INFO NABIRE INFO PAPUA TENGAH
Home » Blog » Pelajar SMA Negeri 1 Plus KPG Deiyai Tampilkan Cerita Rakyat Koyei Daba di Festival Budaya Papua Tengah

Pelajar SMA Negeri 1 Plus KPG Deiyai Tampilkan Cerita Rakyat Koyei Daba di Festival Budaya Papua Tengah

(Pelajar SMA Negeri 1 Plus KPG Deiyai)
(Pelajar SMA Negeri 1 Plus KPG Deiyai)

Nabire, 26 Juni 2026 – Pelajar SMA Negeri 1 Plus KPG Deiyai, Brigita Susa Douw, membawakan cerita rakyat “Koyei Daba” pada hari ketiga Festival Cahaya Kreatif Budaya Pelajar Papua Tengah 2026 yang berlangsung di Bandara Lama Nabire, Jumat (26/6/2026).

Penampilan tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan kembali warisan budaya masyarakat Mee kepada generasi muda melalui kisah yang sarat nilai kehidupan, moral, dan identitas budaya.

Guru pembimbing, Ice Pekei, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa pemilihan cerita Koyei Daba dilakukan setelah mempertimbangkan berbagai cerita rakyat dari wilayah Mee Pago. Menurutnya, sejumlah cerita lain, seperti asal-usul Danau Tigi, sudah sering diangkat dalam berbagai kesempatan.

“Kami memilih Koyei Daba karena cerita ini bukan hanya milik satu daerah, tetapi merupakan mitos dan kepercayaan yang dikenal luas oleh masyarakat Mee. Di dalamnya terdapat nilai-nilai kehidupan, aturan hidup, dan ajaran moral yang perlu diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.

Ice Pekei menjelaskan bahwa cerita Koyei Daba mengandung konsep Touye Kapongeiye, yaitu tatanan hidup yang menjadi pedoman masyarakat Mee sebelum masuknya ajaran agama modern. Nilai-nilai tersebut mengajarkan kehidupan yang baik, kebersamaan, saling menghormati, dan menjaga hubungan harmonis antar sesama.

Ia juga menyampaikan keprihatinannya karena semakin banyak generasi muda yang tidak lagi mengenal cerita rakyat dan warisan budaya daerahnya sendiri.

Karena itu, melalui Festival Cahaya Kreatif Budaya Pelajar Papua Tengah 2026, kisah Koyei Daba kembali diperkenalkan agar tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi penerus.

“Budaya dan cerita rakyat seperti ini harus terus diceritakan agar tidak hilang. Ini merupakan bagian penting dari identitas dan warisan masyarakat Mee,” katanya.

Penampilan Brigita Susa Douw mendapat perhatian peserta dan pengunjung festival karena tidak hanya menyampaikan cerita rakyat, tetapi juga memperkenalkan filosofi hidup masyarakat Mee yang telah diwariskan secara turun-temurun.

[Nabire.Net/Marten Dogomo]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.