14 Tahun Mengabdi di Nabire, Yeti Perjuangkan Pendidikan Gratis untuk Anak Disabilitas
Nabire, Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, anak yatim piatu, dan mereka yang sempat meninggalkan bangku sekolah masih menghadapi berbagai tantangan. Di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Maria Yetiasaputri Kapitarauw memilih menjawab persoalan itu dengan membangun layanan pendidikan dan sosial yang terintegrasi.
Perempuan yang akrab disapa Yeti tersebut telah mengabdikan dirinya selama 14 tahun melalui Yayasan Pendidikan Di Fabel (YPD). Baginya, anak-anak dengan kondisi dan latar belakang berbeda tidak semestinya ditempatkan sebagai kelompok yang hanya membutuhkan belas kasihan.
Mereka, kata Yeti, memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan, kasih sayang, sekaligus kesempatan membangun masa depan.

“Sebagian orang mungkin memandang anak yatim piatu, putus sekolah sebelah mata. Tetapi bagi saya, ini pekerjaan yang tidak biasa. Mereka layak mendapatkan hak yang setara sebagai anak,” kata Yeti saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (6/10/2026).
Dari pendidikan usia dini hingga pendidikan kesetaraan
Komitmen tersebut diwujudkan YPD melalui berbagai satuan pendidikan. Yayasan itu saat ini menaungi PAUD, TK, SD Inklusi Matahari, SLB Matahari, serta pusat kegiatan belajar masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C.

Kehadiran pendidikan kesetaraan menjadi salah satu jalur bagi anak maupun masyarakat yang sebelumnya tidak dapat melanjutkan sekolah formal.

Program tersebut memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk kembali mengikuti proses pembelajaran sekaligus memperoleh ijazah melalui jalur pendidikan nonformal.
“Jadi kami di sini ada PAUD, TK, SD, SLB, dan juga Paket Kesetaraan A, B, C,” ujar Yeti.
Saat ini, sekitar 265 anak mendapatkan layanan dari berbagai unit pendidikan yang berada di bawah yayasan. Mereka dilayani sekitar 26 tenaga pendidik.
Untuk program pendidikan kesetaraan, kegiatan pembelajaran dilaksanakan dua kali dalam satu pekan.
Pendidikan inklusif dipadukan dengan terapi
Yang membedakan layanan YPD bukan hanya keberadaan sekolah. Yayasan tersebut juga mengembangkan Matahari Therapy Center, yang menyediakan layanan terapi untuk anak berkebutuhan khusus.
Terapi diberikan sesuai kebutuhan masing-masing anak, mulai dari aspek fisik, motorik, perilaku hingga kemampuan komunikasi.

Dalam pelaksanaannya, layanan tersebut didukung tenaga profesional, termasuk dokter anak, dokter utama, perawat, terapis dan psikolog.
Sejumlah layanan yang tersedia antara lain terapi ADHD, terapi wicara, behavior therapy, psikologi, hingga hipnoterapi.
YPD juga terlibat dalam Unit Layanan Disabilitas (ULD) melalui kerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah.
Layanan terapi tersebut tidak hanya terbuka bagi peserta didik YPD. Sekolah lain yang memiliki siswa berkebutuhan khusus juga dapat merujuk anak mereka untuk mendapatkan layanan di Matahari Therapy Center.
“Kami berharap masyarakat Nabire tidak perlu khawatir lagi kalau memiliki anak berkebutuhan khusus. Tidak perlu harus ke luar daerah untuk mendapatkan pengobatan atau perawatan. Silakan datang ke kami,” kata Yeti.
Bagi masyarakat tertentu, layanan tersebut bahkan diberikan tanpa biaya. Anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga kurang mampu dan orang asli Papua dapat memperoleh layanan secara gratis.
Satu kelas ditangani dua guru
Konsep pendidikan inklusi yang diterapkan YPD juga memerlukan pendekatan berbeda dalam proses pembelajaran.
Dalam satu kelas, setidaknya terdapat dua tenaga pengajar yang terdiri atas wali kelas dan guru pendamping. Sistem tersebut memungkinkan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus mendapatkan perhatian lebih selama proses belajar.
Ketersediaan tenaga kesehatan dan terapis juga menjadi bagian dari sistem pelayanan.

