Ibadah Minggu Raya GPT Kristus Raja Kalinona Nabire, 11 Februari 2024

(Ibadah Minggu Raya GPT Kristus Raja Kalinona Nabire, 11 Februari 2024)

Nabire, Bertempat di Gereja Pantekosta Tabernakel Nabire GPT Kristus Raja, jemaat Kalinona Nabire, telah dilaksanakan Ibadah Minggu Raya, Minggu 11 Februari 2024.

Ibadah dilayani pelayanan firman oleh Pdm. Surya Roreng, S.Th dengan mengambil pembacaan dari kitab Yohanes 4 : 34-38, dengan tema Penuai yang Efektif dan Efisien yang dikaitkan dengan tema sinode GPT tahun 2024 ini : The Harvest Year atau Tahun Penuaian.

Dalam khotbahnya, Pdm. Surya Roreng, S.Th, mengatakan, agar ladang yang sudah menguning dapat dituai maka dibutuhkan para penuai. Penabur dan penuai harus bersama-sama dengan bersukacita.



Dituai yang pertama-tama haruslah jiwanya. Diantara panen hujan awal dan panen hujan akhir akan terjadi dobel porsi. Respon kita terhadap hidup bersama Tuhan haruslah bersukacita.

“Ladang sudah menguning dan matang untuk dituai, oleh karena itu dibutuhkan banyak penuai. Bicara panen raya, bicara tentang panen jiwa-jiwa. Penuai tidak hanya ada satu orang tetapi banyak orang. Berkat yang kita punya harus kita bagikan dengan orang lain, jangan dimakan sendiri”, kata Pdm. Surya Roreng, S.Th.

Lebih lanjut, Pdm, Surya Roreng mengatakan, agar panenan bisa maksimal dan tidak terbuang, dibutuhkan banyak penuai, Jangan jadi penuai tunggal. Jangan takut untuk bekerja sama dalam menuai. Jangan pelit (mau makan sendiri), yang ada malah rugi sendiri. Contohnya seperti Rasul Petrus di dalam Lukas 5:6-7. Petrus menuai ikan bersama-sama kepada teman-temannya di perahu yang lain, mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan. Hal itu menggambarkan Petrus tidak rakus menuai sendiri tetapi dia mau menuai bersama-sama.

“Untuk sampai pada panen, dibutuhkan dua proses utama yaitu menabur. Apa yang mau dipanen jika tidak ada yang ditabur? Selain itu dibutuhkan juga menuai. Jika tanaman sudah menghasilkan buahnya namun tidak dipetik atau dipanen maka akan menjadi busuk serta tidak bisa dikonsumsi (mubazir)”, tambahnya.

Agar supaya kita bisa menabur dan menuai dibutuhkan penabur dan penuai. Pekerjaan penabur dan penuai berbeda, demikian juga dengan cara kerjanya. Penabur menanam, penuai pencabut (Pengkhotbah 3:2). Baik penuai maupun penabur ada berkatnya (1 Korintus 3:8). Peralatan yang digunakan juga berbeda, masing-masing sesuai dengan fungsinya. Jangan sampai terbalik atau salah dalam memilih peralatan. Jangan membawa peralatan menabur saat menuai demikian juga sebaliknya. Jangan bawa sabit saat menabur, begitu juga jangan bawa sekop dan pacul saat menuai.

Diakhir khotbahnya, Pdm. Surya Roreng, S.Th, mengatakan, kita harus mengenali posisi kita dengan baik dan benar. Jangan sampai kita salah dalam mengatur strategi dan mengambil keputusan.

“Kita ada pada harvest year. Kita penuai bukan penabur. Kita menghormati penabur, maka kita harus menuai agar apa yang mereka tabur tidak menjadi sia-sia, Tuhan Yesus Kristus Mempelai Pria Surga memberkati kita semua, Amin.”, tandas Pdm. Surya Roreng, S.Th.

Ibadah juga diisi paduan suara keluarga wilayah barat dan diakhir ibadah, diisi dengan sakramen perjamuan kudus.

[Nabire.Net]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *