John Gobai : Gara-Gara 10 Ribu Rupiah Rakyat Deiyai Jadi Korban

(Mapolsek Tigi pasca ricuh Deiyai 21 Mei 2019)

Deiyai – Beberapa waktu lalu kita semua mendengar tentang kasus Oneibo, rakyat deiyai tertembak oleh oknum anggota brimob, kini kita mendengar rakyat Deiyai tertembak lagi. Ini sebuah kenyataan yang menunjukan adanya pengamanan bagi para pengusaha di Meepago.

Kasus Deiyai 21 Mey 2019

Menurut media Jubi, informasi itu disampaikan Pastor Santon Tekege Pr saat dihubungi di Wagete, Selasa malam (21/5/2019). Pastor Tekege menuturkan penembakan itu bermula dari empat pemuda yang mabuk mencegat mobil yang melintas di dekat SMP YPPK Wagete.

“Mereka mencegat satu mobil yang melintas, dan meminta sopir memberi uang Rp10.000 untuk membeli rokok. Sopir menyatakan tidak punya uang, sehingga dia beradu mulut dengan keempat pemuda itu. Sopir lalu turun dari mobil, dan mengejar mereka dengan mengacungkan parang,” kata Pastor Tekege.

Keempat pemuda itu melarikan diri, sehingga sopir kembali ke mobil. Akan tetapi, ketika mobil itu hendak pergi, keempat pemuda datang bersama sekelompok orang lainnya, dan menghancurkan kaca mobil itu.

Sopir mobil itu melarikan diri dan melapor ke Kepolisian Sektor (Polsek) Tigi. Menurut Pastor Tekege, polisi dari Polsek Tigi datang ke lokasi pemalangan, dan melepaskan tembakan. Seorang warga, Elianus Dogopiai, terkena tembakan di bagian paha, dan dilarikan ke Rumah Sakit Deiyai.

Penembakan itu membuat warga di Wagete marah, dan mendatangi markas Polsek Tigi. Warga yang marah akhirnya membakar markas Polsek Tigi pada Selasa petang. Polisi akhirnya mengejar massa, dan beberapa kali melepaskan tembakan. Salah satu tembakan itu mengenai kepala Julius Mote, yang meninggal di lokasi penembakan.

“Ada banyak polisi dan Brimob dari Enarotali dan Deiyai turun ke Wagete, dan menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa. Mereka melepas tembakan, suara tembakan terdengar berulang kali, beberapa warga lainnya dikabarkan terluka karena tembakan, namun kami belum bisa memastikan identitas para korban. Mulai pukul 19.00, aliran listrik di Wagete dipadamkan, dan suasananya mencekam,”ungkap Pastor Tekege.

Pastor Tekege menyatakan cara polisi menangani pencegatan mobil yang melintas di Wagete itu menunjukkan polisi lebih mengedepankan pendekatan represif ketimbang upaya persuasif. “Polisi harus bertanggung jawab atas penembakan itu,”ungkap Pastor Tekege.

Analisa

Jika sopir bisa memberikan uang Rp.10.000 pasti masalah tidak panjang dan melebar yang kedua kalo Polisi tidak menghadapi masa dengan senjata masalah tidak mungkin jadi panjang dan jatuh korban.
Patut diduga sopir yang mencari makan di meeuwo sulit membangun hubungan komunikasi yang baik dengan warga.

Polisi lebih mengedepankan sikap arogan dan represif terhadap warga sehingga persoalan yang sepeleh telah berujung pada sebuah korban jiwa dengan timah panas dan alat negara yang dibeli oleh uang rakyat.

Saran
Saya minta agar tidak boleh ada penambahan pasukan di Deiyai, tentang Kantor yang dibakar saya yakin Bupati Deiyai akan membangun kembali.

Saya juga memberikan saran, antara lain;

1. Kapolda Papua agar bertanggung jawab terhadap kasus ini, Pecat oknum anggota yang terlibat didepan rakyat dan borgol depan rakyat sebagai masyarakat biasa
2. Komnas Ham agar segera menurunkan timnya di Deiyai
3. Penyelesaian kasus ini harus dilakukan melalui pengadilan adat terbuka dengan pendekatan Restorative justice bergaya Papua dan Pengadilan Umum, dan harus dilakukan terbuka.

Salam
John NR Gobai, Anggota DPR Papua

[Nabire.Net]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *