Yayasan Matahari Nabire Buka Peluang Kerja bagi Difabel Lewat Depot Air Minum
Nabire, Yayasan Peduli Difabel Yatim/Piatu dan Anak Putus Sekolah Indonesia terus memperluas pelayanan sosial bagi penyandang disabilitas dan anak-anak yang membutuhkan pendampingan di Kabupaten Nabire dan wilayah Papua Tengah. Melalui pembukaan Depot Air Minum Tirta Matahari, yayasan berupaya menghadirkan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas sekaligus mendorong kemandirian mereka.
Ketua Yayasan, Maria Yatiasa Putri Kapitarauw, S.Sos., M.M., menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan peresmian Depot Air Minum Tirta Matahari yang dirangkaikan dengan makan bersama anak-anak difabel dan anak berkebutuhan khusus di Graha Kelapa Dua, Nabire, Senin (12/10/2026).
Maria menjelaskan, usaha tersebut tidak semata-mata berorientasi pada kegiatan ekonomi, tetapi juga menjadi sarana untuk memberikan ruang bagi penyandang disabilitas agar dapat bekerja, mengembangkan keterampilan, dan memperoleh penghasilan secara layak.

“Tujuan saya membuka depot air ini adalah untuk teman-teman difabel agar mereka memiliki kesempatan bekerja. Mereka tidak boleh dipandang sebelah mata,” ujar Maria.
Ia berharap pemerintah daerah dan organisasi perangkat daerah terkait dapat bekerja sama dengan yayasan untuk memperluas akses pekerjaan bagi penyandang disabilitas di Papua Tengah.
Berawal dari Kepedulian terhadap Penyandang Disabilitas
Pelayanan yang dikembangkan Yayasan Matahari berawal dari kepedulian Maria ketika pertama kali datang ke Nabire pada 2012. Saat itu, ia sering menjumpai penyandang disabilitas di berbagai tempat dan mulai memikirkan cara membantu mereka.
Maria mengaku tidak memiliki kemampuan finansial untuk memberikan bantuan materi secara terus-menerus. Namun, ia percaya pengetahuan dan pendidikan yang dimilikinya dapat menjadi bekal untuk melayani orang lain.
“Waktu itu saya berpikir, apa yang bisa saya lakukan untuk mereka? Saya bukan orang kaya yang selalu bisa memberikan sembako atau uang. Namun, saya percaya Tuhan memberikan saya ilmu yang bisa saya bagikan kepada orang lain,” ungkapnya.
Bersama relawan dan sejumlah aktivis, Maria kemudian melakukan pelayanan dari kampung ke kampung di Papua. Bantuan yang diberikan meliputi kursi roda, alat bantu bagi penyandang disabilitas, serta kebutuhan pokok.
Pelayanan tersebut terus berkembang hingga menjangkau sekitar 300 penyandang disabilitas dari berbagai wilayah Papua. Perkembangan ini mendorong pembentukan organisasi dengan legalitas resmi agar kegiatan sosial dapat berjalan lebih terarah.
Kembangkan Pendidikan Inklusi dan Kesetaraan
Selain pelayanan sosial, yayasan mengembangkan akses pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus dan mereka yang belum memperoleh kesempatan belajar secara memadai.
Pada 2017, Maria bersama tim memulai program difabel homeschooling. Karena belum mempunyai gedung sekolah sendiri, mereka mendatangi rumah warga dan kampung untuk memberikan pendidikan secara gratis.
Program tersebut kemudian berkembang dengan menjangkau anak-anak putus sekolah. Yayasan turut mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Muda-Mudi Papua Hebat yang menyediakan pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C.
Saat ini, layanan pendidikan Yayasan Matahari meliputi PAUD, TK, SD Inklusi Matahari, SLB Matahari, serta program pendidikan kesetaraan.
Maria menjelaskan, kebutuhan pelayanan semakin berkembang ketika anak-anak dari wilayah pedalaman yang terdampak konflik mulai berdatangan dan membutuhkan tempat tinggal, makanan, serta perlindungan.
“Saya sebenarnya tidak pernah mencari anak-anak ini. Mereka datang sendiri. Saya percaya kalau Tuhan sudah mengirimkan mereka, Tuhan juga akan memelihara mereka melalui orang-orang baik,” tuturnya.
Sekitar 100 Anak Mendapatkan Pendampingan
Anak-anak yang berada dalam pelayanan Asrama Inklusi Matahari berasal dari sejumlah wilayah Papua, antara lain Ugimba, Bilai, Wandai, dan Sugapa di Kabupaten Intan Jaya, wilayah Puncak, Mamberamo, hingga Biak.
Saat ini, sekitar 100 anak mendapatkan pendampingan sehari-hari. Untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka, yayasan membutuhkan sekitar 20 kilogram beras setiap hari.
Menurut Maria, sebagian anak yang sebelumnya mengalami gizi buruk, gangguan pertumbuhan, maupun keterbatasan fisik menunjukkan perkembangan setelah memperoleh pendampingan, pendidikan, dan terapi.
Meski demikian, kebutuhan operasional untuk pengasuhan dan pendidikan terus meningkat. Karena itu, dukungan masyarakat, relawan, donatur, dan pemerintah dinilai penting agar pelayanan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Harapkan Dukungan Pemerintah dan Masyarakat
Maria berharap semakin banyak pihak terlibat dalam pemenuhan kebutuhan dasar anak-anak, termasuk makanan bergizi, pendidikan, perlindungan, dan pendampingan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Ia menegaskan bahwa anak-anak tersebut perlu memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, mengembangkan kemampuan, dan menjadi pribadi mandiri.
“Harapan saya, kita bisa bersama-sama merawat dan menghidupi anak-anak ini supaya mereka dapat hidup dengan layak, bersekolah, dan suatu saat menjadi orang-orang yang mandiri, diberkati, serta menjadi berkat bagi orang lain,” katanya.
Peresmian Depot Air Minum Tirta Matahari menjadi bagian dari upaya yayasan memperluas manfaat pelayanan sosial. Melalui pengembangan usaha yang melibatkan penyandang disabilitas serta dukungan terhadap pendidikan anak berkebutuhan khusus, Yayasan Matahari berharap kepedulian dan kesempatan yang setara semakin berkembang di Nabire dan Papua Tengah.
[Nabire.Net/Marten Dogomo]





Tinggalkan Komentar