INFO NABIRE
Home » Blog » Memaknai Realitas & Hiper Realitas Dalam Pemilu

Memaknai Realitas & Hiper Realitas Dalam Pemilu

(Kiriman Pembaca)

pilkada

Pemilihan umum akan menggerakkan ‘siapa saja’ untuk melakukan ‘apa saja’ dalam memenangkan pemilihan umum. Bukan hanya satu realitas saja, karena ada banyak maneuver dan strategi entah dengan cara yang kotor atau tidak yang bisa di pakai untuk mendominasi atau mendapatkan simpati khalayak banyak. Di Nabire, saya tidak melihatnya sebagai sesuatu yang aneh jika ada hal-hal curang yang di lakukan oleh salah satu calon, karena masyarakat nabire saat ini sangat krisis dengan muda-mudi yang mampu memberikan pahaman tentang politik.

Mahasiswa yang sebenarnya diharapkan untuk merubah mainseat masyarakat tentang perpolitikan, malah hanya sibuk dengan gerakan sectarian dan terlebih lagi mahasiswa yang dikuliahkan di luar daerah, kebanyakan hanya membawa ‘style’ dan gaya hidup yang mereka adaptasi dari tempatnya melanjutkan pendidikan, mungkin mereka lebih memilih mementingkan eksistensi mereka dibanting subtansi mereka sebagai muda-mudi di kota Nabire. Sejauh yang saya pernah pelajari, mahasiswa adalah ‘agen of chenge’ dan ’social control’dalam kehidupan bermasyarakat, tapi di Nabire nampaknya itu hanyalah sekedar fungsi yang terlupakan.

Kembali ke masalah pemilu di Nabire.Yasraf Amir Pilliang, dalam bukunya Transpolitika  (2005), menyebut hiper-realitas sebagai penciptaan realitas yang tidak lagi mengacu pada realitas di dunia nyata sebagai referensinya, sehingga ia menjadi semacam realitas kedua (second hand reality) yang referensinya adalah dirinya sendiri. Hiper-realitas, menurut Pilliang, tampil seperti realitas yang sesungguhnya, padahal ia adalah realitas artifisial, yaitu realitas yang diciptakan lewat tekhnologi simulasi, sehingga, pada tingkat tertentu, ia tampak (dipercaya) sebagai lebih nyata dari realitas yang sesungguhnya.Dengan demikian, dalam pandangan Pilliang, hiper-realitas menciptakan sebuah kondisi, yang didalamnya citra dianggap sebagai “realitas”, kesemuan dianggap kenyataan, kepalsuan dianggap kebenaran, isu lebih dipercaya dari ketimbang informasi dan rumor dianggap lebih benar ketimbang  kebenaran. Di dalam keadaan hiperealitas ini, kita tidak sadar lagi bahwa apa yang kita lihat sebagai suatu kenyataan tersebut sebetulnya adalah konstruksi atau rekayasa realitas.

Hiper realitas dan Second Hand (tangan kedua) sangat berdampak pada pemilih yang ada di nabire. Bagaimana tidak? Para muda-mudi di nabire dewasa ini lebih memilih menghabiskan setengah waktunya untuk hidup dalam dunia kedua (baca: dunia maya) sehingga untuk melakukan kampanye di media sosial adalah sangat efektif. Kini sejauh apa yang saya lihat, banyak muda-mudi di Nabire yang nampaknya menjadi LATAH oleh politik, sebab banyak bermunculan User/akun yang menjadi salah satu tim sukses pada pemilihan Calon bupati dan Calon Wakil Bupati nabire saat ini. Saya hanya menjadi takut ketika masyarakat ‘dunia maya’ terutama yang berdomisili di nabire, di hadapkan pada Hasil analisis yang tumpul, karena mereka berbicara tanpa data-data yang valid. Tidak ada yang salah jika semua melakukan analisis, yang salah itu ketika analisi itu adalah analisis yang artifisial (buatan) untuk memenangkan pihak tertentu. Siapa yang harus kita salahkan?

Saya menulis ini karena saya sudah resah dengan gaya kampanya yang tidak sehat itu, karena masyarakat menjadi pusing sehingga mereka memilih ‘uang’ sebagai tiket untuk siapa saja yang mau mereka tumpangi janji politiknya hingga 5 tahun kedepan. Saya berharap masyarakat Nabire mulai sadar akan hal ini, terutama muda-mudi ‘dunia lain’ yang tentu tidak terlalu banyak tau menau tentang perpolitikan karena jujur di nabire salah satu tugas partai adalah memberikan pendidikan politik kepada masyarakat yang selama ini tidak pernah di realisasikan.

“Memilih dalam pemilu adalah menentukan siapa yang akan membawamu menuju ke gerbang kebahagiaan, kenyamanan dan kesejahteraan banyak orang, bukan perihal siapa yang membayarmu sewaktu pemilu diadakan, karena satu suaramu tak lebih mahal dari satu ekor ayam jika kau memilih karena dibayar”

(Penulis bernama Lengkap Fauzan Al Ayyuby, biasa di panggil Ochank. Penulis Lahir di nabire, 4 maret 1994. Penulis saat ini sedang melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri swasta yang ada di Makassar. Penulis aktif dan menjadi Ketua umum pada Himpunan Mahasiswa sistem Informasi STMIK Akba Makassar Periode 2015-2016. Penulis mempunyai beberapa user/akun dalam media sosial yaitu Facebook : Fauzan Al Ayyuby, Email : Uchanalayyuby@gmail.com.)

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.