Menelusuri Tulang Tentara Jepang Korban Perang Pasifik 1942 Di Papua

Tulang Tentara Jepang

(Dok.Tulang Tentara Jepang)

Jayapura – Sejumlah tulang belulang yang diduga milik tentara Jepang, ditemukan banyak berserakan di kampung Puay, Sentani, Jayapura.

Pada umumnya, warga menemukan tulang-tulang tersebut di halaman rumah mereka. Tulang ini bermunculan pada saat tanah di kampung Puay terkikis oleh deburan air danau Sentani.

(Dok.Tim dari Balai Arkeologi Papua saat mengecek tulang belulang tentara Jepang di Kampung Puay)

Awalnya, setiap ditemukan, warga setempat hanya mengumpulkan tulang tersebut di pekarangan rumah mereka atau di bawah pohon.

Hal ini berubah saat Iwabuchi, salah seorang anak dari tentara Jepang yang meninggal pada perang pasifik tahun 1942 lalu antara Jepang dengan Sekutu, mencari kerangka dan tulang belulang ayahnya.

Hal ini turut didukung Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia dengan maksud untuk membawa kembali tulang tentara Jepang untuk disemayamkan di Kuil yang khusus untuk menghormati warga jepang yang menjadi korban dalam perang dunia II.

Dalam rangka mencari tulang lebih banyak lagi maka tahun 2012, Iwabuchi membawa peralatan dari Jepang yaitu alat semprot air untuk mengupas lapisan tanah agar tulang-tulang tersebut muncul.

Mesin semprot yang dibawa tersebut rupanya bermasalah dan tidak berfungsi, mesin ini menggunakan tenaga genset 6800 Kwh. Karena tak berfungsi, maka akhirnya mesin dibawa kembali ke Jepang, sedangkan genset diberikan kepada warga kampung Puay.

Tak hanya itu, Iwabuchi juga memberikan bantuan mesin gergaji dan uang sebesar 10 juta kepada warga Kampung Puay.

Pada tahun 2012, Iwabuchi juga melakukan kremasi tlang belulang yang berhasil dikumpulkan warga di kampung Puay.

Baru pada tahun 2013, ada MoU antara pemerintah Jepang dengan indonesia sehingga pengambilan tulang-tulang tersebut sempat terhenti.

Hal ini disebabkan tulang tentara Jepang dianggar cagar budaya dan dilindungi sesuai UU Nomor 11 Tahun 2010.

Namun atas dasar pertimbangan kemanusiaan, Mendikbud saat itu M.Nuh mengijinkan pengambilan tulang tentara Jepang.

Selain di Puay, Iwabuchi juga melakukan kremasi di Biak. Iwabuchi juga mengumpulkan tulang di Sarmi, namun kremasinya di kampung Puay.

Iwabuchi sendiri pernah menjanjikan akan membangun gereja dan balai adat kepada warga kampung Puay pada tahun 2013, namun hingga saat ini janji tersebut urung ditepati.

Pada tahun 2014 ada penyusunan MoU ulang, tapi menemui titik buntu, karena masyarakat Biak meminta kompensasi yang layak sementara Iwabuchi dan pemerintah Jepang belum bisa memutuskan hal itu.

Sebagai informasi, ada kurang lebih 8000 tentara Jepang yang ditempatkan di Hollandia (nama Jayapura waktu itu). Sebagian besar tentara Jepang tersebut tewas ditangan tentara Sekutu pimpinan Jenderal Mac Arthur.

[Nabire.Net/Hari.Suroto]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *