Perkuat Swasembada Pangan, BULOG Dukung Gerakan Tanam Padi Serentak di Merauke
Merauke, 5 Juli 2026 – Perum BULOG kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung program swasembada pangan nasional melalui penguatan ekosistem produksi dan penyerapan hasil panen petani. Komitmen tersebut diwujudkan dengan mendukung pelaksanaan Gerakan Tanam Padi Serentak yang dipimpin langsung Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, di kawasan cetak sawah Desa Waninggap Kai, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Sabtu (4/7).
Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mempercepat pengembangan kawasan pangan nasional di Papua Selatan. Tidak hanya berfokus pada peningkatan luas tanam dan produksi padi, pemerintah juga memastikan adanya kepastian pasar melalui penyerapan hasil panen oleh Perum BULOG sehingga petani memperoleh harga yang layak dan berkelanjutan.
Gerakan tanam padi sebagai langkah strategis
Pelaksanaan Gerakan Tanam Padi Serentak berlangsung di kawasan cetak sawah yang menjadi salah satu proyek strategis nasional dalam pengembangan lumbung pangan Indonesia. Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, bersama jajaran pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta Perum BULOG turun langsung ke lokasi untuk memastikan percepatan pembangunan sektor pertanian di Papua Selatan.

Program ini tidak hanya bertujuan memperluas areal tanam, tetapi juga membangun sistem pertanian modern yang terintegrasi mulai dari penyediaan benih unggul, mekanisasi pertanian, pembangunan infrastruktur, hingga jaminan penyerapan hasil panen.
Menteri Pertanian: Lahan tetap milik masyarakat
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa program cetak sawah merupakan aspirasi masyarakat dan seluruh lahan tetap menjadi hak milik masyarakat.

