Ribuan Jemaat Padati GKII Getsemani Nabire Rayakan HUT ke-64
Nabire, 6 April 2026 – Ribuan jemaat Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) memadati Gereja GKII Getsemani SP3 Wadio dalam ibadah syukur Hari Ulang Tahun (HUT) Kemandirian GKII ke-64 di Tanah Papua yang berlangsung khidmat dan penuh sukacita, Senin (6/4/2026).
Perayaan yang diselenggarakan oleh GKII Wilayah III Papua Tengah ini dihadiri oleh Bupati Nabire Mesak Magai yang juga menjadi sponsor utama kegiatan. Turut hadir Wakil Bupati Intan Jaya, para tokoh agama GKII, hamba Tuhan, serta jemaat dari berbagai klasis di wilayah Nabire.

Ibadah syukur tersebut mengusung tema “Berakar dalam kasih, bertumbuh di dalam iman, dan berdampak bagi gereja serta sesama”, serta dipusatkan di satu lokasi sebagai simbol persatuan jemaat GKII di Papua Tengah.
Suasana ibadah berlangsung khidmat dengan pujian dan penyembahan yang mengiringi ungkapan syukur atas perjalanan panjang pelayanan Injil di Tanah Papua sejak 6 April 1962 hingga 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Nabire, Seprianus, yang juga seorang pendeta, membacakan sejarah singkat perjalanan masuknya Injil dan perkembangan GKII di Tanah Papua.
Dalam pembacaan sejarah disampaikan bahwa pelayanan Injil di Papua dimulai sejak tahun 1936 oleh misionaris Robert Alexander Jaffray melalui pendidikan Alkitab di Makassar. Perjalanan pelayanan terus berkembang hingga akhirnya Injil tiba di wilayah pedalaman Papua.

Tonggak penting pelayanan Injil terjadi pada 13 Januari 1939 ketika para misionaris tiba di wilayah Danau Wissel (Paniai/Enarotali) dan diterima oleh suku Mee. Tanggal tersebut dikenang sebagai awal masuknya Injil di wilayah Pegunungan Tengah Papua.
Perjalanan pelayanan Injil sempat mengalami tantangan, termasuk terhentinya pelayanan pada masa pendudukan Jepang tahun 1942 hingga 1946. Namun pelayanan kembali dilanjutkan dengan baptisan pertama orang Mee pada tahun 1947 serta pembukaan sekolah Alkitab di Enarotali.

Seiring waktu, pelayanan Injil terus meluas ke berbagai wilayah seperti Ilaga, Lembah Baliem, hingga daerah pedalaman lainnya. Puncak perjalanan pelayanan tersebut terjadi pada 6 April 1962 saat terbentuknya sinode yang dikenal sebagai Kingmi, yang kemudian menjadi cikal bakal Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII).

Seiring perkembangan pelayanan, pada tahun 1983 Kingmi secara resmi dilebur menjadi GKII yang berpusat di Jakarta. Hingga saat ini, GKII terus berkembang dengan wilayah pelayanan yang luas di berbagai daerah di Tanah Papua.

Perayaan HUT Kemandirian GKII ke-64 ini menjadi momentum refleksi iman sekaligus penguatan komitmen pelayanan bagi seluruh jemaat untuk terus menjaga persatuan dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.
[Nabire.Net/Musa Boma]


Leave a Reply