Papua Tengah Dikepung 246 Titik Panas Efek El Nino, Warga Diingatkan Stop Bakar Sampah dan Lahan
Nabire, Sebanyak 246 titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah Papua Tengah sepanjang 10–19 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, Kabupaten Nabire menjadi salah satu wilayah dengan temuan hotspot cukup tinggi, yakni mencapai 113 titik. Tiga di antaranya masuk dalam kategori berisiko tinggi.
Banyaknya titik panas tersebut menjadi perhatian karena berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di tengah kondisi cuaca yang semakin kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nabire mengaitkan kondisi tersebut dengan pengaruh fenomena El Nino yang turut memperkuat kondisi kemarau di wilayah Papua Tengah.
Asap Mulai Dikeluhkan Warga
Kemunculan sejumlah titik panas disebut turut berkaitan dengan kondisi udara berasap yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Nabire. Salah satu lokasi yang mendapat perhatian berada di kawasan Karadiri, Distrik Wanggar.
Pada Kamis siang, warga melaporkan adanya kepulan asap di sekitar kawasan tersebut. Lokasi itu berada tidak jauh dari kawasan pembangunan pusat pemerintahan Provinsi Papua Tengah serta area Bandara Baru Nabire.
Situasi tersebut menjadi perhatian karena asap bukan hanya berdampak terhadap kualitas udara, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan apabila menyebar hingga kawasan bandara.

BMKG Nabire mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan seiring meningkatnya potensi periode kering yang lebih panjang. Warga juga diminta tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan menggunakan api.
Jika menemukan titik api atau melihat indikasi kebakaran, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada instansi terkait. Penanganan sejak awal dinilai penting untuk mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Bagi masyarakat yang berada di kawasan dengan konsentrasi asap tinggi, penggunaan masker juga dianjurkan untuk mengurangi paparan asap dan partikel di udara.
El Nino dan Monsun Australia Perkuat Kemarau
Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Douw Aturure Nabire, Danni Wiai, menjelaskan bahwa kondisi kering saat ini tidak berdiri sendiri. Ada dua fenomena atmosfer yang ikut berperan, yakni El Nino dan penguatan Monsun Australia.
El Nino merupakan fenomena meningkatnya suhu permukaan laut di kawasan tengah dan timur Samudra Pasifik. Perubahan tersebut dapat memengaruhi pola pergerakan udara dan distribusi uap air sehingga pembentukan awan hujan di Indonesia menjadi berkurang.
“Saat ini sedang berlangsung fenomena El Nino. Fenomena ini merupakan naiknya suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur sehingga aliran udara dari wilayah Indonesia bergerak ke arah Pasifik Timur,” jelas Danni.
Di sisi lain, Monsun Australia membawa massa udara yang relatif kering dari wilayah Australia menuju Indonesia. Kondisi ini umumnya berkontribusi terhadap periode musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia.
Menurut Danni, ketika El Nino dan Monsun Australia berlangsung bersamaan, kondisi kering dapat menjadi lebih kuat. Dampaknya, musim kemarau berpotensi berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
“Karena El Nino dan Monsun Australia terjadi secara bersamaan, keduanya saling menguatkan sehingga musim kemarau menjadi lebih panjang dibandingkan kondisi normal,” ujarnya.
BMKG memperkirakan pengaruh El Nino masih dapat berlangsung hingga akhir 2026. Dampak fenomena tersebut bahkan diperkirakan masih terasa hingga awal 2027.
Bupati Nabire Ingatkan Warga Tidak Membakar Lahan
Kekhawatiran terhadap potensi kebakaran juga sebelumnya disampaikan Bupati Nabire, Mesak Magai.
Mesak meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menghentikan kegiatan pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran. Imbauan tersebut disampaikannya setelah mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Kodim Sapta Marga Nabire pada Senin, 17 Agustus 2026.
Menurutnya, kondisi lahan yang lebih kering membuat api dapat lebih cepat menyebar, khususnya ketika pembakaran dilakukan di sekitar material yang mudah terbakar.
Karena itu, masyarakat diminta menghindari pembakaran di sembarang tempat, termasuk kawasan jalan, perkebunan maupun area yang berdekatan dengan hutan.
Bandara Nabire Ingatkan Bahaya Asap
Peringatan mengenai larangan pembakaran juga disampaikan Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Douw Aturure Nabire.
Pihak bandara mengingatkan masyarakat di sekitar kawasan bandara agar tidak membakar sampah maupun lahan secara terbuka. Asap yang dihasilkan pembakaran dapat menurunkan jarak pandang dan berpotensi mengganggu proses lepas landas maupun pendaratan pesawat.

Selain mengurangi jarak pandang, asap juga dapat menyebabkan gangguan operasional berupa keterlambatan bahkan pembatalan penerbangan apabila kondisi dinilai membahayakan.
Imbauan serupa disampaikan Polsubsektor Kawasan Bandara Nabire. Kapolsubsektor Kawasan Bandara Nabire, Ipda Yusup Ledeng, mengajak masyarakat bersama-sama menjaga kawasan sekitar bandara tetap aman dan bebas dari asap.

Larangan tersebut mencakup pembakaran sampah secara terbuka, pembakaran lahan, membuang puntung rokok sembarangan, serta menyalakan api di kawasan yang memiliki risiko kebakaran.
Pihak UPBU Bandara Nabire berencana meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat terkait pencegahan pembakaran hutan dan lahan. Sosialisasi akan dilakukan dengan memberikan edukasi kepada warga mengenai bahaya pembakaran terbuka, terutama di sekitar kawasan bandara.
Selain sosialisasi langsung, UPBU juga akan memasang sejumlah baliho di beberapa titik strategis di Nabire. Langkah ini dilakukan agar informasi mengenai bahaya kebakaran dan dampaknya terhadap keselamatan penerbangan dapat lebih mudah diketahui dan dipahami masyarakat.
Warga Diminta Ikut Cegah Karhutla
Dengan ditemukannya 246 hotspot di Papua Tengah dan 113 di antaranya berada di Nabire, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah kebakaran meluas.
Kondisi kemarau yang dipengaruhi El Nino dan Monsun Australia membuat potensi munculnya titik api perlu diantisipasi bersama. Masyarakat diharapkan tidak hanya menghindari aktivitas pembakaran, tetapi juga segera melaporkan apabila menemukan asap atau titik api di sekitar permukiman maupun kawasan hutan.
Pemerintah dan instansi terkait terus mengingatkan bahwa pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah api meluas. Terlebih, apabila kebakaran menghasilkan asap yang bergerak menuju kawasan Bandara Douw Aturure maupun jalur penerbangan, dampaknya dapat menyentuh aspek keselamatan penerbangan.
Di tengah potensi kemarau yang masih berlangsung hingga penghujung 2026, masyarakat Nabire dan wilayah Papua Tengah diharapkan semakin disiplin menjaga lingkungan serta menghindari segala bentuk aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
[Nabire.Net]





Tinggalkan Komentar