Jembatan Kali Degeuwo Putus, Warga Kampung Tibai Nabire Minta Perhatian Pemerintah
Nabire, Jembatan gantung di Kali Degeuwo, KM 165 Jalan Trans Nabire–Paniai, dilaporkan putus pada Selasa (13/10/2026). Kerusakan yang diduga dipicu tumbangnya pohon akibat kebakaran hutan di tengah kemarau panjang itu mengancam akses transportasi masyarakat Kampung Tibai, Distrik Siriwo, Kabupaten Nabire, Papua Tengah.
Putusnya jembatan di wilayah barat Diyaikunu tersebut menjadi perhatian warga karena jalur penyeberangan itu merupakan satu-satunya akses untuk menunjang mobilitas masyarakat setempat. Warga kini berharap pemerintah segera turun tangan agar aktivitas sehari-hari tidak terus terganggu.
Diduga Rusak Akibat Pohon Tumbang
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kerusakan jembatan terlihat dari material kayu yang berserakan dan bagian konstruksi yang roboh di sekitar aliran Kali Degeuwo.
Pohon yang diduga tumbang setelah terdampak kebakaran hutan disinyalir menghantam konstruksi jembatan hingga menyebabkan kerusakan. Peristiwa ini terjadi ketika wilayah tersebut mengalami musim kemarau yang telah berlangsung sekitar lima bulan.
Meski demikian, penyebab pasti kerusakan masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan langsung di lokasi.
Dibangun Swadaya, Kini Kembali Rusak
Intelektual Kampung Tibai, Yulianus Tagi, meminta Pemerintah Kabupaten Nabire dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah memberikan perhatian serius terhadap kondisi tersebut.
Ia menjelaskan, jembatan itu sebelumnya dibangun secara swadaya oleh masyarakat pada 2024. Pembangunan dilakukan setelah jembatan terdahulu terputus akibat banjir.
Dengan keterbatasan yang dimiliki, warga bergotong royong membangun kembali jembatan tersebut agar akses penyeberangan tetap tersedia dan kegiatan masyarakat dapat berjalan.
Namun, baru dua tahun berselang, jembatan itu kembali mengalami kerusakan. Kali ini, warga menduga pohon yang terdampak kebakaran hutan tumbang dan menimpa konstruksi jembatan.
“Jembatan yang putus bukan hanya memutus jalan penyeberangan, tetapi juga menghambat harapan dan kehidupan masyarakat Kampung Tibai. Kami tidak meminta kemewahan, kami hanya mengharapkan perhatian dan tindakan nyata dari pemerintah,” ujar Yulianus Tagi.
Minta Pembangunan Menjangkau Kampung Terpencil
Yulianus menegaskan, pembangunan infrastruktur harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga yang tinggal di kampung-kampung terpencil.
Menurutnya, ketersediaan akses transportasi yang aman dan layak merupakan bagian penting dari pelayanan publik. Infrastruktur tersebut dibutuhkan masyarakat untuk mendukung mobilitas serta memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Pembangunan bukan hanya tentang mendirikan gedung di pusat kota, tetapi juga tentang menghadirkan akses, keselamatan, dan keadilan bagi masyarakat di kampung-kampung terpencil,” katanya.
Ia berharap pemerintah segera meninjau lokasi, mengevaluasi tingkat kerusakan, dan menyiapkan langkah konkret untuk membangun kembali jembatan gantung Kali Degeuwo.
Dampak Kemarau dan Kebakaran Hutan Jadi Perhatian
Kerusakan jembatan ini juga menjadi pengingat bahwa kebakaran hutan dan kemarau panjang berpotensi menimbulkan dampak lanjutan terhadap lingkungan dan infrastruktur yang digunakan masyarakat.
Warga berharap pemerintah tidak hanya menangani kerusakan jembatan, tetapi juga memberikan perhatian terhadap risiko lingkungan di wilayah Distrik Siriwo.
Masyarakat Kampung Tibai kini menantikan peninjauan dan tindak lanjut dari pemerintah daerah maupun Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Hingga informasi ini disusun, belum ada keterangan mengenai jadwal perbaikan atau pembangunan kembali jembatan tersebut.
Bagi warga Kampung Tibai, pemulihan jembatan gantung Kali Degeuwo menjadi kebutuhan mendesak agar akses penyeberangan kembali tersedia dan kehidupan masyarakat dapat berjalan normal.
[Nabire.Net/Marten Dogomo]





Tinggalkan Komentar