Kepala Suku Besar Wilayah Tengah Himbau Masyarakat Nabire Ciptakan Suasana Yang Tertib & Kondusif

Kabupaten Nabire merupakan daerah tempat berkumpulnya aneka ragam suku. Permasalahan yang timbul ditengah-tengah masyarakat tentu tidak lepas dari peran kepala suku. Oleh karenanya, saat ini saatnya Kepala Suku berbicara. Hal itu ditegasakan Kepala Suku Besar Wilayah Tengah, Yakobus Muyapa, Minggu (15/9) malam di kantor redaksi Papuapos Nabire.

Dikatakannya, permasalahan yang sering timbul di tengah-tengah masyarakat, baik itu terjadi dikalangan satu suku, antar suku seringkali menimbulkan gesekan yang mengakibatkan terganggunya Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) dan masalah berkepanjangan. Hal itu mau tidak mau suka atau tidak suka mutlak diperlukan peran dari kepala suku untuk menyelesaikannya.

Menurutnya, permasalahan yang mendasar yang sering menimbulkan permasalahan adalah minuman keras. Utamanya miras oplosan dan sejenis seperti aibon yang sering kali digunakan anak-anak muda sebagai jalan pintas.

“Saatnya kepala suku berbicara, mengingat kondisi dan situasi Kabupaten Nabire dan sekitarnya yang sudah membuat masyarakat terganggu ketenangannya dengan merajalelanya miras, miras oplosan dan sejenisnya seperti aibon yang sering disalahgunakan,” ungkapnya.

“Banyak sudah generasi muda yang menjadi korban miras, barang oplosan, minuman lokal serta barang-barang yang salah digunakan macam Aibon. Bila hal ini dibiarkan maka kita tidak bisa membayangkan berapa lagi generasi muda sebagai penerus bangsa akan menjadi korban sia-sia, korabn hanya karena miras oplosan, bobo dan aibon. Dan ini tidak bisa kita biarkan. Perlu ada perhatian dan penanganan serius, baik itu dari Pemerintah daerah, aparat keamanan dan komponen masyarakat lainnya,” tuturnya.

Untuk itu, Kepala Suku Besar Wilayah Tengah, Yakobus Muyapa meminta dan menghimbau, pertama kepada pemerintah daerah, untuk menertibkan miras. Penjualan miras tidak boleh dilakukan di dalam kota tetapi harus diluar kota. Miras harus ditempat-tempat yang ditentukan dan sudah seharusnya ditempatkan di satu lokasi atau dipusatkan disatu titik.

“Saya menghimbau kepada pemerintah daerah, agar Miras tidak dijual di dalam kota tetapi harus diluar kota dan ditempatkan/dipusatkan di satu lokasi, sehingga mudah untuk dilakukan kontrol/pengawasan,” tegasnya.

Kedua, demi terciptanya keamanan, ketertiban dan ketenangan masyarakat, mengimbau aparat keamanan, agar melakukan penertiban, dengan menindak tegas pelanggaran-pelanggaran khususnya karena miras, oplosan, minuman keras seperti CT dan bobo, serta barang-barang yang disalahgunakan seperti aibon.

“Tindak tegas pelaku-pelakunya, utamanya generasi muda karena bila dibiarkan sama saja dengan membiarkan mental dan oral generasi muda menjadi rusak dan hancur, bahkan membiarkan generasi penerus bangsa itu terjerumus dalam jurang kebinasaan. Dan tentu saja kita tidak menginginkan hal itu terjadi,” katanya.

“Kepada pemerintah, saya minta jangan lagi ada yang mengkonsumsi Miras ditempat umum karena akan mengganggu Kamtibmas. Kepada aparat tindak tegas bila mereka sampai mengganggu Kamtibmas, dan bila perlu tangkap mereka,” pintanya.

“Sebagai kepala suku sekaligus orangtua, saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.  Saya menginginkan generasi muda berkembang dengan baik, baik secara fisik, mental dan moralnya. Saya tidak menginginkan generasi muda hancur karena barang-barang seperti itu,” tandasnya.

Kepada masyarakat, Yakobus Muyapa menghimbau agar bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungannya. Dirinya juga meminta kepada aparat keamanan untuk menertibkan pemalang-pemalang yang sering terjadi di jalan raya Wadio dan Topo.

Katanya, semua itu dilakukan untuk menciptakan suasana yang tertib, aman, nyaman dan kondusif daerah, karena dengan situasi dan kondisi seperti itu masyarakat juga akan merasa tenang dalam beraktivitas yang pada muaranya akan lebih mudah dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.

Terkait seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas, Yakobus Muyapa, meminta kepada supir utamanya jalur pedalaman, untuk tidak menjalankan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
“Sudah sering terjadi kecelakaan dijalan raya, untuk itu saya minta para supir tidak menjalankan kendaraannya dengan kecepatan tinggi,” ujarnya.

Disamping itu, Yakobus Muyapa yang pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Nabire meminta agar pengendara kendaraan bermotor khususnya roda empat minimal berumur 20 tahun.

“Bukan hanya faktor kecepatan, keelakaan lalu lintas seringkali melibatkan supir yang usianya masih sangat muda, oleh karena itu saya meminta agar supir sudah berumur diatas 20 tahun,” pungkasnya.

(SUmber : Papuaposnabire)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *