Pemkab Deiyai Paparkan Konsep MBG Berbasis Pangan Lokal kepada Dua Menteri
Jakarta, Kabupaten Deiyai membawa gagasan mengenai Makanan Bergizi Gratis (MBG) berbasis pangan lokal Papua ke panggung nasional. Konsep tersebut diperkenalkan dalam ajang Kriya Nusa 2026 di Jakarta, dengan mengangkat sejumlah bahan pangan khas Deiyai sebagai bagian dari alternatif menu bergizi bagi masyarakat.
Gagasan itu disampaikan Sekretaris Dinas P3AKB Kabupaten Deiyai, Pebur Mote, S.Kep., M.Kes., ketika menerima kunjungan Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana di Stand Kabupaten Deiyai, Jakarta International Convention Center (JICC), Minggu (27/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Pebur menjelaskan bahwa Deiyai memiliki sejumlah sumber pangan lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi berbagai menu bergizi. Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah buah merah, komoditas khas Papua yang selama ini telah dikenal sebagai salah satu sumber pangan lokal masyarakat.
Menurut Pebur, buah merah dapat dikembangkan tidak hanya dalam bentuk olahan tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari inovasi pangan yang mendukung konsep MBG. Sejumlah produk yang diperkenalkan antara lain olahan telur berbahan buah merah, sayur hitam atau Uguboo/Naapo, saus dan sambal buah merah, serta produk berbahan ikan dari Danau Tigi.
“Untuk buat MBG ala Deiyai, kami siap. Yang penting bahan lokal yang banyak gizinya seperti buah merah,” kata Pebur.
Dorong Diversifikasi Pangan Lokal
Konsep yang dibawa Deiyai tidak berhenti pada penggunaan buah merah sebagai bahan makanan. Pemerintah daerah juga melihat peluang untuk mengembangkan berbagai turunannya sehingga memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Buah merah, misalnya, dapat diolah menjadi minyak, sari, saus maupun sambal. Bahkan bagian lain dari proses pengolahannya masih dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk pangan atau olahan lanjutan.
Sementara itu, potensi perikanan Danau Tigi juga diperkenalkan sebagai bagian dari gagasan tersebut. Ikan yang berasal dari danau tersebut disebut dapat dikembangkan menjadi produk olahan seperti bakso yang dipadukan dengan bahan pangan lokal.
Pendekatan ini sekaligus menunjukkan upaya Deiyai untuk menghubungkan program pemenuhan gizi dengan potensi sumber daya yang tersedia di daerah.
Alih-alih sepenuhnya bergantung pada bahan pangan dari luar wilayah, pengembangan konsep tersebut membuka peluang agar sebagian kebutuhan bahan pangan dapat dipenuhi melalui produksi masyarakat setempat.
Libatkan Mama-Mama Deiyai
Aspek pemberdayaan masyarakat menjadi bagian penting dari konsep MBG yang diperkenalkan Deiyai. Dinas P3AKB Kabupaten Deiyai menyatakan kesiapan untuk melibatkan Mama-Mama Deiyai dalam pengolahan dan pengembangan produk pangan lokal.
Keterlibatan masyarakat perempuan dinilai dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Selain mendukung penyediaan makanan, aktivitas pengolahan bahan pangan juga berpotensi menciptakan kegiatan ekonomi baru di tingkat masyarakat.
“Kami Dinas DP3AKB Deiyai akan berdayakan seluruh Mama-Mama Deiyai untuk kelola bagi generasi muda Deiyai,” ujar Pebur.
Dengan pendekatan tersebut, rantai pangan diharapkan tidak hanya berhenti pada konsumsi. Bahan yang berasal dari kebun, danau, maupun lingkungan masyarakat dapat diolah menjadi produk bernilai tambah sebelum disajikan kepada generasi muda.
Buku Pangan Khas Deiyai Diserahkan ke Pemerintah Pusat
Dalam kesempatan yang sama, Pebur Mote menyerahkan buku berjudul “Makanan Bergizi Khas Deiyai” kepada Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.
Buku tersebut menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan kekayaan pangan Deiyai kepada pemerintah pusat sekaligus memperlihatkan potensi bahan pangan lokal Papua dari perspektif daerah.
Kunjungan tersebut turut dihadiri Ketua Harian Dekranas, Tri Tito Karnavian.
Kehadiran sejumlah pejabat pemerintah pusat di Stand Deiyai menjadi kesempatan bagi pemerintah kabupaten untuk memperkenalkan potensi daerah dalam cakupan yang lebih luas.
Jika selama ini Kriya Nusa identik dengan kerajinan tangan dan produk budaya, Deiyai mencoba membawa narasi tambahan melalui pangan lokal. Noken, kerajinan, budaya, kuliner, dan pemberdayaan masyarakat diperkenalkan sebagai bagian yang saling berkaitan.
Pangan Lokal Papua Dibawa ke Panggung Nasional
Kriya Nusa 2026 berlangsung di JICC Jakarta pada 26–30 September 2026. Ajang tersebut mempertemukan berbagai daerah dan pelaku usaha melalui ratusan booth yang menampilkan produk kerajinan serta potensi daerah.
Bagi Deiyai, keikutsertaan dalam kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas daerah tidak hanya melalui produk kerajinan, tetapi juga melalui kekayaan pangan.
Gagasan MBG berbasis pangan lokal yang diperkenalkan di Jakarta menunjukkan adanya upaya menghubungkan kebutuhan pangan bergizi dengan potensi ekonomi masyarakat daerah.
Dari buah merah hingga ikan Danau Tigi, Deiyai membawa bahan pangan yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat ke ruang yang lebih luas.
Konsep tersebut selanjutnya membutuhkan pembahasan dan pengembangan lebih lanjut apabila hendak diterapkan secara nyata, termasuk terkait standar gizi, pengolahan, keamanan pangan, ketersediaan bahan baku, serta mekanisme pelibatan masyarakat.
Namun, dari Stand Deiyai di Kriya Nusa 2026, satu pesan telah disampaikan: pangan lokal Papua memiliki peluang untuk menjadi bagian dari inovasi pemenuhan gizi sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.
[Nabire.Net]





Tinggalkan Komentar