INFO NABIRE
Home » Blog » Thobias Bagubau : Polisi KP3 Bandara Nabire Memukul Saya Dengan Senjata

Thobias Bagubau : Polisi KP3 Bandara Nabire Memukul Saya Dengan Senjata

TB

Thobias Bagubau, ketua Lembaga Masyarakat Adat Suku Wolani, Mee dan Moni LMA-SWAMEMO mengatakan dirinya dianiaya oknum polisi yang bekerja sama dengan sejumlah perusahaan emas di Degeuwo, Bogobaida, kabupaten Paniai, Papua.

Bagubau mengaku polisi menganiaya dirinya menggunakan popor senjata saat menengahi warga Degeuwo yang sedang bertengkar dengan pengelola Helly Pad yang terbang dari Bandara Nabire ke Degeuwo pada tanggal 17 November lalu.

“Ketika saya tiba di bandara, salah satu anggota polisi KP3 Bandara Nabire memukul saya di kepala dengan senjata,” kata Bagubau kepada Jubi melalui rilis yang dikirim pada hari Selasa (2/12) lalu.

Tobhias menuturkan kejadian pemukulannya ini berawal di Bandara Udara Kabupaten Nabire, Papua Senin, 17 November 2014, pukul 11 : 00 WIT, bersamaan dengan kunjungan Gubernur Papua Lukas Enembe ke daerah Degeuwo.

Saat itu ada dua orang masyarakat adat bernama Sepanya Widigipa dan Julianus Nagapa berencana membawa surat Undangan dari KOMNAS HAM dalam rangka Kegiatan INKUIRI NASIONAL KOMNAS HAM: Hak Masyarakat Adat atas Wilayahnya di Kawasan Hutan.

Surat tersebut untuk diberikan kepada pelaku penambangan emas liar di Degeuwo yaitu Ibu Anto Asmuruf pemilik PT. Marta Mining berlokasi di Baya Biru Degeuwo dan HJ. Marzuki pemilik PT. Komputer yang berlokasi  di Minimi Biru Degeuwo. Karena pengiriman surat agak sulit sebab jarak dari Nabire ke Degeuwo sangat jauh maka Sdr. Sepanya Widigipa berinisiatif untuk naik helikopter yang beroperasi di Degeuwo.

Sebelum naik, ia telah meminta izin. Namun salah satu karyawan pemilik helikopter yang bernama; Enal tidak menyetujui dan sehingga Thobias pergi ke bandara untuk menjelaskan tujuan keberangkatan Sepanya.  Karena tidak direspon Sdr. Sepanya Widigipa merasa kecewa dan langsung naik ke dalam helikopter tanpa menunggu ijin pemilik helikopter.

Pemilik helikopter marah dan meminta Widigipa turun dari dalam helikopter tersebut. Namun Widigipa bertahan di dalam helikopter. Akhirnya ia ditarik dan didorong paksa dari dalam helikopter keluar hingga terjatuh. Perlakuan ini tidak diterima oleh  Julianus Nagapa, rekan Widigipa. Keduany kemudian melakukan perlawanan.

Pihak Kepolisian KP3 Bandara Kabupaten Nabire langsung menuju ke TKP untuk mengamankan pertengkaran antara Widigipa dan Nagapa dengan pemilik helikopter. Namun menurut Thobias, pihak keamanan lebih cenderung memihak pengusaha helikopter tersebut sehingga Widigipa dan Nagapa harus juga menghadapi petugas keamanan KP3 bandara yang dibantu oleh anggota Brimob yang berjumlah enam orang.

Ketika Thobias Bagubau tiba di bandara, salah satu anggota polisi KP3 Bandara Nabire memukul dirinya di kepala dengan senjata. Setelah itu mereka bertiga (Wigidipa, Nagapa dan Thobias) dibawa ke pos KP3 Bandara Nabire. Sampai di pos polisi ini, ketiganya dianiaya lagi. Setelah itu mereka dibawa ke Polres Nabire menggunakan truck polisi. Di dalam truck tersebut mereka masih dianiaya. Sampai di Polres Nabire, ketiganya ditahan dalam ruangan tahanan Polres Nabire dari Jam 12: 00 WIT sampai dengan jam 17: 00 WIT lalu dibebaskan.

Thobias mengaku ditampar di muka dan di bibir bagian hingga berdarah dan setelah itu dipukuli lagi memakai popor senjata di bagian kepala dan bahu belakang. Ia juga diinjak sampai tak sadarkan diri dalam beberapa menit.

(JB)

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.