INFO NABIRE
Home » Blog » Suku Auye, Hutan Papua, dan Mimpi yang Menjadi Nyata Lewat Pendidikan

Suku Auye, Hutan Papua, dan Mimpi yang Menjadi Nyata Lewat Pendidikan

(Suku Auye, Hutan Papua, dan Mimpi yang Menjadi Nyata Lewat Pendidikan)
(Suku Auye, Hutan Papua, dan Mimpi yang Menjadi Nyata Lewat Pendidikan)

Nabire, Di tengah lebatnya hutan pedalaman Nabire, Papua Tengah, sebuah perahu kecil yang mengangkut buku tulis, pensil, dan Alkitab menjadi awal perubahan bagi Suku Auye. Selama lebih dari dua dekade, Pendeta Jhon Bani memilih hidup dan melayani masyarakat adat yang lama hidup terasing dari dunia luar. Dari perjuangan tanpa fasilitas, membangun gubuk belajar hingga mendirikan Kampung Taumi, pengabdiannya kini membuahkan hasil: lahirnya sarjana-sarjana pertama dari pedalaman, tanpa harus meninggalkan identitas budaya yang mereka warisi.

Suara riak Sungai Poronai memecah kesunyian hutan Taumi, Kabupaten Nabire. Di atas sebuah perahu kayu sederhana, Pendeta Jhon Bani (45) duduk sambil menjaga beberapa kardus berisi buku tulis, pensil, dan Alkitab agar tidak terkena percikan air.

Tidak ada bantuan logistik mewah. Tidak ada alat berat ataupun rombongan besar.

Yang dibawanya hanyalah benda-benda sederhana yang ia yakini mampu mengubah masa depan sebuah suku Auye bahayang selama puluhan tahun hidup terasing dari dunia luar.

Bagi Jhon, buku adalah senjata.

Senjata untuk melawan buta aksara.

Senjata untuk membuka harapan.

Dan senjata untuk mempertemukan tradisi dengan masa depan.

Perjalanan menuju Taumi bukan perjalanan biasa. Dua malam ia harus menyusuri sungai menggunakan perahu kecil sebelum mencapai wilayah yang ketika itu masih dikenal sebagai salah satu tempat paling terpencil di Nabire.

Di sanalah hidup Suku Auye, kelompok masyarakat adat yang berpindah-pindah di kawasan hutan lindung. Mereka bertahan hidup dari berburu. Membaca, menulis, bahkan mengenal angka merupakan sesuatu yang nyaris tidak pernah mereka jumpai.

Namun semua itu perlahan berubah.

Sebuah Buku yang Mengubah Arah Hidup

Semuanya berawal jauh sebelum Jhon menginjakkan kaki di Papua.

Suatu hari ia membaca sebuah buku berjudul Anak Perdamaian (Peace Child) karya Don Richardson, kisah nyata seorang misionaris yang hidup bersama Suku Sawi di Papua pada tahun 1962.

Buku itu menceritakan bagaimana Injil disampaikan melalui pemahaman budaya lokal, bukan dengan menghapusnya.

Kisah tersebut membekas dan menantang kuat di hati Jhon.

“Saya ingin ke Papua,” kenangnya.

Namun ia belum tahu harus pergi ke wilayah mana.

Keinginan itu kemudian sampai ke telinga mantan Bupati Paniai, Drs. Andreas Soenarto.

Pertemuan mereka pada tahun 2000 menjadi titik balik hidup Jhon.

“Andreas bertanya, ‘Mau ke Papua mana?’ Saya jawab, ‘Belum tahu. Yang penting saya mau ke Papua.’”

Saat itu Andreas menyebut ada dua suku terpencil di Nabire, yakni Suku Keu dan Suku Auye.

Jhon lalu bertanya lagi.

“Suku yang paling tertinggal yang mana?”

“Suku Auye,” jawab Andreas.

“Saya mau ke sana.”

Tak ada dana yang disiapkan.

Tak ada fasilitas.

Tak ada jaminan keselamatan.

“Saya hanya minta satu hal, tolong payungi saya. Semua risiko di Papua menjadi tanggung jawab saya.”

Pada 8 April 2001, Jhon pertama kali menginjakkan kaki di Nabire.

Banyak orang menganggap keputusannya nekat.

Medan menuju Auye terkenal berat.

Namun keraguan orang lain justru semakin menguatkan tekadnya.

