Salah satu penjual daging Babi (B2) di Nabire, Hendrikus Halek mengaku minat masyarakat untuk mengkonsumsi daging babi menurun. Akibatnya, pendapatan para penjual setiap hari tidak menentu. Halek menyebut jualannya diserbu pada saat menggelar acara-acara besar, terutama pada bulan Desember.
Salah satu penyebab konsumsi daging babi menurun ditengarai karena kasus virus hog cholera yang baru-baru ini menyerang ternak babi di Nabire.
“Kadang-kadang mendapat 100.000 rupiah perhari, kadang-kadang kita mendapat 200.000 rupiah perhari dalam 1 bulan tidak menentu karena penjual B2 banyak. Daging B2 biasanya habis terlaku jual pada hari-hari besar, misalnya bulan Desember, atau ada acara besar besaran di Nabire, tetapi setelah lewat tahun baru, ya pendapatan kami biasa saja,” ungkapnya, Sabtu (13/6/2015).
Meski, jualannya tidak pernah diekspor keluar, ia merasa bersyukur dengan hasil yang ia peroleh dengan cara yang halal.
“Daging babi yang kita jual ini, kita piara, ada juga yang kita beli pelihara lalu potong kemudian dijual di pasar Karang dan di kota Nabire saja. Kami tidak mengekspor keluar atau mengirim ke kabupaten di wilayah gunung atau pesisir pantai,” jelasnya.
Hendrikus mengaku selama ia menjadi penjual, para pembeli didominasi masyarakat asli Papua (OAP).
Leave a Reply