INFO NABIRE
Home » Blog » Ibadah Sholat Jumat, 13 Juli 2018, Di Masjid Al Munajah, Marga Jaya, Distrik Uwapa, Nabire

Ibadah Sholat Jumat, 13 Juli 2018, Di Masjid Al Munajah, Marga Jaya, Distrik Uwapa, Nabire

Bertempat di Masjid Al Munajah, Kampung Marga Jaya, Distrik Uwapa, Nabire, Jumat 13 Juli 2018, telah dilaksanakan ibadah Sholat Jumat.

Bertindak sebagai Imam pada Ibadah Sholat Jumat tersebut yaitu Ustad Sholikin, sementara Khotib yaitu Ustad Mustamarudin S.Pdi. Ibadah sholat jumat ini mengusung tema’Bersyukur Adalah Jalan Hidup Para Nabi”.

Dalam khotbahnyam Ustad Mustamarudin mengatakan bahwa syukur kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala atas nikmat dan anugerahnya yang terus-menerus adalah sesuatu yang Dia perintahkan, sebagaimana dijelaskan di dalam Alquran. Dan Allah melarang kita untuk mengkufuri nikmat-Nya. Allah SWT memuji orang-orang yang bersyukur dan memberikan keistimewaan bagi mereka. Dia juga menjanjikan balasan yang lebih baik, kenikmatan yang kian bertambah, dan menjaga nikmat-nikmat yang telah Dia berikan.

Dikatakan, banyak ayat-ayat dalam Al Quran yang memerintahkan agar kita bersyukur. Mengapa ? Karena Allah sayang kepada kita. Dia ingin agar kita mendapatkan kebaikan yang banyak karena melakukannya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. An-Nahl: 114).
Firman-Nya yang lain,

وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Bersyukurlah kalian kepada-Ku dan janganlah kalian kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152).
Firman-Nya juga,

فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut: 17).

Lebih jauh, Ustad Mustamarudin mengatakan,  sesungguhnya Allah SWT membagi keadaan manusia menjadi dua golongan: orang yang bersyukur dan orang yang kufur. Dia membenci segala sesuatu terkait kekufuran dan mencintai segala sesuatu terkait rasa syukur. Tentang keadaan manusia ini, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. Al-Insan: 3).

Dia juga berfirman,

وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS. Luqman: 12).
Firman-Nya yang lain,

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS. An-Naml: 40).
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa musuh Allah, iblis, memiliki tujuan tertinggi yaitu menjadikan manusia sebagai hamba yang tidak bersyukur. Hal itu lantaran mereka mengetahui betapa pentingnya kedudukan syukur dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman,

Hakikat syukur adalah mengakui nikmat yang diberikan oleh pemberi nikmat, pengakuan berupa ketundukan, merendahkan diri, dan mencintainya. Barangsiapa yang tidak mengetahui kenikmatan adalah sebuah kenikmatan, maka dia tidaklah dikatakan bersyukur. Dan orang yang mengetahui kenikmatan tapi ia tidak mengetahui sang pemberi nikmat, ia juga tidak dikatakan sebagai orang yang bersyukur. Demikian juga orang yang mengetahui kenikmatan, lalu ia mengetahui pula sang pemberi nikmat, namun ia membantahnya dengan melakukan kemungkaran, maka orang ini telah mengkufuri nikmat tersebut. Sama halnya dengan orang yang mengetahui kenikmatan dan yang memberikan nikmat, ia mengakui keduanya, tidak membantahnya, akan tetapi tidak mencintai sang pemberi dan patuh padanya, orang ini juga tidak bisa dikatakan sebagai orang yang bersyukur.

Orang yang bersyukur adalah mereka yang mengenal kenikmatan dan yang memberinya, tunduk patuh, ridha, mencintainya, dan menggunakan kenikmatan tersebut pada sesuatu yang dicintai serta untuk menaati sang pemberi nikmat. Inilah orang yang bersyukur.

Diakhir khotbahnya, Ustad Mustamarudin mengatakan, sesungguhnya bersyukur kepada Allah itu wajib bagi setiap muslim dan mukmin. Dan hal ini menjadi sebab langgengnya kenikmatan. Sebaliknya saat rasa syukur itu tidak ada, maka kenikmatan pun akan hilang.

“Syukur adalah pengikat kenikmatan dan pemburunya tatkala ia masih belum didapat. Mengkufurinya adalah sebab hilangnya kenikmatan itu. Orang-orang shaleh menyebut syukur adalah penjaga karena ia menjaga kenikmatan yang sudah ada. Mereka juga menamainya dengan pembawa karena lantaran syukur kenikmatan yang belum datang pun akan terbawa. Kenikmatan itu apabila disyukuri, maka ia akan tetap, dan apabila dikufuri ia akan berlari. Semoga Allah Jalla wa ‘Ala menganugerahkan saya dan Anda sekalian sifat syukur dan melindungi kita dari tabiat kufur terhadap kenikmatan. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan permintaan”, tutupnya.

[Nabire.Net]


Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.