“Gedung dan Jembatan Megah Simbol Kesejahteraan Rakyat Papua ?”

Jayapura – Dalam rangka menyongsong moment peresmian gedung-gedung megah tanggal 23 Oktober 2020, saya ingin memberikan komentar tentang kontradiksi kebanggaan publik atas pembangunan gedung-gedung dan jembatan megah di Papua sementara masyarakat Papua saat ini termiskin.
Ketika awal kita meminta dukungan rakyat, kita saat berkampanye berjanji untuk berkomitmen memberikan kesejahteraan kepada rakyat, sehingga semua kebijakan diarahkan untuk menyenangkan rakyat.
Saya melihat jejak keberhasilan pembangunan di Papua ini hanya akan tinggal simbol-simbol saja yang ditempel di gedung-gedung negara dan gedung-gedung besar dan setiap momen momen yang dibangun untuk itu akan tinggal kenangan yang tidak berdampak langsung.
Banyak anggaran publik disedot habis dalam pembiayaan anggaran pembanguan gedung-gedung itu yang untung tentunya para kontraktor dan feenya yang mungkin kembali ke para pejabat.
Yang mendapat untung dari kondisi ini adalah para pejabat. Kondisi seperti ini menyempurnakan istilah kesejahteraan yang diwakilkan oleh para kontraktor dan pejabat berdasi.
Banyak uang masyarakat terpotong sia-sia diatas dan perputaran uang di masyarakat kecil dana masyarakat tidak berarti banyak untuk tabungan. Walaupun masyarakat ada dana tetapi tidak sangat berarti karena suda habis kebutuhan konsumsi dan bantuan pemerintah telah habis dipembahasan.
Banyak pembangunan sarana prasaran publik tidak banyak berarti di masyarakat. Akses terhadap sistem sumber kesejahteraan masyarakat semakin jauh dari harapan.
Pembangunan Pemerintahan Provinsi Papua yang dibanggakan publik saat ini adalah gedung-gedung megah yang hasilnya tidak dirasakan langasung oleh masyarakat.
Harusnya yang dibanggakan adalah keberhasilan yang dirasakan langsung seperti tersedianya konsumsi, tabungan dan akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan dan ekonomi (pasar) muda diakses.
Saya ingat Gubernur Barnabas Suebu dia dibanggakan karena program turun kampung dan dia berhasil menekan angka kemiskinan di Papua selama periode kepemimpinanya.
Saya masih merindukan sosok seperti Barnabas Suebu yang hadir memimpin tanah ini kedepan bukan kader – kader dari gaya kepemimpinan kapitalis.
Akhirnya saya menyampaikan selamat atas diresmikannya Stadion Lukas Enembe. Semoga Tulisan ini menjadi masukan untuk sisah pemerintahan bapa Gubernur dan jajarannya. Tuhan Memberkati.
*Penulis, Amoye Pekei
[Nabire.Net]


Leave a Reply