DLH Nabire Beli Botol Plastik Warga, Bisa Jadi Tabungan Rp1.200 per Kilogram
Nabire, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nabire mulai mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah plastik. Botol plastik yang selama ini identik dengan limbah kini diarahkan menjadi barang bernilai ekonomi yang dapat dikumpulkan, ditimbang, dan ditabung oleh masyarakat.
Kepala DLH Kabupaten Nabire, Arfan Natan Palumpun, mengatakan pihaknya telah menguji mesin pengepres botol plastik yang dimiliki pemerintah daerah. Setelah dinyatakan dapat beroperasi, mesin tersebut akan digunakan untuk mendukung pengumpulan dan pengiriman botol plastik ke Surabaya.
Arfan mengajak masyarakat mulai menyimpan botol plastik yang masih memiliki nilai jual.
“Masyarakat ayo kumpul botol plastik, kita beli. Atau bikin tabungan per kilogram Rp1.200,” kata Arfan saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (15/9/2026).
Bank Sampah Jadi Titik Pengumpulan
Program tersebut akan dijalankan melalui pembentukan bank sampah unit di tingkat kelurahan dan sekolah. Masyarakat dapat menyerahkan botol plastik yang dikumpulkan untuk kemudian ditimbang dan dicatat sebagai saldo tabungan.
Menurut Arfan, mekanisme tersebut diharapkan membuat masyarakat memiliki alasan ekonomi untuk tidak membuang botol plastik sembarangan.
Jika volume botol yang terkumpul sudah memenuhi jumlah tertentu, DLH Nabire akan membantu proses pengangkutan dari lokasi bank sampah.
“Kita kerja sama dengan sekolah-sekolah. Sekolah bikin bank sampah unit, ada pengurusnya. Nanti kalau sudah penuh, telepon kami, kami datang jemput,” ujarnya.
Pembayaran dilakukan setelah hasil penjualan plastik kepada pembeli di Surabaya diterima DLH. Setiap setoran tetap dicatat berdasarkan berat plastik yang dikumpulkan sehingga masyarakat dapat mengetahui jumlah tabungannya.
Target Kirim 60 Ton Plastik ke Surabaya
Untuk mendukung program tersebut, DLH Nabire telah memiliki pembeli atau offtaker di Surabaya. Pengiriman perdana ditargetkan berlangsung pada Oktober 2026 dengan kapasitas sekitar satu kontainer.
DLH menargetkan satu kontainer dapat diisi hingga sekitar 60 ton botol plastik. Target volume tersebut penting karena biaya logistik menjadi salah satu tantangan utama dalam pengiriman sampah dari Nabire ke Pulau Jawa.
Pemerintah daerah kemudian memanfaatkan fasilitas Tol Laut melalui Pelni untuk menekan biaya distribusi.
Arfan menyebut pengiriman menggunakan kargo biasa dapat mencapai sekitar Rp19 juta untuk satu kontainer. Sementara melalui skema Tol Laut, biaya yang dikeluarkan diperkirakan hanya sekitar Rp4 juta.
“Kalau menggunakan kargo biasa mengirim sampah ke Jawa, satu kontainer bisa Rp19 juta. Kalau menggunakan Tol Laut hanya sekitar Rp4 juta. Jadi sangat menghemat ongkos pengiriman,” jelasnya.
Mesin pengepres yang digunakan DLH secara khusus diperuntukkan bagi botol plastik, termasuk botol air mineral dan kemasan minuman lainnya, bukan untuk mengolah kaleng.
Volume Sampah Nabire Capai 100 Ton per Hari
Program pengelolaan plastik ini dinilai semakin penting seiring meningkatnya volume sampah di Nabire. Setelah Nabire menjadi ibu kota Provinsi Papua Tengah, aktivitas masyarakat dan kegiatan ekonomi ikut berkembang.
DLH mencatat volume sampah yang sebelumnya sekitar 70 ton per hari kini berada pada kisaran 80 hingga 100 ton per hari.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan proses pengangkutan ke tempat pembuangan. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi perlu dipisahkan sejak dari sumbernya.
“Artinya sampah ini kita harus kelola. Kalau tidak dikelola, sampah di Nabire akan terus menumpuk,” tegas Arfan.
Selain membantu mengurangi sampah plastik, hasil penjualan juga berpotensi memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
34 Sekolah Adiwiyata Didorong Bentuk Bank Sampah
DLH Nabire juga menjadikan sekolah Adiwiyata sebagai salah satu sasaran utama program. Saat ini terdapat sekitar 34 sekolah Adiwiyata dari jenjang SD hingga SMA yang telah terdata dan terdaftar di kementerian.
Sekolah dinilai memiliki potensi besar dalam pengumpulan botol plastik karena aktivitas siswa setiap hari menghasilkan cukup banyak sampah kemasan.
“Sekolah ini lebih mudah. Pembinaan anak-anak sekolah lebih mudah,” kata Arfan.
DLH berencana membantu menyediakan timbangan, buku tabungan, spanduk, serta fasilitas pendukung lainnya. Sekolah tidak diharapkan menanggung sendiri biaya pembentukan bank sampah.
Distributor Minuman Didorong Terlibat
DLH juga mengajak perusahaan dan distributor minuman mengambil bagian melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Distributor dinilai memiliki peran penting dalam rantai pengelolaan sampah karena produk yang mereka edarkan menggunakan kemasan plastik yang akhirnya menjadi limbah di tengah masyarakat.
Dukungan perusahaan dapat diberikan dalam bentuk penyediaan fasilitas bank sampah maupun bantuan kepada kelompok masyarakat yang aktif mengumpulkan botol plastik.
Program ini diharapkan tidak berhenti pada target pengiriman plastik ke Surabaya. DLH Nabire ingin membangun kebiasaan baru, yakni melihat sampah sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan.
Dengan sistem bank sampah, insentif ekonomi, mesin pengepres, serta dukungan logistik Tol Laut, botol plastik diharapkan tidak lagi berakhir sebagai sampah yang menumpuk, tetapi dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus membantu menjaga kebersihan lingkungan Nabire.
[Nabire.Net/Sitti Hawa]





Tinggalkan Komentar