INFO NABIRE INFO PAPUA TENGAH
Home » Blog » Pemprov Papua Tengah Siapkan Anggaran Hampir Rp1 Miliar untuk Pembinaan Petani Kopi

Pemprov Papua Tengah Siapkan Anggaran Hampir Rp1 Miliar untuk Pembinaan Petani Kopi

(Pemprov Papua Tengah Siapkan Anggaran Hampir Rp1 Miliar untuk Pembinaan Petani Kopi)
(Pemprov Papua Tengah Siapkan Anggaran Hampir Rp1 Miliar untuk Pembinaan Petani Kopi)

Nabire, Pemerintah Provinsi Papua Tengah menyiapkan program pembinaan petani kopi di enam kabupaten pada 2026 untuk meningkatkan kualitas produksi dan memperkuat pemasaran komoditas lokal. Program yang diperkirakan membutuhkan anggaran hampir Rp1 miliar lebih ini menjadi tindak lanjut Festival Kopi Papua Tengah 2026 yang resmi dibuka Gubernur Meki Nawipa di Aula KSK Nabire, Kamis (29/10/2026).

Program tersebut diarahkan untuk membantu petani meningkatkan kemampuan budidaya sekaligus membangun jaringan usaha agar mampu bersaing dalam rantai pemasaran kopi. Pemerintah daerah juga menargetkan pembinaan terhadap 50 petani dari setiap kabupaten sasaran.

Festival Kopi Papua Tengah 2026 merupakan kegiatan perdana yang digagas Dinas Perkebunan Provinsi Papua Tengah. Selain menjadi ajang promosi hasil perkebunan, kegiatan ini mempertemukan petani dan pelaku usaha untuk membuka peluang kerja sama dalam pengembangan produksi serta pemasaran kopi lokal.

Gubernur Dorong Petani Perkuat Jaringan Usaha

Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa mengapresiasi masyarakat yang selama ini konsisten mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan, khususnya komoditas kopi dan teh.

Ia mencontohkan kontribusi Didimus Tebay di Moanemani, Kabupaten Dogiyai, yang memperkenalkan kopi Moanemani P5. Menurutnya, upaya masyarakat dalam mengembangkan komoditas lokal perlu didukung dengan pola usaha yang lebih terorganisasi.

Meki menegaskan bahwa keberhasilan usaha kopi tidak cukup hanya ditentukan oleh kemampuan petani menghasilkan panen. Kerja sama antarpelaku usaha dan pembentukan jaringan pemasaran juga menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan usaha.

“Pola hari ini adalah bagaimana supaya mereka itu ada dalam ring. Kelemahan buat orang Papua hari ini, dia setelah dapat uang, dia mau jalan sendiri,” ujar Meki kepada awak media seusai pembukaan festival.

Ia menjelaskan, petani yang menjalankan usaha secara sendiri-sendiri berpotensi menghadapi kesulitan dalam memperluas pasar dan mempertahankan kestabilan harga. Karena itu, penguatan jaringan dinilai penting agar petani memiliki posisi tawar yang lebih baik ketika menjual hasil panen.

Meki juga menyoroti keberadaan tengkulak atau perantara yang dapat memengaruhi harga kopi di tingkat petani. Fluktuasi harga menjadi salah satu tantangan yang perlu diatasi melalui pemasaran yang lebih terorganisasi dan kerja sama berkelanjutan.

Enam Kabupaten Jadi Sasaran Pembinaan pada 2026

Ketua Panitia Festival Kopi Papua Tengah, Andreas Gobai, mengatakan festival tersebut akan dilanjutkan dengan program pembinaan petani sesuai arahan gubernur.

Menurut Andreas, pemerintah ingin memastikan kegiatan promosi tidak berhenti pada penyelenggaraan festival, tetapi menghasilkan manfaat nyata bagi peningkatan kapasitas petani kopi.

Pada tahap awal 2026, pembinaan direncanakan menjangkau enam kabupaten, yakni Kabupaten Puncak, Puncak Jaya, Intan Jaya, Paniai, Dogiyai, dan Nabire.

Sementara itu, petani di Kabupaten Deiyai dan Mimika direncanakan memperoleh program pembinaan pada 2027.

Pemerintah provinsi menargetkan 50 petani dari setiap kabupaten sasaran. Dengan demikian, apabila target tersebut diterapkan secara penuh di enam kabupaten pada tahap awal, program ini berpotensi menjangkau 300 petani.

Pelaksanaan pembinaan akan dilakukan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Papua Tengah dengan melibatkan Asosiasi Kopi Indonesia.

Materi pendampingan mencakup teknik budidaya, perawatan tanaman, serta pemilihan benih yang tepat. Langkah tersebut diharapkan membantu petani menghasilkan kopi dengan kualitas yang lebih baik dan konsisten.

Andreas menyebutkan bahwa anggaran program pembinaan diperkirakan mencapai hampir Rp1 miliar lebih, termasuk kebutuhan operasional pelaksanaan kegiatan.

Perkuat Kualitas dan Pemasaran Kopi Lokal

Pengembangan kopi Papua Tengah membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kualitas hasil panen dan akses pasar.

Melalui pembinaan teknis, petani diharapkan mampu menerapkan praktik budidaya yang lebih baik sejak pemilihan benih hingga perawatan tanaman. Di sisi lain, penguatan jaringan usaha dapat membuka peluang pemasaran yang lebih luas dan membantu petani menghadapi perubahan harga.

Festival Kopi Papua Tengah 2026 menjadi salah satu langkah awal untuk mempertemukan petani, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem usaha kopi yang lebih kuat.

Pemerintah Provinsi Papua Tengah berharap sinergi antara pembinaan teknis dan pengembangan jaringan pemasaran dapat mendorong pertumbuhan komoditas kopi secara berkelanjutan serta meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Dengan rencana pembinaan yang dilaksanakan secara bertahap hingga 2027, keberlanjutan program akan menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan potensi kopi lokal berkembang menjadi usaha perkebunan yang memiliki daya saing.

[Nabire.Net/Musa Boma]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.