INFO OLAHRAGA INFO PAPUA TENGAH
Home » Blog » Usai Gagal Lolos Pencalonan, Henes Sondegau Tetap Dukung PSSI Papua Tengah

Usai Gagal Lolos Pencalonan, Henes Sondegau Tetap Dukung PSSI Papua Tengah

(Usai Gagal Lolos Pencalonan, Henes Sondegau Tetap Dukung PSSI Papua Tengah)
(Usai Gagal Lolos Pencalonan, Henes Sondegau Tetap Dukung PSSI Papua Tengah)

Nabire, Pemerhati sepak bola Papua sekaligus CEO Badai Cartenz, Henes Sondegau, menyatakan dukungannya terhadap kepengurusan definitif Pengurus Provinsi (Pengprov) PSSI Papua Tengah yang terbentuk melalui Kongres Luar Biasa (KLB) di Nabire, Jumat (6/11/2026).

Meski gagal melanjutkan pencalonannya sebagai Ketua Umum PSSI Papua Tengah setelah proses verifikasi administrasi, Henes menegaskan hasil KLB bukan alasan untuk memecah persatuan. Ia justru meminta seluruh pihak kembali bersatu dan memberikan ruang kepada kepengurusan baru untuk membangun sepak bola Papua Tengah.

Menurut Henes, terbentuknya kepengurusan definitif menjadi momentum penting setelah proses panjang sejak Papua Tengah berstatus sebagai daerah otonomi baru (DOB).

“Selamat bekerja. Kita tetap mendukung ketua PSSI Papua Tengah definitif beserta jajaran. Berkompetisi itu hal yang biasa. Setelah pertandingan selesai, kita bersatu dan kita bertemu di lapangan hijau,” kata Henes di Nabire, Jumat (6/11/2026).

Apresiasi untuk Proses KLB

Henes memberikan apresiasi kepada seluruh peserta KLB, komite pemilihan, komite banding, serta Plt Ketua PSSI Papua Tengah yang selama ini menjalankan proses pembentukan organisasi sepak bola di provinsi tersebut.

Ia secara khusus menyampaikan penghargaan kepada Plt Ketua PSSI Papua Tengah, Vivin, yang menurutnya telah ikut merintis proses hingga akhirnya organisasi tersebut memiliki kepengurusan definitif.

“Terima kasih kepada Ibu Vivin selaku Plt Ketua PSSI Papua Tengah yang sudah merintis dan menjalankan proses panjang sampai hari ini kita bisa melaksanakan kongres luar biasa untuk menetapkan kepengurusan definitif,” ujarnya.

Henes menilai keberadaan PSSI definitif akan membuka peluang lebih besar bagi pengembangan sepak bola di Papua Tengah, termasuk dari sisi dukungan anggaran pemerintah.

Selama ini, kata dia, berbagai kegiatan sepak bola banyak dijalankan secara mandiri oleh para penggiat olahraga.

“Kalau dulu menggunakan dana atau anggaran sendiri, dengan terbentuknya PSSI definitif, anggaran dari pemerintah bisa disiapkan,” katanya.

Soroti Proses Verifikasi Pencalonan

Di sisi lain, Henes mengungkapkan kekecewaannya terhadap proses verifikasi pencalonan Ketua PSSI Papua Tengah. Dari delapan kandidat yang mendaftarkan diri, tujuh tidak dapat melanjutkan proses karena dinyatakan belum memenuhi sejumlah persyaratan.

Henes merupakan salah satu kandidat yang tidak lolos tersebut. Ia mengaku bersama para pendukungnya telah mempersiapkan pencalonan sejak jauh hari dan memperoleh rekomendasi dari enam klub serta satu unsur PSSI.

Menurut dia, mekanisme verifikasi seharusnya memberikan kesempatan kepada bakal calon untuk melengkapi kekurangan administrasi sebelum keputusan akhir diumumkan.

“Seharusnya bakal calon diterima terlebih dahulu, diberikan tanda terima, kemudian diberi kesempatan melengkapi berkas yang diperlukan. Setelah itu proses verifikasi dan banding berjalan sesuai tahapan,” ujarnya.

Ia mengaku menyayangkan keputusan yang menurutnya membuat sejumlah kandidat gugur sebelum proses berjalan lebih jauh.

Meski demikian, Henes menegaskan persoalan tersebut tidak akan membuat dirinya menarik diri dari perkembangan sepak bola Papua Tengah.

