Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Puncak Papua Korwil Bali Kecam Kasus Penyiksaan di Kabupaten Puncak

(Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Puncak Papua Korwil Bali Kecam Kasus Penyiksaan di Kabupaten Puncak)

Denpasar, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Puncak Papua Korwil Bali, mengecam keras kasus penyiksaan yang dilakukan oleh oknum TNI terhadap warga sipil di Kabupaten Puncak belum lama ini.

Dalam pernyataan sikap yang disampaikan kepada Nabirenet, Jumat (05/04/2024), Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Puncak Papua Korwil Bali menegaskan, akibat perbuatan oknum TNI, saudara Definus Murib menjadi korban dan meninggal dunia karena disiksa.

Selain Definus Murib, korban lainnya atas nama Alinus Murib dan Warinus Murib. Beruntung, kedua dipulangkan ke rumah karena aparat tidak memiliki bukti yang jelas.

Awalnya peristiwa itu terjadi di Kabupaten Puncak, Distrik Omukia (03/02/2024). Saat itu masyarakat sedang melakukan aktifitas kegiatan gotong royong membangun sebuah honai dan pihak korban pun ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Anggota TNI Satgas Pamtas Jonif 330/BJW dari Distrik Ilaga kemudian menghampiri masyarakat yang sedang melakukan kegiatan gotong royong.

Dari situlah pelaku mengambil kesempatan untuk melakukan aksi penangkapan 3 masyarakat sipil yakni Warinus Murib 18 tahun, Alinus Murib berusia 18 tahun, dan Defius Kogoya berusia 17 tahun. Ketiga korban dituduh bagian dari (TPNPB-OPM) tanpa bukti yang jelas. Ketiganya lalu ditangkap secara paksa dan disiksa.

Pihak keluarga koban hanya bisa menahan amarah dan kesedihan atas penangkapan secara kekerasan. Saat tiba di pos satgas, disitulah kejadian penyiksaan sadis terhadap ketiga korban terjadi. Yang menjadi sasaran utama adalah Warinus Murib yang dipukul, dilukai dengan senjata tajam, ditendang, dan diperlakukan tidak berperikemanusiaan.

Ketiga korban kemudian dievakuasi lalu dirawat di RS Ilaga. Namun beberapa hari kemudian, Warinus Murib meninggal dunia, sedangkan dua korban masih dirawat di rumah sakit.

Sebenarnya ketiga korban tesebut masyarakat biasa, Warinus Murib berstatus sebagai masyarakat sipil, Alinus Murib berstatus sebagai pelajar STP/ sekolah kebenaran di Ilaga dan Defius Kogoya sebagai pelajar SMP Omukia. Sumber informasi dari salah satu keluarga korban melalui telepon seluler dari Puncak Ilaga, Sabtu, 22/03/2024 diperkirakan sekitar Pukul 18:15 WIT.

Terhadap kejadian tersebut, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Puncak Papua Korwil Bali, mengeluarkan pernyataan sikap sebagai berikut :

  • Kami mahasiswa Puncak Kota Studi Bali dengan ini menyatakan sikap kami terkait dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh TNI yang telah melakukan penganiayaan, pelanggaran HAM di Kabupaten Puncak

  • Kami Mahasiswa Puncak Kota Studi Bali dengan tegas mengecam setiap bentuk pelanggaran HAM yang merugikan Hak Asasi Manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Kami menganggap bahwa kebebasan, keadilan dan martabat setiap individu harus dihormati dan dilindungi oleh negara termasuk oleh aparat keamanan TNI

  • Kami mendesak pihak berwenang Komnas HAM termasuk TNI untuk segera melakukan investigasi menyeluruh dan transparan terhadap dugaan pelanggaran HAM tersebut. Kami juga menuntut agar pelaku pelanggaran HAM diadili secara adil sesuai dengan hukum yang berlaku.

  • Kami mengajak semua pihak untuk bersikap bijaksana dan menyelesaikan masalah ini dengan menjunjung tinggi keadilan dan hak asasi manusia, demi terciptanya perdamaian dan keadilan bagi semua warga negara Indonesia.

Maka dengan ini kami Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Puncak Papua Korwil Bali menyatakan :

  1. TNI/Polri stop melakukan kekerasan, intimidasi dan pembunuhan terhadap warga sipil di kabupaten Puncak

  2. Kami mendesak kepada lembaga legislatif di kabupaten Puncak untuk segera membentuk Tim Investigasi untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM tiga pelajar di Kabupaten Puncak

  3. Kami mendesak untuk mencopot Pangdam Cenderawasih dan antek-anteknya

  4. Kami mendesak segera tarik TNI Satgas Pamtas Jonif 330/BJW dari kabupaten Puncak

  5. Kami mendesak kepada Komnas HAM segera selesaikan kasus berat mutilasi Ibu Terina Murib, di Sinak kabupaten Puncak

  6. Segera tarik militer dari fasilitas umum sekolah, puskesmas, gereja dan tempat tempat lainya di Kabupaten Puncak

  7. Mengecam Pangdam XVII Cenderawasih segera mengakui adanya anggota TNI yang melakukan penyiksaan terhadap warga sipil orang asli di Kabupaten Puncak, Papua Tengah

  8. Adili, pecat dan penjarakan pelaku penyiksaan terhadap warga sipil di Puncak, Ilaga, Papua Tengah

  9. Komnas HAM RI segera lakukan investigasi penganiayaan terhadap warga sipil orang asli Papua di kabupaten Puncak, Papua Tengah

  10. Presiden Republik Indonesia segera perintahkan Panglima TNI proses hukum TNI pelaku penyiksaan anak di kabupaten Yahukimo dan warga sipil di kabupaten Puncak

  11. Buka ruang demokrasi seluas-luasnya dan berikan kebebasan bagi Jurnalis Nasional dan internasional untuk meliput dan mengakses informasi di Papua Barat

  12. Hentikan Operasi militer di Nduga, Intan Jaya, Puncak Jaya, Puncak, Maybrat, Yahukimo, dan seluruh wilayah West Papua lainnya

  13. TNI/Polri, Stop melakukan intimidasi teror kepada masyarakat sipil di di daerah konflik Kab. Nduga, Intan Jaya, Puncak, Maybrat, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Lani Jaya dan seluruh Tanah Papua

[Nabire.Net]



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *