INFO NABIRE
Home » Blog » Poltekkes Kemenkes Jayapura Manfaatkan Ikan Teri dan Buah Merah untuk Cegah Stunting di Nabire

Poltekkes Kemenkes Jayapura Manfaatkan Ikan Teri dan Buah Merah untuk Cegah Stunting di Nabire

(Poltekkes Kemenkes Jayapura Manfaatkan Ikan Teri dan Buah Merah untuk Cegah Stunting di Nabire)
(Poltekkes Kemenkes Jayapura Manfaatkan Ikan Teri dan Buah Merah untuk Cegah Stunting di Nabire)

Nabire, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Jayapura melalui Program Studi D-III Kebidanan Nabire mengembangkan makanan tambahan berbasis pangan lokal untuk mendukung pencegahan stunting pada balita di Kampung Sanoba, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Papua Tengah.

Program pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung sejak Mei hingga Oktober 2026 ini memanfaatkan ikan teri dan buah merah sebagai bahan baku pembuatan bakso untuk makanan tambahan balita. Kegiatan tersebut juga mencakup edukasi gizi bagi ibu serta pemantauan pertumbuhan anak melalui Posyandu dan Puskesmas Sanoba.

Sebanyak 20 balita dan 20 ibu balita menjadi sasaran program yang dirancang untuk meningkatkan pemenuhan gizi anak sekaligus memperkuat kesadaran keluarga mengenai pentingnya pemantauan pertumbuhan secara berkala.

Pemantauan Pertumbuhan dan Edukasi Gizi

Dalam pelaksanaannya, tim pengabdian melakukan pendataan terhadap balita sasaran, kemudian melaksanakan pengukuran antropometri berupa penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.

Selain pemeriksaan pertumbuhan, anak-anak juga menerima makanan tambahan berupa bakso yang diolah menggunakan ikan teri dan buah merah. Pemberian makanan tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan bahan pangan lokal untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi balita.

Para ibu juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya asupan gizi seimbang serta kunjungan rutin ke Posyandu atau Puskesmas. Langkah ini diharapkan membantu keluarga memahami pentingnya memperhatikan perkembangan anak sejak dini.

Berdasarkan data pelaksanaan kegiatan, seluruh 20 balita sasaran telah mengikuti pengukuran pertumbuhan dan menerima makanan tambahan. Sementara itu, seluruh ibu balita juga mengikuti edukasi gizi, dan 20 balita tercatat melakukan kunjungan pemantauan rutin.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa seluruh sasaran yang ditetapkan telah terjangkau dalam rangkaian kegiatan. Meski demikian, dampak program terhadap status gizi dan penurunan angka stunting memerlukan pemantauan lanjutan serta evaluasi pertumbuhan anak dari waktu ke waktu.

Ikan Teri dan Buah Merah sebagai Pangan Lokal

Pemanfaatan ikan teri dan buah merah menjadi bagian penting dari program ini karena keduanya merupakan bahan pangan yang dapat dikembangkan dalam inovasi makanan berbasis potensi lokal.

Ikan teri dikenal sebagai salah satu sumber protein dan mineral, termasuk kalsium apabila bagian tulangnya turut dikonsumsi. Sementara itu, buah merah Papua dikenal mengandung komponen gizi, termasuk lemak dan senyawa antioksidan.

Pengolahan kedua bahan tersebut menjadi bakso merupakan upaya untuk menghadirkan bentuk makanan tambahan yang lebih praktis sekaligus memperkenalkan variasi olahan pangan lokal kepada keluarga.

Namun, proses pengembangan produk masih menghadapi tantangan. Tim menemukan bahwa tekstur tulang ikan teri masih terasa kasar setelah pengolahan sehingga diperlukan penyempurnaan formulasi dan teknik produksi.

Perbaikan tersebut penting agar makanan tambahan memiliki tekstur lebih halus dan sesuai dengan kemampuan makan balita. Keamanan pangan, ukuran sajian, serta kesesuaian tekstur dengan usia anak juga perlu diperhatikan dalam pengembangan produk berikutnya.

Kolaborasi untuk Pencegahan Stunting

Kegiatan yang melibatkan Posyandu Kampung Sanoba dan Puskesmas Sanoba ini menempatkan edukasi keluarga dan pemantauan pertumbuhan sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.

Pemantauan berat badan dan tinggi badan secara berkala diperlukan untuk mengenali lebih awal kemungkinan gangguan pertumbuhan. Apabila ditemukan indikasi masalah gizi, anak dapat memperoleh pemeriksaan lebih lanjut dan penanganan sesuai kebutuhan melalui fasilitas pelayanan kesehatan.

Pemberian makanan tambahan juga perlu ditempatkan sebagai pendukung pola makan bergizi seimbang, bukan sebagai pengganti makanan utama atau pelayanan kesehatan. Upaya pencegahan stunting membutuhkan pendekatan berkelanjutan yang melibatkan keluarga, tenaga kesehatan, kader Posyandu, serta lingkungan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, pengembangan makanan berbasis pangan lokal dapat menjadi salah satu alternatif pendukung edukasi gizi, selama komposisi, pengolahan, dan pemberiannya disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Tim Pengabdian Dorong Keberlanjutan Program

Tim pengabdian kepada masyarakat terdiri atas Christina Tien Popang, Anisa Nanang Sulistiyowati, Dyan Puji Lestari, Sitti Mardiana, Alberthin Febe Pasorong, Ferdiana Ludiantini Refwutu, Ester Muyapa, dan Elferida Lubis.

Tim berharap pemanfaatan ikan teri dan buah merah dapat terus dikembangkan sebagai inovasi pangan lokal yang mendukung pemenuhan gizi anak di Kampung Sanoba.

Ke depan, keberlanjutan program diharapkan didukung melalui kerja sama dengan Puskesmas Sanoba dan kader Posyandu, terutama dalam pelaksanaan edukasi gizi, kunjungan pemantauan rutin, serta pengukuran antropometri ulang.

Pemantauan lanjutan diperlukan untuk melihat perkembangan pertumbuhan balita sekaligus mengevaluasi manfaat program dalam jangka panjang.

Melalui kolaborasi antara institusi pendidikan kesehatan, tenaga kesehatan, kader Posyandu, dan keluarga, upaya pencegahan stunting di Kabupaten Nabire diharapkan dapat berjalan lebih berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi pangan lokal Papua Tengah.

[Nabire.Net]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.