Ajak Pendidik dan Pelajar Lestarikan Noken, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXII Jayapura Gelar Workshop di Nabire

Nabire, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXII Jayapura memfasilitasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah menggelar Workshop Pelestarian dan Pengembangan Noken bertempat di Aula Hotel Mahavira 2 Nabire, Selasa (19/03/2204).
Kegiatan yang mengusung tema “Cintai Negeriku, Lestarikan Budayaku”, ini diikuti oleh para guru dan murid dari 10 sekolah yang ada di Nabire masing-masing sebagai berikut :
-
SMA YPPK Adhi Luhur
-
SMA Negeri 3 Nabire
-
SMA YPPGI Nabire
-
SMA Negeri 1 Nabire
-
SMK Negeri 1 Nabire
-
SMA Negeri 2 Teknologi dan Rekayasa Nabire
-
SMA Kristen Anak Panah Nabire
-
SMK Pongtiku Nabire
-
SMA Bhakti Mandala Nabire
-
SMA YPKB Ipaiye Nabire
Kegiatan dibuka oleh Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Bapak Aman Kogoya, S.Pd., mewakili Bapak Kepala Dinas.

Desy Polla Usmany, S.S, M.Sos, selaku Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXII Jayapura, saat diwawancarai Nabirenet mengatakan, noken sudah diakui oleh UNESCO menjadi warisan budaya dunia. Namun noken hampir terancam punah.
“Noken ditetapkan sebagai warisan budaya dunia sejak tahun 2012, namun perkembangannya belum signifkan seperti yang diharapkan sehingga harus mendapatkan penanganan mendesak agar tidak punah,” kata Dessy.
Dijelaskan, kegiatan ini dilakukan untuk mewariskan pengetahuan tentang noken kepada generasi muda sebagai penerus warisan tersebut, sehingga generasi muda tahun bahwa noken memiliki arti, makna, fungsi, filosofi yang merupakan bagian dari wujud kekerabatan, rahim ibu, lumbung makanan dan noken sebenarnya hidup mereka. Dengan belajar noken akan selalu ingat leluhur mereka.
“Harapan dari hasil kegiatan ini adalah anak-anak dan guru dinas maupun para pengrajin mereka dapat menjadi penggerak pelestarian noken itu sendiri dan menjadi pelaku budaya bertambah pelaku budaya dari yang muda,” ujarnya.
Dessy menambahkan, yang diharapkan dari pemerintah daerah adalah melestarikan noken dan turut serta dalam melestarikan noken, melestarikan bahan bakunya, dan diharapkan pemprov dapat mengadopsi kegiatan ini untuk dilaksanakan di semua tempat dan kabupaten sehingga merata pengetahuan itu dengan daerah yang sudah kurang melestarikan. Pemda kita harapkan dapat melaksanakan kegiatan seperti ini sehingga pewaris dan pengetahuan pembuatan itu dapat lestarikan turun temurun dan tidak punah dan turut serta dalam menganggarkan kegiatan tersebut,” harapnya.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXII, Desy Polla Usmany, S.S, M.Sos, mengajak anak-anak muda harus mulai mempromosikan pengrajin noken.
“Kalau boleh, di sekolah-sekolah harus ada kelompok muatan lokal, kearifan noken mulai tingkat SD, jadi untuk adik-adik dan guru-guru, minimal, kita punya gerakan di sekolah dan adik-adik bisa buat noken di sekolah, sementara untuk guru-guru, sudah ada buku khusus pembuatan noken,” pungkasnya.
[Nabire.Net]
Tinggalkan Komentar