News & Info
Home » Blog » Mama Robeka, Bertahun-Tahun Berdayakan Warga Samabusa Untuk Berkebun

Mama Robeka, Bertahun-Tahun Berdayakan Warga Samabusa Untuk Berkebun

1

“Halo…apakabar? Aduh, Mama senang sekali kalo dapet telpon!” Kami belum pernah berjumpa. Komunikasi hanya terjalin melalui beberapa kali sambungan telpon. Namun cara suara perempuan paruh baya di seberang sana menyapa dan berbincang terdengar begitu hangat, akrab. Nama si pemilik suara adalah Robeka Rumanum atau biasa disapa Mama Robeka. Sejak tahun 1975 tinggal di desa Sambusa, kabupaten Nabire, Papua. Ia meninggalkan kampung halamannya di Biak karena mengikuti suaminya sebagai pendidik di wilayah yang tergolong terisolasi dengan hanya 6 kepala keluarga bermukim disana saat itu.

Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, Mama tak suka berpangku tangan. Ia mengisi waktu luang dengan kegiatan cocok tanam di kebun. Sambilan juga ia belajar cara menangani persalinan secara tradisional dari istri kepala desa. Tapi aktivitas di kebun adalah segalanya bagi Mama Robeka. “Dari dulu orang tua kasih saya makanan khas Papua dari hasil berkebun. Saya besar sampai menikah, saya terus berkebun. Anak-anak sampai kemudian cucu-cucu juga saya kasih makan dari hasil kebun. Dari hasil kebun…perempuan bisa mencukupi.” Tutur Mama merangkum makna berkebun dalam perjalanan hidupnya. Tidak mengherankan bila diusia yang menjelang 60 tahun, tubuhnya tak terlihat renta untuk melakukan tahapan menanam, memanen dan memasak hasil kebun. Sambil tertawa lepas, ada kebanggan yang tak terhingga saat menginfo bahwa anak dan cucunya tak bisa lepas dari masakan khas Papua olahan hasil kebunnya.

2

Sampai akhirnya perusahaan kayu membuat rantaian isolasi  di wilayah Sambusa perlahan terurai. Masuknya beras, gula, garam telur, dan aneka komoditas yang semula tidak pernah dikenal penduduk setempat sebelumnya mengubah kebiasaan dan pola konsumsi masyarakat setempat. Penduduk lokal terbawa pada arus perubahan dari para pendatang terutama jenis pangan harian. Mereka meninggalkan bahan makanan pokok setempat lalu beralih ke produk dari luar daerah. Tidak mengehrankan jika harga makanan pokok membumbung seiring naiknya laju roda biaya transportasi. Belum lagi bencana alam. “Pernah tidak ada beras sama sekali. Karena jembatan hancur gempa memutuskan jembatan penghubung di pelabuhan Nabire.” Kenang Mama.

Sebagai istri dan ibu, perjalanan hidup Mama Robeka tidaklah setenang suasana di tempat tinggalnya. Tahun 1992, Piet Baransano, sang suami tercinta meninggal dunia. Jadilah Mama menggantikan peran sebagai sosok tumpuan sumber ladang penghidupan keluarga. Berbagai pekerjaan yang menghasilkan tambahan rupiah ia jalani. Menjual sirih pinang sampai buruh cuci di sebuah lokalisasi. Namun aktivitas berkebun menanam singkong, ubi, bête, talas dan sayur-sayuran tak pernah ia tinggalkan. Ia mengaku sangat terbantu oleh kebun sebagai sumber asupan anggota keluarga disaat ia harus berjibaku mencari rupiah. “Kita harus berkebun karena beras bukan kita yang tanam,” Tegas Mama Robeka.

3

Maka Mama pun tidak ragu mengunjungi perempuan di sekitarnya lalu mengajak berkebun bersama di lahan miliknya. Di Sambuasa setidaknya ada 4 suku pemukim asli yaitu Wate, Dani, Serui dan Biak. Saat melakukan imbauan ke suku Wate, hambatan muncul karena suku ini tidak pernah memiliki kebiasaan berkebun. Mereka terbiasa mencari makanan ke hutan seperti berburu dan mengambil tanaman yang tersedia di sana. Suku-suku yang lain relatif sudah mengenal berkebun. Namun tantangan datang dari para suami yang khawatir istri-istri mereka akan menelantarkan pekerjaan rumah tangga dan kecurigaan bahwa Mama Robeka sendiri yang akan memetik keuntungan dari kegiatan ini mengingat aktivitas berkebun dilakukan di lahan miliknya.

Pantang mundur Mama meneruskan upayanya bersama 13 orang yang bersedia bergabung di kebun pribadi Mama. Mereka memulai dengan memilah-milah lahan menjadi petak-petak. Setiap orang bertanggung jawab dengan petak bagiannya. Tiga bulan kemudian sayur yang ditanam mulai dipanen. Tidak hanya dikonsumsi sendiri, hasil panen dijual ke berbagai daerah termasuk pasar di depan pelabuhan. Setelah sayur giliran singkong, ubi dan mete yang memberikan hasil.

Kenangan akan satu jenis tanaman pangan asli Sambusa yang kini tidak banyak dikenal, ditanam, dan dikonsumsi membuat Mama bergiat untuk menggalakannya kembali. Nama tanaman itu adalah sera’e. Sebagai permulaan,  Mama Robeka bertanya-tanya pada tokoh adat Wate untuk mendapatkan bibit tanaman ini. Bersama kelompoknya, ia berburu ke hutan mencari bibit sera’e. Setidaknya dua jenis sera’e  yaitu yang berwarna putih dan ungu berhasil ditemukan lalu dibudidayakan di kebun kelompok. Satu jenis sera’e yang lain belum berhasil ditemukan karena harus masuk lebih dalam ke hutan. Kini di tangan Mama Robeka dan kelompoknya, sera’e kembali ditanam dan dikonsumsi. Keberadaan sera’e ini juga yang membuat kebun kelompok Mama Robeka melaju mewakili Sambusa dalam lomba pangan tingkat kabupaten Nabire.

Tentang semangatnya menggalakkan penanaman dan konsumsi sera’e, Mama Robeka mengungkapkan dua alasannya, selain sebagai pengingat pentingnya kembali ke pangan lokal, inilah upaya Mama Robeka untuk menjaga dan menghormati warisan kekayaan setempat. “Walau sudah puluhan tahun di Sambusa,  saya tidak lupa kalau saya pendatang. Menanam sera’e itu seperti ucapan terimakasih atas apa yang sudah diberikan Sambusa pada keluarga saya.” Ujar Mama Robeka pada sebuah situs pemberdayaan masyarakat Papua. Kemajuan kelompok Mama Robeka ditandai dengan bertambahnya anggota kelompok kebun mereka hingga saat ini berjumlah 40 orang. Sebanyak 30 perempuan anggota kelompok ini adalah perempuan yang senasib dengan Mama yaitu menjadi kepala rumah tangga. Sedangkan sisanya adalah laki-laki yang ikut merasakan manfaat dari berkebun guna meningkatkan kesejahteraan dan asupan gizi keluarga.

(Sumber : Tupperware SheCAN!)

Post Related

Leave a Reply

  • M Ridwan Adi P
    20 September, 2014 22:42 at 22:42

    Saya memiliki referensi web tentang wisata
    kuliner dan wisata liburan Liburan

  • Beny
    6 November, 2013 22:31 at 22:31

    siooo kasian e, terharu baca cerita, semoga Tuhan Yesus selalu sayang mama dan kasih berkat buat mama sekeluarga…

Your email address will not be published.