Petani Siapkan 15.000 Bibit, Kopi Arabika Siriwo Nabire Bidik Pasar Internasional
Nabire, Petani kopi di Distrik Siriwo, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, menyiapkan hampir 15.000 bibit untuk mengembangkan perkebunan kopi Arabika di enam kampung. Pengembangan komoditas lokal ini kembali didorong melalui Festival Kopi Papua Tengah 2026 yang berlangsung di Aula KSK Bukit Meriam, Nabire, Jumat (30/10/2026).
Kesiapan petani tersebut menjadi peluang untuk mengembangkan kopi lokal Nabire agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Namun, petani masih membutuhkan dukungan fasilitas pengolahan, pendampingan teknis, serta akses pasar agar produksi kopi dapat berkembang secara berkelanjutan.
Ketua Umum Petani Kopi Distrik Siriwo, Andreas Dogomo, mengatakan masyarakat di wilayahnya telah mengenal dan mengembangkan kopi sejak dekade 1990-an. Saat itu, masyarakat dari sejumlah wilayah, termasuk Ugida, Epomani, Tibai Mabouw, dan Unipo, pernah membawa hasil kopi untuk mengikuti pameran di Timika.
Biji kopi dari kawasan Siriwo, termasuk Modio dan Mapia, telah diperkenalkan kepada masyarakat di luar daerah. Akan tetapi, upaya pengembangan tersebut tidak berlanjut karena keterbatasan sarana pengolahan dan belum tersedianya pembeli yang dapat menampung hasil panen petani.

“Pada waktu itu kami pernah membawa kacang kopi untuk pameran. Tetapi tidak ada pembeli dan tidak ada mesin pengolahan. Akhirnya, pengembangan kopi tidak berlanjut dan masyarakat hanya menyimpan bijinya,” ungkap Andreas.
Kini, para petani berupaya menghidupkan kembali potensi tersebut melalui penyiapan bibit dan pengembangan perkebunan di enam kampung. Andreas juga memperkenalkan nama Kopi Arabika Siriwo sebagai identitas produk kopi lokal yang berasal dari wilayah Kabupaten Nabire.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Nabire memberikan dukungan nyata, terutama melalui penyediaan mesin pengupas kopi basah dan kering. Menurutnya, fasilitas tersebut diperlukan agar petani dapat mengolah hasil perkebunan secara lebih baik dan meningkatkan nilai jual produk.
“Kami masyarakat Siriwo sudah siap. Bibit yang kami siapkan mendekati 15.000. Karena itu, kami berharap pemerintah membantu menyediakan mesin pengupas basah dan kering agar ke depan hasil kopi masyarakat bisa diolah dengan baik,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire, Ronald Wilson Manuaron, menyatakan pemerintah daerah akan mendorong pengembangan kopi Arabika dan Robusta sesuai dengan karakteristik wilayah.

Ia menjelaskan, kopi Robusta berpotensi dikembangkan di kawasan pesisir dengan ketinggian di bawah 500 meter di atas permukaan laut. Adapun kopi Arabika diarahkan ke wilayah dataran tinggi, termasuk Distrik Siriwo, Menou, dan Dipa.
Untuk tahap awal, pemerintah akan memprioritaskan pengembangan kopi Arabika di Siriwo dengan mendorong penanaman, pembukaan lahan, serta pembinaan petani. Pengembangan direncanakan dimulai dari sejumlah kampung, termasuk Ugida dan Epomani, sebelum diperluas ke wilayah lainnya.
Pembinaan tersebut juga akan mencakup teknik pengolahan, persiapan biji kopi berkualitas, dan upaya menghubungkan petani dengan calon pembeli. Pemerintah daerah turut merencanakan kemasan khusus Kopi Siriwo Nabire untuk memperkuat identitas produk dan meningkatkan daya saingnya.
Ronald mengatakan pengembangan kopi lokal tersebut sejalan dengan arahan Gubernur Papua Tengah agar produk perkebunan daerah dapat dikenal lebih luas hingga pasar internasional.
“Kita sudah mengenal Kopi Moanemani dari Kabupaten Dogiyai. Sekarang kita mulai mengembangkan Kopi Siriwo yang merupakan kopi asli Nabire,” ujarnya.
Apresiasi terhadap potensi kopi Siriwo juga disampaikan Yohana Erari, pegawai Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire. Ia menilai kopi tersebut memiliki keistimewaan rasa sekaligus merepresentasikan cerita tentang tanah Papua dan kerja keras petani lokal.
Yohana berharap Pemerintah Kabupaten Nabire dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah memberikan perhatian lebih kepada petani Siriwo, mengingat jangkauan geografis wilayah tersebut cukup jauh.

Festival Kopi Papua Tengah 2026 menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi kopi lokal sekaligus memperkuat perhatian terhadap pengembangan perkebunan rakyat.
Dengan hampir 15.000 bibit yang disiapkan, dukungan fasilitas pengolahan, pendampingan petani, dan kepastian akses pasar akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan Kopi Arabika Siriwo sebagai salah satu produk unggulan Kabupaten Nabire.
[Nabire.Net/Marten Dogomo]





Tinggalkan Komentar