Pemkab Nabire Latih 297 Kader Posyandu untuk Cegah Stunting dan Penyakit Menular
Nabire, Pemerintah Kabupaten Nabire, Papua Tengah, memperkuat peran kader Posyandu dalam mencegah stunting serta meningkatkan penanganan HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC), dan malaria. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan peningkatan kapasitas kelembagaan lembaga kemasyarakatan kampung dan kelurahan yang melibatkan 297 kader Posyandu dari 15 distrik.
Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Nabire itu berlangsung di Auditorium LPP RRI Nabire, Kamis (22/10/2026). Para peserta berasal dari 132 Posyandu yang selama ini menjadi salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat kampung dan kelurahan.
Kegiatan dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni 22–23 Oktober 2026. Pembukaan dilakukan oleh Wakil Bupati Nabire, Burhanuddin Pawennari, yang mewakili Bupati Nabire.

Turut hadir Kepala DPMK Kabupaten Nabire Pilemon Madai, perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida), Dinas Kesehatan, serta sejumlah instansi terkait.
Kader Posyandu Diminta Terapkan Pengetahuan di Lapangan
Kepala DPMK Kabupaten Nabire, Pilemon Madai, menekankan pentingnya keseriusan peserta dalam mengikuti seluruh materi yang diberikan selama kegiatan berlangsung.
Ia mengingatkan bahwa peningkatan kapasitas tidak boleh sekadar menjadi kegiatan seremonial. Para kader diharapkan memahami materi, aktif mengajukan pertanyaan apabila menemui hal yang belum jelas, serta menerapkan pengetahuan tersebut ketika menjalankan tugas di tengah masyarakat.
Menurut Pilemon, pembekalan ini menjadi kesempatan bagi kader untuk memperkuat kemampuan dalam mendukung pencegahan dan penanganan stunting, HIV/AIDS, TBC, serta malaria.
Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat membantu kader memberikan edukasi kesehatan kepada keluarga sekaligus memperkuat upaya deteksi dini terhadap berbagai persoalan kesehatan di lingkungan tempat tinggal mereka.
Kader Berperan sebagai Penghubung Masyarakat dan Tenaga Kesehatan
Dalam sambutan Bupati Nabire yang dibacakan Wakil Bupati Burhanuddin Pawennari, pemerintah daerah menegaskan bahwa pembangunan kesehatan merupakan fondasi penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Kader Posyandu dinilai memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan masyarakat, terutama ibu hamil, bayi, balita, dan keluarga yang membutuhkan pendampingan kesehatan.
Karena itu, kader diharapkan tidak hanya membantu pelaksanaan kegiatan Posyandu, tetapi juga menjadi penggerak edukasi kesehatan, pendamping keluarga, serta penghubung antara masyarakat dan tenaga kesehatan.
Peran tersebut dinilai penting untuk memastikan informasi kesehatan dapat diterima masyarakat dan keluarga yang membutuhkan pendampingan memperoleh akses pelayanan yang sesuai.
Kondisi Geografis Nabire Membutuhkan Pendekatan Berbeda
Burhanuddin juga menyoroti kondisi geografis Kabupaten Nabire yang mencakup kawasan perkotaan, pesisir dan kepulauan, hingga pegunungan dan wilayah pedalaman.
Keragaman karakteristik wilayah tersebut membutuhkan pendekatan pelayanan kesehatan yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat. Oleh sebab itu, pelaksanaan program kesehatan membutuhkan koordinasi antara kader Posyandu, pemerintah kampung dan kelurahan, pemerintah distrik, Puskesmas, serta tenaga kesehatan.
Keterlibatan tokoh adat, tokoh masyarakat, dan keluarga juga diperlukan untuk memperluas jangkauan edukasi serta mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kesehatan.
Melalui kerja sama tersebut, upaya pencegahan penyakit diharapkan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas, termasuk keluarga yang membutuhkan perhatian khusus.
Fokus pada Gizi, Deteksi Dini, dan Pencegahan Stigma
Dalam upaya menekan risiko stunting, kader Posyandu diharapkan memastikan ibu hamil, bayi, balita, dan keluarga berisiko memperoleh pendampingan yang memadai. Edukasi mengenai pemenuhan gizi dan pola pengasuhan yang tepat juga menjadi bagian penting dari upaya tersebut.
Sementara itu, pencegahan dan penanganan HIV/AIDS serta TBC perlu didukung melalui penyebaran informasi yang benar dan dorongan untuk melakukan pemeriksaan dini.
Edukasi juga harus disertai upaya menghindari stigma dan diskriminasi terhadap orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Lingkungan yang mendukung diharapkan dapat membantu masyarakat mencari informasi dan mengakses layanan kesehatan tanpa rasa takut terhadap perlakuan diskriminatif.
Untuk pencegahan malaria, masyarakat didorong menjaga kebersihan lingkungan, melindungi diri dari gigitan nyamuk, serta memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada penyakit tersebut.
Langkah-langkah ini membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat agar pencegahan penyakit tidak hanya bergantung pada pelayanan fasilitas kesehatan, tetapi juga menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Pemkab Nabire Harapkan Hasil Pelatihan Berkelanjutan
Pemerintah Kabupaten Nabire berharap kegiatan peningkatan kapasitas tersebut menghasilkan perubahan nyata dalam pelaksanaan pelayanan Posyandu, bukan sekadar menambah pengetahuan peserta selama pelatihan.
Sebanyak 297 kader dari 132 Posyandu di 15 distrik diharapkan dapat menerapkan materi yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan masyarakat di wilayah masing-masing.
Melalui penguatan kapasitas kader, pemerintah daerah menargetkan peningkatan peran kelembagaan masyarakat dalam mendukung program kesehatan, memperluas edukasi keluarga, serta membantu upaya pencegahan stunting dan penyakit menular.
Keberlanjutan upaya tersebut akan bergantung pada penerapan pengetahuan di lapangan dan koordinasi antara kader, pemerintah setempat, serta tenaga kesehatan.
Kegiatan yang berlangsung pada 22–23 Oktober 2026 ini menjadi salah satu upaya Pemkab Nabire untuk memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pembangunan kesehatan dan mendorong terwujudnya masyarakat yang sehat, produktif, dan sejahtera.
[Nabire.Net/Musa Boma]





Tinggalkan Komentar