News & Info
Home » Blog » Dahsyatnya Pengaruh Program Anti-kekerasan Anak di Papua

Dahsyatnya Pengaruh Program Anti-kekerasan Anak di Papua

Sebanyak 16 sekolah yang tersebar di 3 kabupaten di Papua yakni Kabupaten Jayawijaya, Jayapura dan Keerom menerapkan disiplin positif anti-kekerasan untuk menuju sekolah yang aman dan ramah bagi siswa.

Program disiplin positif anti-kekerasan ini adalah tindak lanjut dari survei Lembaga PBB untuk Anak-anak UNICEF tentang kekerasan di Papua. Survei menyebut, 80 persen anak-anak di Papua mengalami hukuman fisik. Dari jumlah itu, 30 persen anak menerima hukuman fisik yang cukup berat dari lingkungan sekitarnya dan sekolah.

Dalam program ini, para guru dididik untuk menciptakan lingkungan belajar yang bebas kekerasan fisik melalui pendekatan disiplin positif. Sekolah diharapkan mampu menghadirkan situasi yang aman dan menyenangkan bagi siswa. Apalagi UNICEF mencatat, dampak kekerasan sangat buruk bagi pembelajaran, salah satunya anak dapat putus sekolah karena takut dipukuli oleh gurunya.

Program Khusus untuk Papua

Pemimpin UNICEF Papua dan Papua Barat, Margareth Sheehan menuturkan, program ini telah dilakukan sejak akhir 2012 lalu atas kerjasama dengan dinas pendidikan setempat.

“Program ini hanya kami berikan untuk Papua, tidak ada di provinsi lain dan program tersebut mendapatkan dukungan ini juga kerjasama dengan UNFPA dan UN Women. Kami berharap semua anak di Papua dan belahan dunia manapun memiliki hak untuk bebas dari kekerasan, baik fisik, emosional maupun seksual,” jelasnya di Jayapura, Kamis (21/11).

Salah satu pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan Papua, Hans Hamadi mengatakan, masih banyak hak anak untuk pendidikan di Papua belum terpenuhi. Dengan konsisi ini, anak yang telah mendapatkan haknya harus diperlakukan dengan sebaiknya dan salah satunya menghentikan kekerasan pada anak.

“Hukuman fisik disekolah perlu dihentikan. Guru perlu menjadi kreatif untuk menggantikan hukuman fisik,” ujarnya.

Tanggapan Sekolah

Kepala Sekolah SD Bonaventura Sentani, Theodorus Montolalu menuturkan, sejak sekolahnya menerapkan disiplin positif anti kekerasan, situasi di sekolah menjadi lebih baik. Ia mengisahkan, sebelum menerapkan program ini, setiap meja guru yang terdapat di 12 kelas selalu tersedia penggaris kayu panjang, salah satu fungsinya alat untuk memukul siswa.

“Jika ada siswa nakal, pasti saja kena hukuman dari penggaris kayu itu. Entah itu siswa dipukul dikaki atau tangannya,” kata dia saat menerangkan kepada wartawan, Kamis (21/11).

Saat pertama kali sistem ini diterapkan di sekolahnya, memang kebanyakan guru masih kaku dan masih ada yang melakukan tindakan kekerasan itu. Beberapa kali juga dijumpai, para guru saat mengajar masih saja ada yang memegang penggaris kayu untuk menghukum siswa yang mengganggu di kelas.

“Namun saat ini situasi di sekolah maupun di dalam kelas sangat berbeda. Lambat laun kami dapat menerapkan disiplin positif itu kepada siswa. UNICEF memberikan 6 langkah positif untuk menghapus kekerasan fisik kepada anak. Saat ini, jangankan dipukul, anak diberi pengertian saja tentang tindakannya yang mengganggu siswa lain, sudah menangis. Dalam pendisiplinan ini, Komite sekolah dan orangtua siswa juga dilibatkan, agar dapat diterapkan juga ditempat lain dan di rumah,” terangnya.

Sementara salah satu siswa kelas VI SD Bonaventura, Ria Marcella Andriyani Fatah menuturkan saat ini banyak terjadi perubahan di sekolahnya.  Para guru tak lagi menyeramkan dan lebih banyak mengumbar senyuman kepada siswanya. “Setiap pagi bapak dan ibu guru berjejer menyambut kami saat tiba disekolah, satu per satu kami disalami. Ini sudah berlangsung sekitar 3 tahun lalu,” jelasnya.

Ia juga mengakui jarang melihat ada kekerasan fisik yang dilakukan oleh para gurunya. Bapak dan ibu guru di sekolah itu, kata dia, lebih mengajarkan cara sopan untuk bertingkah laku, disiplin dan harus bertanggung jawab atas tugas-tugas di sekolah.

“Saat ini lebih senang, tidak ada lagi yang dikasari. Dulu saat melihat teman dipukul atau dijewer, saya agak tertekan dan takut. Tapi saat ini kekerasan fisik itu sudah jarang ditemukan dan saya lihat di sekolah. Palingan (paling tidak, red.) jika ada teman yang nakal dan tidak kerjakan tugas, pasti diberi hukuman dengan cara menulis di buku penghubung dan harus ditanda-tangani orang tua,” ungkapnya.

(Sumber : KBR68H)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.