Tujuh Tahun Asrama Muko Nabire Mengantar Asa Melalui Akses Pendidikan di Papua
Nabire, 17 Januari 2026 – Perlahan namun pasti, Asrama Honai Cista membawa perubahan besar bagi anak-anak dari kampung-kampung terpencil di Distrik Yaro, Nabire. Asrama ini menjadi titik terang bagi mereka yang sebelumnya harus berjalan berjam-jam menembus hutan dan sungai hanya untuk sampai ke sekolah. Kini, mereka dapat belajar dengan lebih tenang, beristirahat dengan layak, dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung proses pendidikan.
Lebih dari sekadar tempat tinggal, Honai Cista menjadi ruang pembentuk karakter. Disiplin, tanggung jawab, dan semangat belajar tumbuh berdampingan dalam keseharian anak-anak asrama. Sejumlah siswa bahkan berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi—sesuatu yang dulu terasa nyaris mustahil.
Di balik perjalanan ini, berdiri sosok Agustina Taihuttu, Kepala Sekolah SD Negeri Muko Tanah Merah. Ia ditempatkan di sekolah tersebut pada 2016, ketika kondisinya nyaris tak berfungsi. “Sekolah itu sudah ditinggalkan kepala sekolah beberapa tahun, muridnya sudah tidak ada,” kenangnya. Lingkungan sekitar masih berupa hutan lebat, tanpa listrik, tanpa fasilitas pendukung pendidikan.
Meski sempat ragu melihat kondisi tersebut, panggilan sebagai pendidik membuat Agustina bertahan. “Karena saya merasa terpanggil sebagai seorang guru, akhirnya dengan hati yang ikhlas saya datang di tempat itu,” ujarnya. Ia memulai langkah pertamanya dengan menemui kepala suku, tokoh adat, pendeta, dan masyarakat, memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan tekadnya membangun kembali sekolah.
Perubahan dimulai dari langkah yang sangat sederhana. Saat itu, Agustina menjadi satu-satunya guru. “Saya sendiri, belum ada guru lain. Masyarakat juga tidak tahu ada sekolah di situ karena tertutup hutan,” katanya. Melihat banyak anak yang putus sekolah dan belum mampu berbahasa Indonesia, ia mengambil inisiatif mendirikan asrama kecil di belakang rumah dinasnya. “Itu ide saya untuk menyelamatkan anak-anak,” ujarnya.
Asrama sederhana tersebut menjadi ruang awal pembelajaran—bukan hanya akademik, tetapi juga kehidupan. Pagi hari digunakan untuk belajar, malam hari untuk bimbingan tambahan. Anak-anak yang sebelumnya tak memiliki seragam, sepatu, atau perlengkapan sekolah mulai mendapatkan perhatian. Bersama suaminya, Agustina bahkan membeli kebutuhan dasar siswa agar mereka bisa mengikuti upacara kemerdekaan dengan layak.
Seiring waktu, perubahan mulai terlihat. Jumlah murid meningkat, guru-guru mulai berdatangan, dan perhatian pemerintah daerah pun tumbuh. Dari hanya sekitar 30 siswa, kini SD Negeri Muko Tanah Merah memiliki sekitar 220 siswa. Sekolah ini bahkan berkembang menjadi sekolah model di Distrik Yaro. “Disiplin yang saya tanamkan bagi anak-anak dan guru-guru membawa kemajuan,” tutur Agustina.
Asrama Honai Cista di Desa Muko, Nabire, berdiri dengan dukungan Bosch Indonesia untuk menjawab tantangan anak-anak pedalaman yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan. Dengan asrama yang layak, kebutuhan pokok yang terpenuhi, serta lingkungan belajar yang aman, anak-anak dapat belajar dengan lebih optimal dan menumbuhkan harapan baru bagi masa depan mereka.
Dukungan tersebut tidak berhenti pada penyediaan fasilitas tinggal. Bosch Indonesia juga menyalurkan bantuan 15 unit laptop yang memungkinkan siswa mengikuti Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) secara mandiri. “Dengan bantuan laptop dari Bosch, kami tidak perlu menumpang sekolah lain. Biarpun kami di daerah pinggiran, anak-anak bisa bersaing dengan sekolah kota,” ujarnya bangga.
Dampak kehadiran asrama dan sekolah ini paling nyata terlihat dari kisah para alumninya. Salah satunya Penus Morim, siswa angkatan pertama penghuni asrama. “Penus sudah bekerja di Dinas Perhubungan dan ditempatkan di bandara,” kata Agustina. Sejumlah alumni lain melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Manokwari hingga Medan. Bagi Agustina, setiap capaian tersebut menjadi bukti bahwa akses pendidikan yang setara mampu mengubah arah hidup anak-anak pedalaman.
Namun, menjaga keberlanjutan dampak itu bukan perkara mudah. Di balik berbagai capaian, asrama masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Peran orang tua di asrama masih terbatas.
“Kepedulian orang tua hanya sekitar dua sampai tiga persen,” ungkapnya. Dalam banyak situasi, Agustina harus turun langsung mengurus anak-anak, termasuk ketika mereka sakit. Kondisi ini mendorong kebutuhan akan sistem yang lebih mandiri agar kegiatan asrama dapat terus berjalan secara berkelanjutan.
Kesadaran akan pentingnya kemandirian tersebut kemudian diperkuat melalui pendekatan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Bosch berkolaborasi dengan masyarakat setempat melalui program pertanian berkelanjutan yang menyediakan lahan, bibit unggul, hewan ternak, serta pendampingan intensif selama satu tahun. Program ini dirancang tidak hanya untuk mendukung kebutuhan pangan, tetapi juga membangun fondasi kemandirian ekonomi di lingkungan asrama.
Bagi Bosch Indonesia, kisah Asrama Honai Cista bukan sekadar tentang bantuan, melainkan tentang menemani proses tumbuh. Melalui dukungan yang berkelanjutan, Bosch percaya bahwa kesejahteraan keluarga Indonesia dibangun dari kesempatan belajar yang setara dan bermakna. Nilai inilah yang terus dihidupkan Bosch dalam setiap langkahnya, sejalan dengan filosofi “Invented for life”—menghadirkan solusi yang memberi dampak nyata bagi kehidupan.
[Nabire.Net]





Leave a Reply