Pembangunan Asrama Dogiyai Kota Studi Tomohon Mangkrak Dari 2012, Mahasiswa Minta Pemkab Turun Tangan

Pembangunan asrama mahasiswa Dogiyai di Kota Tomohon, Sulawesi Utara yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Dogiyai pada tahun 2012 hingga saat ini belum selesai 100%.
Demikian penuturan Markus Makai, salah seorang mahasiswa Dogiyai yang juga koordinator IPMADO, Sulawesi Utara.
Kepada Nabire.Net, Markus mengatakan, pembangunan asrama itu dikerjakan oleh PT. Agrotek Biru Lestari dan PT. Teraga Olahrakayasa, dengan sumber dana dari dana otsus, serta dikerjakan bersamaan dengan asrama Dogiyai kota studi Jayapura dan Yogyakarta.
Menurut Markus Makai fasilitas asrama yang dibangun pemerintah Dogiyai tersebut terksan tidak serius karena pembangunan asrama baru selesai 55%.
“Padahal kami adalah pemegang tongkat estafet pengganti bapak/ibu dimasa depan Dogiyai yang lebih baik “Dou Ena”. Oleh karena itu seharusnya kami dididik dan difasilitasi sesuai UU 21 Tahun 2001 tentang Otsus Papua dimana berdasarkan kebijakan Gubernur Papua, dana otsus kabupaten/kota sebesar 80% dan provinsi 20%”, kata Markus.
Oleh karena itu, dirinya meminta kepada Pemda Dogiyai sejumlah hal diantaranya sebagai berikut :
-
Tolong selesaikan pembangunan asrama dalam tahun anggaran 2018.
-
Setiap program pembangun pemerintah harus selesai cepat dan tepat waktu dengan kualitas yang baik.
-
Pemerintah Doigyai harus segera audit pihak kontraktor pelaksana proyek PT. Agrotek Biru Lestari dan Konsultan Proyek PT. Teraga Olahrakayasa.
-
Meningkatkan kinerja pemerintah dan Dewan Pewakilan Rakyat Daerah (DPRD) dalam fungsi pengawasan dan mengontrol setiap kebijakan dan program Daerah.
-
Daerah seperti kabupaten Dogiyai yang baru berkembang tolong perioritaskan pembangunan sumber daya manusia.
-
Mahasiswa Dogiyai di Sulawesi Utara kesulitan mencari tempat kos atau kontrakan karena adanya sejumlah masalah dengan warga setempat.
“Harapan saya kepada Pemerintah Kabupaten Dogiyai, secepatnya dalam tahun anggaran 2018 menyelesaikan pembangun asrama Dogiyai di kota studi Tomohon yang sudah memakan waktu enam tahun. Agar supaya kedepan di kota studi ini melahirkan sumber daya manusia yang siap di pakai di daerah nantinya. Mengingat ekonomi orang tua kami yang sangat lemah dalam membiyai kami dalam proses pendidikan” harap Markus Makai.
[Nabire.Net]




Leave a Reply