Ketika seorang anak mengalami kondisi tertentu, termasuk tantrum atau membutuhkan penanganan kesehatan, tenaga yang tersedia di klinik terapi dapat segera memberikan bantuan.
Dengan konsep tersebut, pendidikan tidak hanya dipahami sebagai kegiatan akademik, tetapi juga mencakup aspek kesehatan, perilaku, perkembangan motorik, dan kemampuan sosial anak.
Tantangan terbesar: pembiayaan
Di balik layanan yang diberikan tanpa pungutan, terdapat persoalan yang terus dihadapi yayasan, yakni pembiayaan.
Sejumlah satuan pendidikan di bawah YPD disebut belum memperoleh Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Salah satunya adalah SLB Matahari yang menurut Yeti belum pernah menerima dana BOS.
Kondisi tersebut membuat yayasan harus mencari sumber pembiayaan lain untuk memenuhi berbagai kebutuhan operasional.
Mulai dari honor guru dan terapis, perlengkapan belajar, peralatan terapi, hingga kebutuhan dasar seperti listrik dan air harus tetap dipenuhi.
“Kalau kendala, yang jelas secara finansial. Beberapa satuan pendidikan ini belum mendapatkan dana BOS. Misalnya SLB, kami belum pernah mendapatkan dana BOS,” ujar Yeti.
Persoalan menjadi semakin kompleks karena sekolah yang dikelola yayasan tidak memungut SPP.
Bahkan kebutuhan sederhana seperti alat tulis pun harus masuk dalam perhitungan operasional yayasan.
Meski demikian, Yeti mengatakan kondisi tersebut tidak membuat pelayanan dihentikan.
“Selama 14 tahun kami pelayanan di Nabire ini, kami tidak pernah sampai kekurangan. Selalu Tuhan kasih jalan. Mukjizat pasti ada,” katanya.
Tak hanya sekolah, penyandang disabilitas juga diberdayakan
Perhatian YPD tidak berhenti pada anak-anak. Yayasan tersebut juga mengembangkan program pemberdayaan ekonomi bagi penyandang disabilitas dewasa.
Melalui UMKM dan koperasi produsen, para penyandang disabilitas dilatih menghasilkan produk sesuai kemampuan mereka.

Produk tersebut kemudian dipasarkan melalui Griya Kreasi, yang memiliki dua lokasi gerai. Salah satunya berada di Jalan Pemuda dengan dukungan PLN, sedangkan gerai lainnya berada di lingkungan yayasan.
Program tersebut dirancang agar penyandang disabilitas tidak selamanya berada dalam posisi sebagai penerima bantuan.
Mereka juga didorong memiliki keterampilan, menghasilkan karya, bekerja, dan memperoleh penghasilan sendiri.
Dukungan pemerintah masih dibutuhkan
Untuk menjalankan berbagai layanan tersebut, YPD juga membutuhkan dukungan dari pemerintah dan masyarakat.
Yeti menyebut Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah telah memberikan sejumlah dukungan, antara lain pembangunan asrama, penambahan ruang kelas, bantuan meja dan kursi, serta pelatihan bagi tenaga pendidik.
Namun, menurut Yeti, dukungan langsung dari pemerintah kabupaten terhadap Sekolah Inklusi Matahari dan SLB Matahari sejauh ini belum tersedia.
“Dari Dinas Pendidikan Kabupaten sampai sejauh ini belum ada alokasi langsung ke Sekolah Inklusi Matahari maupun SLB Matahari. Kalau dari kabupaten belum ada,” ujarnya.
Persoalan transportasi juga pernah menjadi tantangan. Kini yayasan telah memiliki kendaraan yang digunakan untuk mengantar dan menjemput anak berkebutuhan khusus maupun penyandang disabilitas dari rumah ke sekolah.
Mengubah cara pandang terhadap disabilitas
Selama 14 tahun, perjuangan Yeti bersama YPD pada akhirnya tidak sekadar berkaitan dengan pembangunan sekolah.
Ada misi yang lebih besar, yakni mengubah cara masyarakat memandang anak-anak yang selama ini dianggap berbeda.
Anak yang kehilangan orang tua tetap berhak memperoleh pendidikan. Anak yang pernah putus sekolah tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan masa depan. Anak berkebutuhan khusus membutuhkan dukungan, bukan stigma.
Begitu pula penyandang disabilitas tidak harus selalu ditempatkan sebagai penerima bantuan.
Melalui pendidikan, terapi dan pemberdayaan ekonomi, Yeti berupaya membuka ruang agar kelompok tersebut dapat berkembang sesuai kemampuan masing-masing.
Di tengah persoalan pembiayaan dan keterbatasan dukungan, layanan itu masih terus berjalan.
Perjalanan 14 tahun YPD di Nabire menunjukkan bahwa pendidikan inklusif bukan hanya soal menyediakan ruang kelas. Lebih jauh, pendidikan inklusif membutuhkan keberanian untuk menerima perbedaan, menyediakan layanan yang sesuai kebutuhan, dan memastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang setara.
[Nabire.Net/Sitti Hawa]





Tinggalkan Komentar