Kepala Suku Besar Meepago Apresiasi Penyelesaian Konflik Suku Mee dan Moni di Wadio Nabire
Nabire, 23 Agustus 2025 – Konflik antara Suku Mee dan Suku Moni yang sempat terjadi di wilayah Meepago, Papua Tengah, secara resmi dinyatakan selesai melalui mekanisme adat. Penegasan damai dilakukan dalam prosesi penyerahan denda adat di Wadio, Nabire, Sabtu (23/8/2025).
Kasus ini berawal dari bentrokan pada tahun 2024 lalu di Hotel Jepara 2, yang dipicu oleh pengaruh minuman keras. Seorang warga bernama Yohanes Belau terkena panah dalam insiden tersebut, dan setelah menjalani perawatan selama lebih dari empat bulan, akhirnya meninggal dunia.
Sebagai bentuk tanggung jawab adat, pihak Suku Moni menyerahkan denda sebesar Rp400 juta lebih dan dua ekor babi kepada keluarga korban. Penyerahan ini menjadi simbol berakhirnya perselisihan antar kedua suku sekaligus menjaga keharmonisan masyarakat adat di Meepago.
Kepala Suku Besar Wilayah Meepago, Melkias Keiya, menyampaikan apresiasi atas peran para tokoh adat dan aparat kepolisian dalam proses rekonsiliasi.
“Atas nama masyarakat adat Meepago, saya berterima kasih kepada Kepala Suku Besar Moni, Musa Kobogau, para tokoh adat, dan khususnya Kapolres Nabire beserta jajaran yang telah memfasilitasi penyelesaian konflik ini. Berkat kerja sama semua pihak, masalah besar yang pernah terjadi dapat diselesaikan damai melalui mekanisme adat,” ungkapnya.
Melkias menambahkan, selain berakhirnya persoalan antara Suku Mee dan Suku Moni, perbedaan internal dalam tubuh Suku Moni juga berhasil diredam dengan semangat persaudaraan.
“Kiranya Tuhan memberkati kita semua, menjaga perdamaian, dan memberi kekuatan agar masyarakat adat tetap hidup rukun di tanah Papua,” ujarnya.
Dengan tuntasnya konflik ini, masyarakat adat Meepago diimbau menjaga persatuan, menghindari provokasi, serta menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran agar tidak ada lagi korban akibat pengaruh alkohol maupun kekerasan.
[Nabire.Net]



Leave a Reply