Tatapan Curiga dari Tengah Hutan

September 2002 menjadi awal perjalanan sebenarnya.

Bersama belasan relawan dari berbagai gereja dan masyarakat yang mengumpulkan dana secara suka rela, Jhon menembus pedalaman menuju wilayah Auye.

(Pendeta Jhon Bani bersama warga suku Auye)

Perjalanan ditempuh dua malam menggunakan perahu.

Motoris saat itu pun belum begitu memahami jalur sungai.

Sesampainya di lokasi, mereka hanya bertemu tiga orang pendulang emas yang menjadi satu-satunya penghuni dari luar masyarakat adat.

“Mereka itulah pembuka jalan jalur,” tutur Jhon.

Masyarakat Auye kala itu memandang para pendatang dengan penuh kecurigaan.

Mereka khawatir orang luar akan merusak adat yang selama ini dijaga.

“Saya tidak datang untuk mengubah adat mereka. Saya hanya ingin anak-anak di sini bisa membaca, menulis, dan menghitung.”

Jhon kemudian membangun sebuah gubuk kecil dari batang kayu dan terpal bersama dua rekannya.

Bangunan sederhana itu menjadi tempat beristirahat sekaligus ruang belajar pertama bagi anak-anak Auye.

(Bangunan sederhana tempat anak-anak suku Auye belajar)

Tidak ada meja.

Tidak ada kursi.

Tidak ada papan tulis permanen.

Membangun Kampung dari Sebuah Keyakinan

Bertahun-tahun tinggal bersama masyarakat membuat Jhon menyadari satu hal.

Tidak mungkin membina masyarakat yang hidup berpindah-pindah di dalam hutan.

Harus ada tempat berkumpul.

Harus ada pusat kehidupan.

Dari keyakinan itulah lahir gagasan membangun Kampung Taumi.

Pada 2011, sebuah kampung kecil mulai dibangun di tepian sungai.

Bukan sekadar permukiman, tetapi menjadi pusat pembelajaran, pelayanan sederhana, pendidikan.

“Kami menyebutnya embrio Kampung Taumi.”

Sedikit demi sedikit masyarakat dari pegunungan mulai turun ke tepian sungai.

Mereka memang sering kembali lagi ke hutan.

Namun setiap kali turun, mereka membawa rasa ingin tahu yang semakin besar.

Belajar Mengucapkan Nama

Mengajar anak-anak Auye ternyata tidak semudah membangun pondok.

Bahasa menjadi tantangan terbesar.

Awalnya komunikasi dilakukan menggunakan bahasa isyarat.

Dialek mereka sangat berbeda.

(Semangat anak-anak Auye untuk terus belajar)

Bahkan mengucapkan huruf tertentu pun sangat sulit.

“Sampai saya pernah memasukkan sendok ke mulut mereka supaya pelafalannya benar,” kata Jhon sambil tersenyum.

Kata “tikus” berubah menjadi “sikus”.

Nama “Jhon” terdengar menjadi “Yon”.

Meski demikian, satu hal yang membuatnya bertahan adalah semangat belajar anak-anak.

“Mereka sangat ingin tahu.”

Itulah yang membuatnya tidak pernah menyerah.

Dari Mie Instan Menjadi Sarjana

Keterbatasan dana menjadi bagian dari perjalanan panjang itu.

Setiap satu atau dua bulan, Jhon harus turun ke Nabire.

Di kota, istri dan anak-anaknya menunggu.

Persediaan makanan pun sering kali hanya satu karton mi instan.

(Anak-anak suku Auye menikmati makanan)

Namun bagi masyarakat Auye, itu sudah menjadi berkat besar.

Saat delapan anak mulai serius ingin belajar, Jhon membangun asrama sederhana di Kampung Taumi.

Kemudian dibangun lagi asrama di Karang pada 2011.

Sekolah misi yang mereka kelola akhirnya berkembang menjadi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sehingga para siswa memperoleh ijazah yang diakui negara.

Dari sanalah lahir kisah-kisah yang dulu terasa mustahil.

Salah satunya adalah Silas Mudi.

Saat pertama datang, usianya sudah sekitar 17 tahun.

Ia berkata kepada Jhon, “Bapa, saya mau sekolah di kota.”

Silas menempuh pendidikan melalui jalur paket hingga lulus SMA.

Ia kemudian melanjutkan kuliah secara online di STT Pokok Anggur Jakarta.

Kini, pada usia 37 tahun, Silas telah kembali ke Kampung Taumi sebagai guru.

