Apakah Papua Sudah Merdeka ?
Nabire – Tanggal 1 Desember punya makna yang berbeda-beda bagi setiap orang, ada yang memperingati Hari AIDS Sedunia pada tanggal 1 Desember, ada juga yang berulang tahun pada tanggal tersebut, dan ada juga yang gajian pada tanggal tersebut. Namun tak bisa dipungkiri, tanggal 1 Desember bagi Orang Asli Papua, punya makna yang spesial.
Hampir setiap tahunnya, tanggal 1 Desember bagi Orang Asli Papua adalah tanggal yang sakral. Hal tersebut tak lepas dari historis yang terjadi dimasa lampau. Lalu ada apa dengan tanggal 1 Desember ?
Di artikel ini, penulis tidak akan membahas historis tanggal 1 Desember. Penulis hanya ingin menceritakan kondisi Papua saat ini lewat satu pertanyaan “Apakah Papua Sudah Merdeka?“, merdeka dalam arti Orang Asli Papua sudah terbebas dari diskriminasi, marginalisasi, kekerasan, pelanggaran HAM, serta pengrusakan Sumber Daya Alam yang mereka miliki ?
Secara harafiah, arti kata Merdeka menurut kamus besar bahasa Indonesia artinya bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa; boleh berbuat dengan. Konotasi kata Merdeka disini merujuk kepada kondisi Orang Asli Papua saat ini.
Sejak Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969 hingga saat ini, harus diakui bahwa Papua masih termarginalisi. Tak bisa dibantah bahwa yang diinginkan dari Papua adalah tanah dan sumber daya alamnya saja, belum lagi tudingan rasis, diskriminatif dan separatis yang melekat pada Orang Asl Papua. Hal ini tentu melukai hati Orang Asli Papua.
Usai kejatuhan Suharto 98 lalu, pemerintah telah memberikan otonomi khusus kepada Papua. Dimulai dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 dan diubah dengan UU No. 35/2008 di dua provinsi di Papua. Otonomi khusus memberi ruang fiskal yang besar bagi Papua, yaitu dana otonomi khusus dan dana tambahan untuk infrastruktur. Akan tetapi lagi-lagi harus diakui bahwa bukan orang asli Papua yang menikmati hal itu, dan bukan itulah yang mereka inginkan.
Pembangunan infrastruktur yang saat ini gencar dilakukan di Papua selaras dengan eksploitasi besar-besaran sumber daya alam di Papua. Tengok saja banyak perusahaan tambang, sawit, pengusaha kayu yang menyerap habis sumber daya alam di Papua dengan dalih untuk membangun Papua. Sekali lagi, penikmat terbesarnya bukan Orang Asli Papua, tapi investor itu sendiri.
Hal ini ditambah dengan semakin banyaknya jumlah pendatang di Papua yang sudah melebihi penduduk asli Papua. Hal ini memicu ketimpangan ekonomi yang mencolok antara pendatang dengan penduduk asli Papua.
Disaat bersamaan, kasus pelanggaran HAM di Papua masih banyak yang belum dituntaskan. Sehingga hal ini menambah luka bagi Orang Asli Papua.
Tak heran jika hingga saat ini masih banyak Orang Asli Papua yang berkeinginan berdiri sendiri dan lepas dari NKRI, hanya karena mereka tidak merasa di-Indonesiakan.
Kembali ke pertanyaan penulis di awal artikel, “Apakah Papua Sudah Merdeka?“, jawabannya sudah pasti belum jika kita kaitkan dengan kondisi yang terjadi saat ini di Papua.
Menurut DR. Bernarda Meteray, Dosen di Universitas Cendrawasih, pemerintah Indonesia masih mempunyai peluang untuk memperkuat ke-Indonesiaan Orang Papua lewat berbagai kebijakan dan pendekatan yang dilakukan, tanpa mengabaikan pendekatan sejarah. (Baca : Pemerintah Masih Harus Indonesiakan Warga Papua)
Dikatakan DR. Bernarda, warga Papua semakin tidak puas atas situasi yang terus berkembang, yakni terkait semakin termajinalnya suku asli Melanesia. Selain latar belakang sejarah, diskusi juga mencatat hal-hal penting seperti eskalasi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua yang tidak berkurang meskipun pembangunan semakin pesat.
Ia juga meminta Pemerintah lebih mengutamakan dialog di level nasional bersama masyarakat Papua. Kemudian mendesak pemerintah dapat menghentikan pelanggaran HAM seperti aksi-aksi penembakan di Bumi Cenderawasih. (Baca : Dekonstruksi Sejarah Papua Mendesak Dilakukan)
Pada akhirnya kita tetap berharap Papua masih menjadi bagian dari Indonesia. Pemerintah harus mampu melindungi, membangun, dan mensejahterakan Orang Asli Papua. Jangan lagi bungkam kebebasan berbicara mereka. Jangan lagi perlakukan mereka secara diskriminatif. Jangan lagi ada kekerasan kepada mereka. Tapi dengarkan apa isi hati mereka.
“Sementara kemiskinan masih terus berlanjut, tidak ada kebebasan sejati” (Nelson Mandela).
[Nabire.Net]



Leave a Reply