“Program cetak sawah ini merupakan aspirasi masyarakat dan seluruh lahannya tetap menjadi milik masyarakat. Pemerintah hadir memberikan dukungan melalui pembangunan infrastruktur, alat dan mesin pertanian, benih, pendampingan, hingga menjamin hasil panen petani terserap dengan harga yang menguntungkan sesuai arahan Presiden. Mari kita bekerja keras, berkolaborasi, dan menjadikan bertani sebagai jalan menuju kesejahteraan. Bertani, Sejahtera,” ujar Amran.
Menurutnya, pemerintah ingin menjadikan Papua Selatan sebagai salah satu pusat pertumbuhan pangan nasional yang mampu menopang kebutuhan beras Indonesia dalam jangka panjang.
BULOG siap menjadi mitra strategis petani
Direktur Utama Perum BULOG, Letjen TNI (Purn) DR Ahmad Rizal Ramdhani, S.Sos., S.H., M.Han., yang turut mendampingi kegiatan tersebut menyampaikan bahwa BULOG siap mendukung penuh seluruh program strategis pemerintah di sektor pangan.
Menurutnya, peningkatan produksi harus dibarengi dengan jaminan penyerapan hasil panen agar petani memiliki kepastian pasar dan memperoleh harga yang menguntungkan.
“BULOG berkomitmen menjadi mitra strategis petani dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional. Sinergi bersama Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan seluruh pemangku kepentingan akan terus diperkuat agar setiap peningkatan produksi dapat terserap secara optimal, memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani sebagai pelaku utama pembangunan sektor pangan,” katanya.
Komitmen tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas pangan nasional sekaligus memastikan hasil panen petani tidak mengalami kendala pemasaran.
Papua Selatan menjadi episentrum pangan nasional
Saat ini Papua Selatan menjadi wilayah pengembangan kawasan pangan terbesar di Indonesia bagian timur. Pemerintah telah mengembangkan 83.030 hektare lahan cetak sawah dan 54.399 hektare optimalisasi lahan di seluruh Tanah Papua.
Dari jumlah tersebut, Papua Selatan memperoleh porsi terbesar, yakni 48.934 hektare lahan cetak sawah dan 53.499 hektare optimalisasi lahan. Dengan total hampir 100 ribu hektare, kawasan ini diproyeksikan menjadi lumbung pangan masa depan Indonesia.
Pengembangan kawasan tersebut diharapkan mampu meningkatkan produksi beras nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sentra produksi di Pulau Jawa.
Pemerintah siapkan anggaran Rp1,3 triliun
Sebagai bentuk keseriusan dalam mempercepat pembangunan kawasan pangan, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,3 triliun pada tahun 2026.
Anggaran tersebut digunakan untuk membangun berbagai sarana dan prasarana pertanian, mulai dari penyediaan benih unggul, alat dan mesin pertanian (alsintan), pembangunan Rice Milling Unit (RMU), dryer, gudang penyimpanan, hingga infrastruktur pendukung lainnya.
Investasi tersebut menjadi bagian dari transformasi menuju pertanian modern yang lebih efisien, produktif, dan mampu meningkatkan daya saing petani.
Teknologi tingkatkan produktivitas
Modernisasi pertanian di Merauke mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Pemanfaatan berbagai teknologi seperti traktor, drone pertanian, rice transplanter, combine harvester, serta peralatan modern lainnya berhasil meningkatkan produktivitas gabah.
Jika sebelumnya rata-rata hasil panen hanya sekitar 3 ton per hektare, kini produktivitas meningkat menjadi 4 hingga 7 ton per hektare.
Selain itu, Indeks Pertanaman (IP) yang saat ini telah mencapai dua kali tanam dalam setahun ditargetkan meningkat menjadi tiga kali tanam setiap tahun sehingga produksi pangan nasional terus bertambah secara berkelanjutan.
Pendapatan petani meningkat hingga 300 persen
Keberhasilan program cetak sawah tidak hanya terlihat dari peningkatan produksi, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan data pemerintah daerah, pendapatan petani di kawasan pengembangan meningkat hingga 300 persen setelah memanfaatkan program cetak sawah dan mekanisasi pertanian.
Antusiasme masyarakat juga semakin tinggi. Para petani bahkan mengusulkan penambahan sekitar 2.000 hektare lahan cetak sawah baru sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan produksi pangan di wilayah Merauke.
BULOG bangun gudang penyimpanan
Sejalan dengan meningkatnya produksi pertanian, pemerintah memastikan hasil panen petani memiliki kepastian pasar melalui penyerapan oleh Perum BULOG.
Sebagai langkah nyata, pemerintah akan membangun gudang BULOG di Merauke dengan kapasitas awal sekitar 3.000 ton yang nantinya dapat ditingkatkan hingga 5.000 ton.
Gudang tersebut akan dilengkapi fasilitas pascapanen seperti dryer dan unit pengolahan beras sehingga mampu menjaga kualitas gabah, mengurangi kehilangan hasil panen, dan memperkuat rantai pasok pangan nasional dari hulu hingga hilir.
Nilai ekonomi diproyeksikan tembus Rp13 triliun
Pengembangan kawasan pangan di Papua Selatan tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi beras nasional, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Pemerintah memproyeksikan nilai ekonomi kawasan pertanian yang saat ini mencapai sekitar Rp1,3 triliun dapat meningkat hingga Rp13 triliun per tahun apabila target produktivitas mencapai 7 ton per hektare dan indeks pertanaman meningkat menjadi tiga kali tanam setiap tahun.
Dengan sinergi yang terus diperkuat antara pemerintah, Perum BULOG, petani, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan, Merauke diyakini akan berkembang menjadi salah satu sentra produksi pangan terbesar di Indonesia. Kehadiran teknologi modern, pembangunan infrastruktur pertanian, serta kepastian penyerapan hasil panen menjadi fondasi penting dalam mewujudkan swasembada pangan nasional yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua Selatan.
[Nabire.Net]





Tinggalkan Komentar