Kisah serupa datang dari Elisabeth, perempuan Auye yang menyelesaikan pendidikan dasar hingga SMA sebelum melanjutkan kuliah di Malang.

Ia tinggal menunggu wisuda.

Baginya, pendidikan bukan untuk meninggalkan budaya.

Tetapi untuk memajukannya.

“Budaya tidak salah. Budaya harus berjalan bersama kemajuan.”

Hingga kini, dari kelompok yang dahulu dikenal sebagai salah satu suku paling terasing di Nabire, telah lahir tiga sarjana, termasuk satu lulusan baru yang diwisuda pada 18 Juli 2026.

Dukungan yang Akhirnya Datang

Selama bertahun-tahun perjuangan itu berjalan hampir tanpa perhatian pemerintah.

Semua dilakukan secara swadaya.

Keadaan berubah pada Desember 2021.

Tak lama setelah dilantik sebagai Bupati Nabire, Mesak Magai mengundang Jhon ke kantornya.

Dalam pertemuan sekitar setengah jam itu, sang bupati mengaku terkejut mengetahui perjalanan panjang pelayanan bagi masyarakat Auye.

Pemerintah Kabupaten Nabire kemudian memberikan bantuan dana sebesar Rp1 miliar pada 2022.

(Terus belajar tak mengenal lelah)

Dana tersebut digunakan untuk membeli lahan seluas satu hektare sebagai lokasi pembangunan asrama.

Rencana pembangunan asrama sebenarnya ditargetkan terealisasi pada 2023, namun baru selesai pada 2026.

Kini, sebanyak 24 anak Auye tinggal di asrama, terdiri atas delapan perempuan dan 16 laki-laki, yang menempuh pendidikan mulai SD hingga SMA.

Sementara di Kampung Taumi sendiri telah berdiri sekolah dasar dengan tujuh guru.

Setiap pagi, Jhon mengantar anak-anak menggunakan mobil pikap karena belum mampu menggaji sopir.

Menjaga Budaya, Menjemput Masa Depan

Di balik perubahan itu, Jhon menegaskan satu hal.

Ia tidak pernah datang untuk menghapus budaya Auye.

Justru ia ingin pendidikan berjalan berdampingan dengan adat.

Ia memahami bahwa dalam tradisi lama, anak perempuan bahkan bisa dijadikan bagian dari mas kawin sejak usia sangat muda.

Namun perlahan, melalui pendidikan, cara pandang itu mulai berubah.

Kini delapan anak perempuan Auye memperoleh kesempatan belajar lebih tinggi.

(Pendeta Jhon Bani bersama anak-anak TK)

Harapan Jhon sederhana.

Suatu hari nanti mereka kembali ke kampungnya sendiri.

Menjadi guru.

Menjadi tenaga kesehatan.

Menjadi pemimpin.

Membangun masyarakatnya dari dalam.

Mendatangi yang Terabaikan

Dua puluh tahun berlalu sejak pertama kali ia menyusuri Sungai Poronai.

Perjalanannya belum selesai.

Visi yang terus ia pegang tetap sama.

“Mendatangi yang terabaikan dan melayani yang tak terlayani.”

Ia percaya pelayanan bukan sekadar pekerjaan kemanusiaan, melainkan panggilan hidup.

“Kerjakan apa yang Tuhan percayakan, dan percayakan apa yang Tuhan kerjakan.”

Di penghujung percakapan, Jhon menitipkan pesan bagi generasi muda Papua.

“Papua memiliki sumber daya manusia yang luar biasa. Yang dibutuhkan adalah kesempatan untuk belajar dan diberdayakan.”

Pesannya sederhana, tetapi lahir dari pengalaman puluhan tahun hidup bersama masyarakat pedalaman.

“Nomor satukan Tuhan. Belajarlah setinggi-tingginya. Kami para pendatang hanya ingin mendampingi. Pada akhirnya, orang Papua sendirilah yang akan membangun dan memimpin tanahnya.”

Di tepian Sungai Poronai, perubahan itu sudah dimulai.

Bukan dengan gedung megah.

Bukan dengan jalan raya.

Melainkan dari sebuah perahu kecil yang membawa buku-buku menuju hutan, dan seorang pendeta yang percaya bahwa pendidikan mampu menembus batas paling sunyi di pedalaman Papua.

*Penulis: Sitti Hawa/Wartawan Aktif di Nabire.Net

[Nabire.Net]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.