PGGPT Serukan Gerakan Doa Satu Minggu bagi Tanah Papua 5–11 Juli 2026
Nabire, 5 Juli 2026 – Persekutuan Gereja-Gereja di Papua Tengah (PGGPT) mengajak seluruh gereja dan umat Kristen di enam provinsi di Tanah Papua untuk mengikuti Gerakan Doa Satu Minggu bagi Tanah Papua yang akan berlangsung pada 5 hingga 11 Juli 2026. Gerakan doa ini menjadi seruan bersama sebagai respons iman atas berbagai peristiwa duka, kekerasan, ketakutan, kehilangan nyawa, dan penderitaan yang dialami masyarakat di sejumlah wilayah Papua.
Seruan tersebut tertuang dalam surat bernomor G-01/PGG-PT/S.Sr/VI/2026 yang diterbitkan di Nabire pada 4 Juli 2026 dan ditandatangani Ketua Umum PGGPT, Pdt. Didi I. Naya, M.Th, bersama Sekretaris Umum PGGPT.
Dalam surat tersebut, PGGPT menegaskan bahwa dasar utama gerakan doa ini berasal dari Lukas 7:11–16, khususnya ayat 13 yang berbunyi, “Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: Jangan menangis.”
Menurut PGGPT, firman Tuhan tersebut menjadi penguatan bahwa Yesus Kristus melihat setiap penderitaan, air mata, ketakutan, dan kehilangan yang dialami umat-Nya.
“Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang sedang menderita. Ia hadir, Ia peduli, dan hati-Nya tergerak oleh belas kasihan,” demikian isi seruan tersebut.
Dilaksanakan Serentak di Seluruh Tanah Papua
Gerakan doa ini akan dilaksanakan setiap hari mulai Minggu, 5 Juli hingga Sabtu, 11 Juli 2026, pukul 18.00–20.00 WIT.
Pelaksanaannya dilakukan secara serentak di seluruh gereja, rumah-rumah jemaat, kelompok persekutuan doa, maupun tempat pelayanan lainnya yang berada di wilayah Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, Papua Selatan, Papua Barat, dan Papua Barat Daya.
PGGPT mengajak seluruh unsur gereja untuk terlibat, mulai dari sinode, paroki, klasis, jemaat, gembala sidang, majelis jemaat, para hamba Tuhan, hingga kaum bapak, kaum ibu, pemuda, remaja, anak-anak sekolah minggu, dan seluruh umat Tuhan.
Bentuk pelaksanaan doa diserahkan kepada masing-masing gereja sesuai kondisi dan kebutuhan jemaat, baik melalui ibadah raya, ibadah keluarga, persekutuan doa, doa pribadi, puasa, maupun doa syafaat, dengan tetap menjaga suasana ibadah yang tertib dan berpusat kepada Tuhan Yesus Kristus.
Mengangkat Tujuh Pokok Doa
Selama tujuh hari pelaksanaan, PGGPT telah menyusun tema dan pokok doa harian sebagai pedoman bagi seluruh gereja.
Hari pertama difokuskan pada pengakuan dosa dan kerendahan hati, mengajak umat meninggalkan kebencian, dendam, serta segala bentuk kekerasan.
Hari kedua mengangkat doa agar Tuhan menghentikan kekerasan dan pertumpahan darah yang masih terjadi di berbagai wilayah Papua.
Hari ketiga dikhususkan bagi keluarga-keluarga yang kehilangan anggota keluarga, para ibu yang berduka, anak-anak yang kehilangan orang tua, serta semua orang yang mengalami trauma.
Hari keempat berisi doa perlindungan bagi masyarakat sipil, pelayan Tuhan, tenaga kesehatan, guru, perempuan, anak-anak, dan warga yang tinggal di daerah rawan konflik.
Hari kelima mengajak jemaat mendoakan pemerintah, aparat keamanan, pimpinan gereja, tokoh adat, dan seluruh pemangku kepentingan agar diberikan hikmat dalam mengambil keputusan yang mengutamakan keselamatan manusia, keadilan, dan perdamaian.
Hari keenam difokuskan pada pemulihan hati serta masa depan generasi muda Papua agar dijauhkan dari kekerasan, narkoba, alkohol, putus sekolah, dan berbagai persoalan sosial lainnya.
Sementara pada hari ketujuh, seluruh gereja diajak memohon kebangunan rohani dan damai sejahtera Tuhan bagi seluruh Tanah Papua.
Menjadi Seruan Bersama
Dalam seruan tersebut, PGGPT juga mengajak seluruh umat untuk menaikkan doa bersama yang berbunyi:
“Tuhan Yesus, lihatlah penderitaan dan duka hati orang Papua. Hentikan kekerasan, lindungi masyarakat, hiburkan keluarga yang berduka, pulihkan Tanah Papua, dan nyatakan damai sejahtera-Mu.”
PGGPT berharap doa tersebut menjadi ungkapan iman seluruh gereja agar Tuhan memulihkan keadaan Papua.
Dilengkapi Liturgi Ibadah
Selain mengeluarkan surat seruan, PGGPT juga menyusun Liturgi Gerakan Doa 7 Hari bagi Tanah Papua sebagai panduan pelaksanaan ibadah.
Liturgi tersebut berisi tata ibadah lengkap mulai dari panggilan beribadah, nyanyian, pembacaan firman, renungan singkat, pokok doa, doa bersama, hingga doa penutup untuk setiap hari.
Dengan adanya panduan tersebut, setiap gereja diharapkan memiliki arah yang sama dalam membawa pergumulan Papua ke dalam doa.
Mengedepankan Kasih dan Perdamaian
Melalui gerakan ini, PGGPT menegaskan bahwa gereja dipanggil menjadi pembawa kasih, pengharapan, dan perdamaian di tengah situasi yang penuh tantangan.
Dalam penutup suratnya, PGGPT mengajak seluruh gereja untuk tetap berdiri teguh dalam iman, tidak berhenti berdoa, tidak berhenti mengasihi, dan terus menjadi terang Kristus bagi masyarakat.
“Kiranya seluruh gereja di Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, Papua Selatan, Papua Barat, dan Papua Barat Daya berdiri teguh dalam iman, tidak berhenti berdoa, tidak berhenti mengasihi, dan terus menjadi terang Kristus bagi masyarakat.”
PGGPT menyatakan keyakinannya bahwa Yesus Kristus, Sang Raja Damai, sanggup memulihkan Tanah Papua melalui kasih, pengampunan, dan damai sejahtera-Nya.
Gerakan Doa Satu Minggu ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh umat Kristen di Tanah Papua untuk bersatu dalam doa, memperkuat iman, serta memohon campur tangan Tuhan bagi terciptanya kehidupan yang damai, aman, dan penuh pengharapan bagi seluruh masyarakat Papua.
[Nabire.Net]





Tinggalkan Komentar