Hujan Tak Kunjung Turun, Sumur Warga Nabire Barat Mulai Mengering, Terpaksa Beli Air Tangki
Nabire, Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Nabire, Papua Tengah, mulai berdampak pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Sejumlah warga di Distrik Nabire Barat mengeluhkan kondisi air sumur yang semakin surut, bahkan terancam mengering akibat hujan yang sudah lama tidak turun.
Kondisi tersebut dirasakan oleh warga di beberapa permukiman, termasuk Kalisemen SP2 dan Wadio SP3. Selain debit air yang terus berkurang, kualitas air sumur juga mulai berubah sehingga tidak lagi layak digunakan secara langsung untuk kebutuhan sehari-hari.
Pomo, warga Kalisemen SP2, mengatakan keluarganya sudah mengalami kesulitan memperoleh air bersih selama sekitar satu minggu terakhir. Menurutnya, air sumur kini semakin sedikit dan berubah menjadi berwarna kuning.

“Kami darurat air bersih saat ini. Sementara kami cuma beli air galon untuk kebutuhan memasak, sedangkan air sumur yang ada cuma bisa kami endapkan semalaman untuk bisa digunakan keesokan harinya untuk MCK dengan penggunaan seirit mungkin,” ujar Pomo kepada Nabire.Net.
Keluhan serupa juga disampaikan Mustamaruddin, warga Wadio SP3. Ia mengaku sumur miliknya ikut mengalami penyusutan debit air sehingga terpaksa membeli air bersih menggunakan mobil tangki setiap pekan.

“Kami beli seminggu sekali air tangki 2.000 liter seharga Rp200 ribu. Kalau tangki besar 5.000 liter seharga Rp450 ribu. Air diambil dari Wanggar. Kalau kita pesan hari ini, besok atau lusa baru dapat. Informasinya sumur di Wanggar juga mulai kering,” ungkapnya.

Fenomena ini terjadi seiring cuaca panas yang belakangan dirasakan masyarakat Nabire. Minimnya curah hujan membuat suhu udara meningkat dan mulai mengganggu berbagai aktivitas warga, terutama mereka yang bekerja di luar ruangan maupun yang bergantung pada sumber air tanah untuk kebutuhan rumah tangga.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menjelaskan bahwa kondisi cuaca kering di wilayah Nabire dipengaruhi oleh dua fenomena atmosfer yang berlangsung secara bersamaan, yakni El Nino dan Monsun Australia. Kombinasi kedua fenomena tersebut menyebabkan curah hujan berkurang sehingga musim kemarau terasa lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Selain memengaruhi ketersediaan air bersih, cuaca kering juga berpotensi memberikan dampak terhadap sektor pertanian, perkebunan, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan apabila berlangsung dalam waktu yang lama. Berkurangnya cadangan air tanah juga dapat memicu kesulitan akses air bersih bagi masyarakat yang mengandalkan sumur sebagai sumber utama kebutuhan sehari-hari.
Situasi ini menunjukkan pentingnya upaya penghematan penggunaan air selama musim kemarau berlangsung. Masyarakat juga diimbau untuk terus memantau informasi cuaca dari BMKG serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak kekeringan yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan seiring berlanjutnya pengaruh El Nino dan Monsun Australia.
[Nabire.Net]





Tinggalkan Komentar