“Ini bukan berarti perjuangan berhenti sampai di situ. Kita tetap bersatu mendukung sepak bola Papua Tengah,” katanya.

Mulai Merintis Sejak Papua Tengah Berdiri

Henes menyebut keterlibatannya dalam pembangunan sepak bola Papua Tengah bukan sesuatu yang baru. Ia mengaku telah terlibat dalam persiapan sepak bola di wilayah tersebut sejak 2023, setelah Papua Tengah hadir sebagai daerah otonomi baru.

Dalam perjalanan tersebut, ia dipercaya menjalankan sejumlah tugas dalam organisasi dan kompetisi sepak bola. Di antaranya sebagai Komisi Disiplin (Komdis), perwakilan PSSI Papua Tengah dalam Kongres PSSI Pusat, serta Ketua Panitia Pelaksana Liga 4.

Ia mengatakan penyelenggaraan Liga 4 dilakukan ketika struktur pemerintahan Papua Tengah masih berada dalam masa transisi.

“Waktu itu pemerintahan masih transisi. Tetapi Liga 4 sudah kita jalankan dengan waktu yang singkat dan Puji Tuhan berhasil,” ujarnya.

Sebelum PSSI Papua Tengah memiliki struktur definitif, Henes bersama Badai Cartenz juga telah menyelenggarakan berbagai kegiatan sepak bola sejak 2019.

Dorong Peningkatan Kualitas SDM Sepak Bola

Selain kompetisi, pembangunan sumber daya manusia menjadi bagian yang menurut Henes penting untuk memperkuat fondasi sepak bola Papua Tengah.

Ia menyebut Badai Cartenz telah menggelar pelatihan lisensi kepelatihan D secara mandiri. Program tersebut bahkan diikuti peserta dari berbagai daerah di Tanah Papua.

Menurut Henes, peserta tidak hanya berasal dari Nabire dan wilayah sekitar Papua Tengah, tetapi juga dari Papua Selatan, Papua Barat Daya, Papua Barat dan Papua.

Jumlah peserta dalam pelatihan tersebut mencapai sekitar 40 orang.

Setelah pelatihan lisensi D, program kemudian dikembangkan ke tingkat lisensi C. Sejumlah mantan pemain Persipura dan pemain tim nasional Indonesia disebut ikut dalam program tersebut, antara lain Okto Maniani, Patrick Wanggai dan Emanuel Wanggai.

Pelatihan kemudian berlanjut pada sektor perwasitan melalui program lisensi C3 daerah.

Henes mengatakan sejumlah peserta yang mengikuti pembinaan tersebut kemudian dipercaya memimpin pertandingan Liga 4 dan berbagai turnamen sepak bola di Papua.

“Anak-anak kita sendiri yang akhirnya bisa memimpin pertandingan di Liga 4 dan beberapa turnamen bergengsi di Papua,” katanya.

Momentum Konsolidasi Sepak Bola Papua Tengah

Henes berharap kepengurusan PSSI Papua Tengah yang baru dapat melanjutkan fondasi yang telah dibangun berbagai pihak selama bertahun-tahun.

Ia juga menilai KLB Papua Tengah merupakan bagian dari agenda nasional PSSI untuk melakukan konsolidasi organisasi di tingkat provinsi.

Menurutnya, pelaksanaan kongres di berbagai wilayah Indonesia berkaitan dengan agenda pemilihan Ketua Umum PSSI pada 2027.

“Ini bukan hanya Papua Tengah. PSSI pusat menginstruksikan pelaksanaan kongres pada Oktober hingga November karena tahun depan, Juni 2027, akan ada pemilihan Ketua Umum PSSI,” ujarnya.

Henes berharap momentum tersebut tidak berhenti pada pergantian struktur organisasi. Ia ingin PSSI Papua Tengah mampu meningkatkan kualitas kompetisi, pembinaan pemain, pelatih, wasit, serta memperluas kesempatan bagi talenta muda Papua Tengah.

Baginya, perbedaan pandangan dalam proses organisasi merupakan hal biasa. Yang terpenting, seluruh pihak kembali berada dalam satu tujuan: membangun sepak bola Papua Tengah agar mampu naik level.

“Dari apa yang sudah kita tanam, sekarang kita serahkan kepada mereka yang bisa menjalankan. Harapannya ke depan lebih baik dan naik level. Ini yang sudah kita tunggu-tunggu bertahun-tahun,” tutur Henes.

[Nabire.Net/Marten Dogomo]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.