Sebelum Dan Setelah Pemilu Di Nabire Papua
(Dok.Nabirekab)
Kita semua tahu, bahwa tendensi dari hasrat manusia adalah ingin selalu sempurna, dan memiliki kecenderungan untuk mencari tempat yang lebih terang. Tapi bayangkan jika hasrat itu menjelma menjadi topeng-topeng penuh kepalsuan. Saya beri contoh, spanduk, baliho, ataupun selebaran yang tersebar di seluruh penjuru dan tempat-tempat ramai di kota nabire. Kita di paksa untuk terus melihat dan memperhatikan wajah-wajah mereka, dengan senyum yang entah kenapa selalu sama dari masa ke masa, dan dengan janji-janji yang sungguh luar biasa jika ia mampu teraktual seperti hasrat pembuatnya.
Namun, kita terbiasa dengan janji-janji. Bahkan, kita cenderung sangat bersemangat jika janji-janji itu diteriakkan oleh kandidat dalam kampanyenya. Padahal kita tau, tidak pernah ada janji yang bisa mereka tepati, seperti mencintai seseorang yang tidak pernah kita tau wujudnya. Pemilu saat ini seolah menjadi pesta rakyat, panggung hiburan semata. Bagaimana tidak? Seluruh kandidat berlomba-lomba menghadirkan, atau mengadakan kegiatan yang sungguh menghabiskan dana yang sangat banyak; tidak menghasilkan apa-apa. Tepuk tangan tidak lagi mengartikan bentuk sebuah apresiasi, artinya mengalami perubahan yakni hanya menjadi kalkulasi dari suara: banyak tepuk tangan, banyak suara.
Kini pemilu telah usai, pemenang akan berjalan dengan dada yang semakin dibusungkan, dan yang kalah akan mencari-cari celah untuk dapat menggugat apa saja yang bisa ia gugat. Saya rasa mereka semua sama, tidak ada bedanya. Baik yang menang, ataupun yang kalah sama-sama akan tenggelam dengan janji-janjinya, sebab janji-janji hanya jadi bagian dari perangkat pemilu; seperti tim sukses yang kemudian akan dilupakan, atau didudukkan pada kursi kekuasaan jika ia menjad patron dari massa yang menjadi penentu kemenangan salah satu kandidat; kita lihat saja!
Namun ada satu yang kita lupakan, adalah spanduk-spanduk, baliho, dan selebaran yang setelah pemilu diabaikan begitu saja: Berserakan dan dilupakan seperti janji-janji mereka dalam pemilu. Pemilu hanya satu kepastian, adalah sampah. Saya rasa, baik yang menang, maupun yang kalah harus menerima itu sebagai tanggung jawab mereka, karena pertarungan mereka telah usai. Jika sudah seperti ini, yang terjadi hanyalah penekanan terhadap petugas-petugas kebersihan. Lalu spanduk-spanduk yang tidak dijangkau oleh mereka? Bukankah sasaran empuk para kandidat adalah pelosok-pelosok desa/kampung ?
(Artikel ditulis oleh Fauzan Al Ayuby)



Leave a Reply