsara ke V, sekaligus, Ibadah perayaan HUT Jemaat GKI Tabernakel Oyehe Nabire yang ke 75, minggu 26 maret 2017.
Ibadah tersebut dipimpin oleh pelayan firman, Guru Jemaat Eddy Sawamanay.
Saat merenungkan pembacaan firman yang diambil dari Matius 26:57-68 tersebut, Grj. Eddy Sawamanay mengatakan bahwa mencari-cari sebuah kesalahan adalah hal yang paling gampang dilakukan, tetapi sebaliknya mencari dan melakukan sebuah kebenaran adalah hal yang susah.
Ketika Yesus dihadapkan ke Mahkamah Agama, Ia dituduh melakukan kejahatan, dan tuduhan tersebut dikuatkan dengan berbagai kesaksian dusta seperti yang diinginkan oleh para Imam-Imam besar, agar Yesus bisa dihukum mati.
Dikataan Grj. Eddy Sawamanay, ketika berbagai tuduhan dialamatkan kepada-Nya, Yesus tidak membela diri, Ia tetap menunjukkan kerendahan hati. Hal tersebut bertolak belakang dengan sikap manusia yang justru lebih sering mempertahankan harga diri dan membalas kejahata dengan kejahatan.
Segala tuduhan tersebut harus dijalani Yesus sehingga Ia akhirnya dihukum mati dengan disalibkan, semata-mata untuk menggenapi janji Allah dengan penebusan dosa manusia melalui kematian dan kebangkitan Yesus.
Oleh karena itu, Grj. Eddy Sawamanay berpesan, sama seperti Kristus yang mampu mengalahkan kejahatan dengan kerendahatan hati dan kebaikan, begitu pulalah seharusnya kita bersikap dalam kehidupan kita baik dalam keluarga, pendidikan maupun pekerjaan, pelayanan dan ditengah-tengah masyarakat.
Mengakhiri khotbahnya, Grj. Eddy Sawamanay menegaskan, di usia yang ke 75 tahun, GKI Tabernakel dituntut untuk lebih bekerja keras membangun iman dalam persekutuan, dengan mengoptimalkan perbedaan sebagai kekayaan jemaat dalam mewujudnyatakan Kasih Kristus.
[Nabire.Net]
Tinggalkan Komentar