PDAM Mati Sebulan, Warga Lagari Nabire Terpaksa Beli Air Bersih Rp150 Ribu per Drum
Nabire, Warga Lagari, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih setelah layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) terhenti selama sebulan. Kondisi ini memaksa warga mengandalkan air sumur yang debitnya terbatas hingga membeli air bersih dengan biaya tambahan.
Keterbatasan pasokan air tidak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, tetapi juga menambah beban pengeluaran warga, terutama mereka yang menjalankan usaha dengan kebutuhan air cukup tinggi.
Bude Siti, salah seorang warga Lagari, mengatakan air sumur yang menjadi sumber alternatif hanya mencukupi kebutuhan pada pagi hari. Memasuki siang, persediaan air mulai berkurang sehingga warga harus menghemat penggunaannya.

“Kalau air PDAM itu sudah satu bulan ini mati, jadi kita pakai air sumur. Air sumur pun hanya ada kalau pagi saja. Nanti sudah agak siang sedikit, sudah tidak ada, jadi kita hemat-hemat air untuk penggunaan air,” kata Siti saat ditemui di Nabire, Senin (27/10/2026).
Warga Terpaksa Membeli Air Bersih
Terhentinya layanan PDAM membuat warga harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika air sumur tidak mencukupi, membeli air bersih menjadi salah satu pilihan yang harus ditempuh.
Menurut Siti, satu drum air bersih dijual dengan harga Rp150.000. Namun, jumlah tersebut hanya dapat digunakan selama beberapa hari sehingga warga perlu kembali mengeluarkan biaya ketika persediaan habis.
“Kalau tidak, kita beli air bersih. Satu drum harganya Rp150.000, tapi itu cuma untuk berapa hari saja,” ujarnya.
Bagi warga dengan kebutuhan air yang besar, kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri. Selain untuk memasak, mandi, dan mencuci, air juga diperlukan untuk mendukung aktivitas ekonomi sehari-hari.

Siti yang menjalankan usaha warung mengaku membutuhkan air lebih banyak dibandingkan kebutuhan rumah tangga biasa. Ketika persediaan air sumur tidak mencukupi, ia terkadang terpaksa mencuci pakaian di kali.
Situasi ini memperlihatkan bagaimana gangguan layanan air bersih dapat memengaruhi berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari urusan domestik hingga kegiatan usaha.
Pengeluaran Air Meningkat
Siti menjelaskan, sebelum layanan PDAM terhenti, pengeluaran warga untuk membayar air berkisar Rp20.000 hingga Rp30.000 per bulan. Sementara itu, sebagai pemilik warung yang membutuhkan lebih banyak air, ia biasanya membayar sekitar Rp80.000 setiap bulan.
Kini, warga harus menghadapi pilihan antara membatasi pemakaian air yang tersedia atau membeli air dengan biaya yang jauh lebih besar.
Harga satu drum air bersih sebesar Rp150.000 menjadi beban tambahan, terutama karena persediaannya hanya mencukupi kebutuhan selama beberapa hari. Jika pembelian harus dilakukan berulang kali, pengeluaran untuk air berpotensi meningkat secara signifikan.

Kondisi tersebut juga menunjukkan pentingnya ketersediaan layanan air bersih yang dapat diandalkan untuk mendukung kehidupan masyarakat dan aktivitas ekonomi lokal.
Warga Membutuhkan Kepastian Layanan
Terhentinya pasokan PDAM selama sebulan, ditambah terbatasnya ketersediaan air sumur, membuat warga Lagari harus beradaptasi dengan kondisi yang menyulitkan.
Hingga informasi ini disusun, belum terdapat keterangan mengenai penyebab terhentinya layanan PDAM di wilayah tersebut maupun kepastian waktu pemulihan pasokan air.
Warga masih harus menghemat penggunaan air, mencari sumber alternatif, atau membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kepastian mengenai penyebab gangguan dan jadwal normalisasi layanan menjadi informasi penting yang dibutuhkan masyarakat. Pemulihan pasokan air diharapkan dapat membantu meringankan beban pengeluaran warga sekaligus mengembalikan kelancaran aktivitas rumah tangga dan usaha di Lagari, Kabupaten Nabire, Papua Tengah.
[Nabire.Net/Sitti Hawa]





Tinggalkan Komentar