Jemaat Kasih Kadaitadi Lepas Kepergian Herman Adii dalam Ibadah Penuh Makna
Nabire, 17 Januari 2026 – Keluarga besar almarhum Herman Adii bersama Majelis Jemaat Kasih Kadaitadi, Klasis Bogobaida, Koordinator Paniai, Gereja Kingmi Sinode Papua, menggelar ibadah pelepasan jenazah pada Sabtu (17/1/2026). Ibadah berlangsung khidmat di Karang Mulia, Nabire, Provinsi Papua Tengah.
Sekitar 58 orang jemaat dari berbagai denominasi dan unsur keluarga hadir dalam ibadah tersebut. Mereka datang dari Apikopa, Yamekopa, Keneka, Akaitayoka, serta keluarga besar Klasis Bogobaida. Perwakilan jemaat dari empat distrik besar, yakni Bogobaida, Youtadi, Bayabiru, dan Siriwo, turut hadir untuk menyatakan dukacita dan kebersamaan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Firman Tuhan disampaikan oleh Ev. Aten Degei, S.Th dengan judul khotbah “Setelah Mati Tidak Ada Harapan Lagi” berdasarkan Ayub 14:1, “Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan.”
Dalam khotbahnya, Ev. Aten Degei menekankan bahwa pelayanan kepada Tuhan hanya dapat dilakukan selama manusia masih hidup dan bernafas. Setelah kematian, tidak ada lagi kesempatan untuk melayani, melainkan manusia hanya menuai hasil dari perbuatannya selama hidup.
“Waktu yang Tuhan anugerahkan harus digunakan sebaik-baiknya. Setelah mati tidak ada lagi harapan untuk pelayanan, tetapi perbuatan kita selama hidup itulah yang menyertai kita,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa hidup manusia, baik kaya maupun miskin, memiliki batas waktu. Manusia diibaratkan seperti bunga yang tumbuh lalu layu. Karena itu, umat diajak untuk tidak melupakan Tuhan dalam kehidupan dan pelayanan, sebab itulah yang akan dinikmati ketika jiwa dan tubuh berpisah.
Upacara pemakaman jenazah dipimpin oleh Ev. Zet Nawipa, S.Th dari Nabarua pada hari yang sama. Dalam penyampaiannya, ia mengutip Wahyu 14:13, “Berbahagialah orang-orang yang mati dalam Tuhan… karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.”
Ev. Zet Nawipa menegaskan bahwa hidup adalah pelayanan, dan pelayanan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Menurutnya, manusia diciptakan dari debu tanah oleh kasih dan anugerah Tuhan, dan pada akhirnya akan kembali menjadi debu sesuai ketetapan Allah.
Riwayat hidup almarhum dibacakan oleh Daud Adii, S.IP. Disebutkan bahwa Herman Adii lahir di Kadaitadi pada tahun 1971. Ia mengabdikan diri sebagai Majelis Jemaat Kasih Kadaitadi, Klasis Bogobaida, sejak masih berstatus pemuda dan melayani selama kurang lebih 10 tahun. Setelah menikah dengan Yulita Madai, almarhum tetap setia melayani Tuhan sebagai majelis hingga akhir hidupnya pada Kamis (15/1/2026).
Perwakilan keluarga, anak sulung almarhum Benyamin Adii, S.E, bersama Jemaat Kasih Kadaitadi menyampaikan ucapan selamat jalan dan selamat pulang kepada Sang Pencipta atas dedikasi, pemeliharaan, dan pelayanan almarhum semasa hidupnya. Keluarga juga menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kesalahan selama almarhum hidup dan bergaul di tengah jemaat.
“Kiranya segala perbuatan baiknya menyertai dia, dan semoga Tuhan Allah menerima arwahnya dalam kemuliaan-Nya,” ujar perwakilan keluarga.
[Nabire.Net]


Leave a Reply