Kasus Malaria di Nabire Melonjak, Dinkes Minta Warga Waspada
Nabire, 7 Februari 2026 – Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire melaporkan peningkatan signifikan kasus malaria hingga akhir Desember 2025. Tercatat sebanyak 8.556 kasus malaria, meningkat tajam dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 3.274 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Elvina Agustina, menjelaskan bahwa peningkatan angka tersebut salah satunya dipengaruhi oleh percepatan dan perluasan pemeriksaan malaria yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan bersama seluruh puskesmas dan Para Kader Malaria di wilayah Nabire.
“Peningkatan ini bukan semata-mata karena penularan yang melonjak, tetapi karena deteksi kasus yang semakin aktif. Namun demikian, kondisi ini harus menjadi peringatan serius bagi masyarakat,” ujar Agustina.
Ia menegaskan bahwa malaria dapat menyerang siapa saja tanpa memandang status sosial. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan perlindungan diri dan lingkungan.
Dinas Kesehatan melalui puskesmas dan para kader kesehatan telah menjalankan program TOKEN (Temukan kasus, Obati, dan Kendalikan vektor). Namun, Agustina menyayangkan masih banyak warga yang tidak mengonsumsi obat malaria sesuai dengan aturan yang diberikan petugas kesehatan.
“Pengobatan malaria harus dihabiskan sesuai petunjuk. Jika tidak, penyakit dapat kambuh dan berisiko menularkan ke orang lain,” jelasnya.
Selain pengobatan, penggunaan kelambu saat tidur malam kembali ditekankan. Nyamuk penyebab malaria aktif menggigit mulai pukul 18.00 hingga 06.00 pagi, sehingga perlindungan saat tidur dan aktivitas malam hari sangat penting. Masyarakat juga dianjurkan menggunakan lotion anti nyamuk sebagai perlindungan tambahan.
“Angka 8.556 kasus bukan sekadar data. Itu adalah saudara-saudara kita yang sakit. Bayangkan jika yang terpapar adalah bayi dan ibu hamil, malaria dapat menghambat pertumbuhan otak dan perkembangan fisik bayi,” tambah Agustina.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pengendalian vektor nyamuk paling efektif dimulai dari lingkungan rumah. Warga diminta membersihkan saluran air dan menghilangkan genangan yang menjadi tempat berkembangbiaknya jentik nyamuk.
“Tutup semua genangan air. Jika tidak bisa ditutup, berikan larvasida untuk membunuh jentik. Warga bisa menghubungi puskesmas agar mendapatkan larvasida,” imbaunya.
Agustina menutup dengan mengajak seluruh masyarakat Nabire untuk berperan aktif dalam pencegahan malaria.
“Selama masih ada air tergenang, malaria akan terus menghantui kita. Lindungi diri dan keluarga agar tidak menjadi korban malaria.
[Nabire.Net/Musa Boma]





Orng papua
ah sakira malaria su hilang kalah Deng covid🤣🤣🤣🤣🤣
dulu tu setiap sakit bilang covid…sakit sedikit reaktif….seolah olah malaria hilang…dan skrng muncul lagi🤣🤣🤣🤣