Mengenal Tradisi Abonfan Matilon di Pesisir Pantai Sarmi

Sarmi – Suku Sobey yang mendiami pesisir pantai Sarmi memiliki cara dan sistem melindungi dan melestarikan sumber daya alam sekitarnya.
Pulau Liki sudah memanfaatkannya secara komersil, dan juga telah menerapkan pola konservasi tradisional yang dikenal dengan Abonfan Matilon.
Abonfan Matilon merupakan kegiatan penutupan wilayah laut dalam jangka waktu tertentu dari kegiatan penangkapan bia lola dengan maksud untuk memberikan kesempatan kepada biota tersebut berkembangbiak.
Penutupan dan pembukaan kembali kegiatan penangkapan bia lola tersebut dilakukan melalui upacara rital adat yang dipimpin oleh ketua adat atau kepala kampung.
Kearifan lokal ini masih terus dijalankan secara konsekuen oleh masyarakat di Pulau Liki (Kepulauan Kumamba) terutama untuk jenis bia lola.
Kearifan lokal dapat dilihat dari aspek waktu. Waktu regenerasi untuk bia lola adalah dua tahun, jika lebih dari dua tahun maka bia lola telah melampaui umur panen dan akan mati.
Mutu cangkangnya menjadi berkurang karena warnanya menjadi hitam, aspek lain dari kearifan tersebut adalah sumberdaya alam tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan bersama misalnya untuk membangun gereja, untuk menyelenggarakan sidang gereja atau untuk keperluan lainnya.
Aspek lain dari kearifan lokal tersebut adalah membangun kebersamaan antar warga kampung dalam mengelola sumberdaya tersebut.
Selanjutnya, pola konservasi tradisionil ini perlu dilestarikan dan bila mungkin perlu dikembangkan untuk jenis biota laut lainnya serta dapat pula menjadi salah satu obyek wisata budaya.
Masyarakat Kampung Sawar dan Pulau Liki hingga sekarang masih menggunakan peralatan tradisional dalam mencari ikan.
Selain itu ada klen atau marga yang tidak boleh mengkonsumsi jenis ikan tertentu, misalnya marga wayaso tidak boleh makan ikan layar.
Menurut kisah klen Wayaso, dahulu ketika terjadi tsunami, marga tersebut terseret air ke laut lepas dan menjelma menjadi ikan layar.
Jika melanggar pantangan tersebut maka akan kena penyakit kulit, gatal-gatal. Mereka bisa disembuhkan oleh tokoh ada yang memiliki kekuatan magis.
[Nabire.Net/Hari Suroto]


Leave a Reply