INFO NABIRE
Home » Blog » Pelatihan Kusta Bagi Petugas Fasyankes Di Nabire

Pelatihan Kusta Bagi Petugas Fasyankes Di Nabire

(Pelatihan Kusta di Nabire)
(Pelatihan Kusta di Nabire)

Nabire – Dalam rangka meningkatkan kapasitas bagi para petugas pengelola program kusta di setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan di kabupaten Nabire, Dinas Kesehatan kabupaten Nabire bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Papua, melaksanakan pelatihan kusta selama 4 hari.

Pelatihan tersebut dibuka pada tanggal 3 Desember 2019, oleh dr. Frans Sayori, mewakili Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Nabire.

Hadir dalam kegiatan ini, Tim Evaluasi Paskah Pelatihan Program Indonesia Sehat Balatkes Provinsi Papua yang dipimpin dr. Arry Pongtiku, MHM, bersama perwakilan dari Dinkes Papua.

Kegiatan juga diisi dengan praktek lapangan di wilayah kerja Puskesmas Nabire Kota, guna menyelidiki sejauh mana penyebaran penyakit kusta di wilayah tersebut.

Jumlah peserta yang mengikuti pelatihan ini sebanyak 21 orang, berasal dari setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) yang ada di Nabire baik itu Puskesmas, RSUD dan Klinik Kesehatan yang ada di kabupaten Nabire.

Sebagai informasi, penyakit kusta yang juga dikenal dengan nama lepra atau penyakit Hansen, adalah penyakit yang menyerang kulit, sistem saraf perifer, selaput lendir pada saluran pernapasan atas, serta mata. Kusta bisa menyebabkan luka pada kulit, kerusakan saraf, melemahnya otot, dan mati rasa.



Gejala dan tanda kusta tidak nampak jelas dan berjalan sangat lambat. Bahkan, gejala kusta bisa muncul 20 tahun setelah bakteri berkembang biak dalam tubuh penderita. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :

  • Mati rasa, baik sensasi terhadap perubahan suhu, sentuhan, tekanan ataupun rasa sakit.

  • Muncul lesi pucat dan menebal pada kulit.

  • Muncul luka tapi tidak terasa sakit.

  • Pembesaran saraf yang biasanya terjadi di siku dan lutut.

  • Kelemahan otot sampai kelumpuhan, terutama otot kaki dan tangan.

  • Kehilangan alis dan bulu mata.

  • Mata menjadi kering dan jarang mengedip, serta dapat menimbulkan kebutaan.

  • Hilangnya jari jemari.

  • Kerusakan pada hidung yang dapat menimbulkan mimisan, hidung tersumbat, atau kehilangan tulang hidung.

Ada beberapa faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang untuk menderita penyakit ini. Beberapa faktor risiko tersebut di antaranya adalah :

  • Melakukan kontak fisik dengan hewan penyebar bakteri kusta tanpa sarung tangan. Hewan perantara tersebut di antaranya adalah armadillo dan simpanse.

  • Bertempat tinggal di kawasan endemik kusta.

  • Memiliki kelainan genetik yang berakibat terhadap sistem kekebalan tubuh.

Penderita kusta akan diberi kombinasi antibiotik selama 6 bulan hingga 2 tahun. Jenis, dosis, dan durasi penggunaan antibiotik ditentukan berdasarkan jenis kusta. Beberapa contoh antibiotik yang digunakan untuk pengobatan kusta adalah rifampicin, dapsone, dan clofazimine.

Jika memiliki tanda-tanda kusta, warga diminta segera melakukan pemeriksaan sehingga bisa cepat ditangani secara medis. Kebersihan tubuh sangat mempengaruhi penularan dan timbulnya penyakit kusta. Untuk itu, warga harus rutin menjaga kebersihan tubuh. Minimal mandi dua kali sehari. Obat kusta sendiri bisa didapatkan di Puskesmas.

Gerakan terpadu untuk memberikan informasi mengenai penyakit kusta terhadap masyarakat, terutama di daerah endemik, merupakan langkah yang penting dalam mendorong para penderita untuk mau memeriksakan diri, mendapatkan pengobatan, dan agar mereka tidak dikucilkan oleh masyarakat.

Sampai dengan saat ini belum ada vaksin untuk mencegah kusta. Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat merupakan pencegahan yang paling baik untuk mencegah kecacatan dan mencegah penularan lebih luas.

[Nabire.Net]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.