Indonesia sebagai salah satu Negara yang jumlah perokoknya terbanyak di dunia, selama sekian tahun para perokok telah menghidupkan pabrik rokok. Bahkan hasil pembelian rokok lebih menambah Pendapatan Asli Negara.
Beberapa merek rokok, di Indonesia dikemas demikian rupa menarik perhatian para pengemar rokok. Rasanya tanpa rokok hidup tak berarti. Bahkan bisa memudarkan semangat juang dalam aktivitas setiap hari. “Jika tidak merokok, rasanya ngantuk, mau tidur hampir cerai dengan kegiatan sehari-hari,” papar seorang pejabat disalah satu Caffe di Nabire, Sabtu (11/10), malam.
Rasanya, lapar bisa tahan, selama 2-3 hari, namun pusing kepala karena tak merokok rasanya hidup ini tak berarti. Kalimat ini tidak hanya dirasakan oleh seseorang saja, akan tetapi oleh berbagai kalangan yang sudah “kategori pecandu perokok”.
Sejak awal September 2014, rokok merek baru atau doz bergambar peringatan perintah mulai beredar. Berbagai opini bermunculan bak menanggapi dengan miring atas kehadiran rokok yang bergambar.
Bagi pemerintah ingin mengurangi jumlah perokok dan dengan tujuan mengantisipasi penyakit kangker mulut dan kangker kerongkongan akibat merokok. Peringatan pemerintah ternyata berhasil mencapai tujuan dari gambar tersebut.
Imbas bagi para perokok atas peringatan pemerintah yang keras akan penyakit kanker kerongkongan menjadi catatan khusus bagi perokok di mana saja berada di Indonesia. Terkesan kini mulai memutuskan jalingan dengan rokok. Walau mereka tetap merokok namun mencari rokok-rokok yang tak berlogo. Khususnya warga di beberapa kabupaten di pegunungan tengah Papua.
Sejak beredarnya rokok bergambar, para perokok mulai segan merokok. Rasanya takut hanya dengan gambar yang tertera pada bungkusan luar. tidak serta merta membeli rokok-rokok yang bergambar, namun mencari rokok produk lama yang tak bergambar sekalipun harganya meroket.
Penulis berupaya mewawancarai berbagai kalangan terutama para perokok, misalnya Paulus Mote, dirinya setiap hari menghabiskan 3-4 bungkus rokok Saempoerna. Merokok baginya sudah terbiasa sejak duduk di kelas satu SMP di Nabire. Merokok memang untung dan rugi. Untungnya, rokok menjadi alat tali persahabatan antar sesama. Memang ini suatu tradisi yang sudah lama ada di pegunungan tengah Papua.
“Rokok menjadi alat atau jembatan menjaling persaudaraan,pendamai, dan awal menuju perkenalan dengan sesama,” paparnya.
Sementara merokok juga dapat merugikan, selain kesehatan, juga dampak sosialnya bagi masyarakat yakni bisa menjadi alat pui-pui untuk menghilangkan nyawa manusia. Bagi saya kata Jhon sangat kecewa dengan propaganda pemerintah yang menampilkan gambar yang begitu parah karena takut dengan gambar saya mulai melupakan rokok, namun imbasnya menurunkan aktivitas setiap hari.
Senada dilontarkan, Marselus Douw, adalah manta ketua KPUD Kabupaten Dogiyai, mengakui merokok baginya adalah suatu kebutuhan yang sangat tak terlupakan setiap hari. “Saya bisa menghabiskan 4-5 bungkus perhari,” ungkapnya, saya selalu merokok rokok saempoerna putih.
Marselus Douw, mulai merokok sejak duduk di SMP. Tidak ada kata pilih beli rokok sekalipun ada gambar atau tidak baginya bukan alasan untuk memutuskan hubungan dengan bungkusan putih itu. Namun Marsel juga mengamati, sejak beredarnya rokok yang bergambar penyakit kangker di keronggongan itu, terlihat sebagian besar pemuda di pelataran pegunungan itu mulai berhentik merokok. Bahkan mereka lebih memiliki mengkonsumsi tembakau asli.
Beda Rasa
Rokok antar yang bergambar dan rokok yang tak bergambar tidak sama rasanya. Rokok lama, atau rokok yang tak bergambar rasanya enak dan nikmat ketika merokok. Namun rasanya beda dengan rokok-rokok produk baru yang bergambar. Masalahnya, rokok produk baru ketika merokok ada sesuatu yang turun dalam kerongkongan, kepala pening, dan rasa pahit di mulut. bahkan setiap orang mengkonsumsikan rokok produk baru mengeluh hal sama.
Para pejabat di Papua umumnya mengkonsumsi rokok Saempoerna putih. Marion Dogopia, kepala Distrik Bouwobado, Kabupaten Deiyai, Papua, membenarkan dirinya merasa lain. Khasiat rokok lama dan baru tidak sama. Rokok produk lama memang sangat nikmat.
Meroketnya Harga Rokok Lama
Pintarnya para pedagang, harga rokok lama atau rokok yang tak bergambar dinaikkan harga mencapai dua puluh lima ribuh rupiah per bungkus di kota Nabire sementara dipedalaman atau Kabupaten Dogiyai, Deiyai, Panaiai, IntanJaya merangkak naik hingga tigapuluh lima ribuh rupiah perbungkus. Harga ini bisa meroket hingga pada 50 ribuh per bungkus, tergantung situasi. “Ya, karena semua orang ingin konsumsi rokok lama, sedangkan rokok bergambar mereka tidak mau beli jadi kami naikkan harga,” kata penjual di Waghete.
Pemilik kios Afis Waghete itu membenarkan jika rokok produk lama meningkat harganya. “Kami juga ambilnya di Nabire dengan harga yang besar. Karena itu saya juga menaikkan beberapa porsen harga dari harga aslinya,”paparnya.
Ketika ditanya kondisi pasar soal jual beli rokok bergambar, diakuinya hampir semua warga tak membeli. Bahkan stok rokok baru sedang menumpuk di gudang. “Ia kelihatannya warga takut dengan gambar pada bungkusan rokok itu, jadi mereka tidak membeli,” tukasnya.
Leave a Reply