INFO NABIRE INFO PAPUA TENGAH
Home » Blog » Kasus ASF Turun di Timika, Nabire Masih Menghadapi Lonjakan Kematian Babi

Kasus ASF Turun di Timika, Nabire Masih Menghadapi Lonjakan Kematian Babi

(Kasus ASF Turun di Timika, Nabire Masih Menghadapi Lonjakan Kematian Babi)

Mimika, 22 Desember 2024 – Meski kasus African Swine Fever (ASF) di Mimika mulai melandai, masyarakat dan peternak tetap diimbau untuk menerapkan langkah-langkah pencegahan agar wabah ini tidak kembali meluas.

Kepala Karantina Papua Tengah, Ferdi, menjelaskan bahwa pencegahan penyebaran ASF dapat dilakukan melalui enam langkah berikut:

1. Melaporkan Kasus: Segera laporkan babi yang sakit atau mati ke Dinas Peternakan atau Karantina untuk proses evakuasi.

2. Penguburan Bangkai Babi: Jika tidak ada respons dari petugas, kubur bangkai babi dengan kedalaman minimal 3 meter. Hindari membuang bangkai ke jalan atau sungai.

3. Desinfeksi Kandang: Bersihkan kandang dengan menyemprotkan cairan desinfektan secara rutin.

4. Hindari Penyebaran Virus: Jangan keluar masuk kandang dari area sakit ke kandang sehat tanpa membersihkan diri. Pastikan kebersihan diri sebelum mendekati babi lain.

5. Larangan Pengiriman Babi: Jangan mengirim atau menerima babi serta produk turunannya dari atau ke luar daerah.

6. Pelaporan Transportasi: Laporkan ke Karantina jika ada orang membawa babi atau produknya melalui bandara atau pelabuhan.

“Dengan langkah ini, kita bisa mencegah penyebaran ASF lebih luas,” ujar Ferdi.

Ketua Tim Karantina Hewan di Karantina Papua Tengah, drh. Ardhiana Nur Suryani, juga menegaskan bahwa kasus ASF di Mimika sudah menurun signifikan dibandingkan awal tahun. Namun, pengawasan tetap diperlukan untuk memastikan kasus tidak kembali meningkat.

“Di Timika, kasus kematian babi sudah jauh berkurang dibandingkan Januari hingga Agustus. Namun, kewaspadaan tetap harus dijaga,” ujar drh. Ardhiana pada Sabtu (21/12/2024).

Di Nabire, situasi lebih mengkhawatirkan. Sebanyak 1.400 ekor babi dilaporkan mati akibat ASF dari total populasi 18.000 ekor. Jika tidak diatasi, dikhawatirkan wabah ini dapat menyebabkan kerugian besar seperti yang terjadi di Timika sebelumnya.

Sementara itu, Ferdi menambahkan bahwa ASF belum memiliki obat maupun vaksin di Indonesia, sehingga pencegahan menjadi langkah utama. Untuk itu, Timika telah melakukan lockdown dengan menyemprotkan desinfektan di bandara dan pelabuhan serta melarang keluar-masuknya babi dan produk turunannya.

“Dengan langkah ini, kami berharap Kabupaten Mimika bisa kembali steril dan siap untuk merepopulasi babi tanpa ancaman ASF,” pungkasnya.

[Nabire.Net/Yosef Doo]


Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.