Warga Demo Tolak Pembangunan Mesjid Tidak Berijin Di Andai Manokwari

1

(Dok.JPNN)

Ribuan umat Kristen dan sejumlah pendeta di Manokwari, Kamis (29/10) menggelar aksi unjuk rasa menolak pembangunan masjid. Me­reka berjalan kaki dari Sanggeng hingga ke kantor Bupati Manokwari di Sogun (Sowi Gunung) untuk menyampaikan aspirasi.

Massa  yang seragam menge­nakan kaos hitam-hitam mulai ber­kumpul sejak pagi di dekat Stadion Sanggeng. Massa berdatangan dari berbagai arah. Sekitar pukul 10.00 WIT mere­ka bergerak, berjalan kaki menuju kantor bupati sambil membawa spanduk, pamflet dan lainnya.

Aksi longmarch ini mendapat pengawalan dari aparat kepolisian. Laju kendaraan pun terhambat. Walau cuaca cukup panas di bawah terik matahari, massa tetap bersemangat berjalan kaki sambil menyanyikan lagu-lagu rohani.

Tiba di kantor bupati sekitar pukul 12.00 WIT, ribuan umat Kristen di antaranya para pendeta langsung menggelar aksi. Massa menonjolkan sejumlah spanduk dan pamflet yang intinya menolak pembangunan masjid di Andai.

Beberapa spanduk dan pamflet yang dibawa massa di antaranya bertuliskan, “Menolak Pembangunan Masjid Andai, Hormatilah Tanah Injil Karena Tinggal Ini Yang Kami Punya, Hargailah Manokwari Sebagai Kota Peradaban Orang Papua, Ini Hak Sulung Tanah Kami, Pemerintah Harus Tegas,” serta spanduk lainnya.

  Aksi unjuk rasa ini mendapat pengawalan ratusan aparat kepolisian. Bahkan Kapolda Papua Barat, Brigjen Pol Drs Royke Lumowa turun langsung mengawal aksi unjuk rasa penolakan pembangunan masjid ini. Juga ada Kasat Brimob Polda Papua Barat, Kombes Pol Heri Heriyandi, Kapolres Manokwari, AKBP Johnny Edison Isir serta perwira Polri lainnya.  Beberapa kendaraan taktis Brimob disiagakan di kantor bupati, serta di Jalan Esau Sesa.

Bupati Manokwari, Bastian Salabay dan Ketua DPRD Manokwari, Deddy S.May serta Sekda,Drs.F.M.Lalenoh akhirnya menemui massa di halaman kantor bupati. Sementara massa terus berteriak agar pembangunan masjid di Andai dihentikan.

Penyampaian aspirasi diawali dengan doa. Selanjutnya Wakil Ketua Klasis GKI Manokwari, Pdt J.Mamoribo membacakan Komunike Bersama Umat Kristiani di Kota Injil Manokwari, berisikan 5 butir penyataan demi menegakkan eksistensi Manokwari sebagai Kota Injil dan Pusat Peradaban Orang Papua serta menjaga kearifan lokal di tanah Papua.

Pertama, Bupati Manokwari tidak mengeluarkan izin untuk pembangunan masjid dan aktifitas lainnya di wilayah kerja Zending Andai.

Kedua, Bupati Manokwari segera meminta kepada Kapolres untuk memanggil H. Appe serta sikapnya yang tidak kooperatif terhadap pemerintah serta meresahkan masyarakat Kristiani dengan membangun masjid di Andai.

Ketiga, Bupati Manokwari segera merealisasikan Raperda Manokwari Kota Injil yang sudah pernah diserahkan kepada DPRD untuk disahkan menjadi produk hukum dalam rangka Otsus Papua sesuai UU Nomor 21 Tahun 2001.

Keempat, Bupati Manokwari segera melakukan pertemuan koordinasi dengan semua stakeholder, pimpinan TNI, Polri paling lambat November 2015 untuk menertibkan upaya pembangunan yang menyerobot wilayah kerja Zending Andai.

Kelima, meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk memberlakukan seluruh warga negara secara adil dan proporsional sesuai dengan jiwa Pancasila dan UUD 1945.’’Komunike bersama ini kami sampaikan kepada Bupati Manokwari untuk segera ditindaklanjuti dan dilaksanakan. Tuhan memberkati. Hormat kami pimpinan gereja-gereja di Manokwari,’’ ujarnya membacakan komunike bersama.

Pada kesempatan ini pula, Wakil Ketua Klasis GKI atas nama umat Kristiani menyampaikan pernyataan sikap penolakan pembangunan masjid di Andai, Distrik Manokwari Selatan, dengan alasan, pertama, Manokwari merupakan Kota Injil sejak 1855. Kedua, keberadaan Manokwari sebagai Kota Injil harus dihargai semua pihak sebagai bentuk toleransi ke-Bhinekaan yang ada di Indonesia.

Ketiga, pembangunan masjid yang berlokasi di Andai adalah pembangunan tidak berizin sehingga harus dibatalkan. Keempat, semua proses pembangunan di tanah Papua, termasuk pembangunan tempat ibadah harus memperhatikan dan menghargai UU  Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otsus. Kelima, pembangunan masjid tidak prosedural dapat menyakiti hati umat Kristen di tanah Papua. Keenam, untuk menjaga keamanan pada masa Pilkada, maka pembangunan masjid di Andai harus dihentikan untuk seterusnya.

Bupati Bastian Salabay menyatakan, sebagai jajaran pemerintah, pihaknya tetap akan menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan masyarakat sehingga tercipta rasa aman di daerah ini. Namun  jawaban Bupati ini ternyata belum diterima ribuan massa serta kalangan pendeta. Sambil meneriakkan ‘’bongkar-bongkar’’, massa meminta keterangan bupati untuk menyatakan penghentian pembangunan masjid di Andai.

Beberapa kali, Bupati Salabay  menjawab, pembangunan masjid akan dihentikan sementara. Tapi, massa tetap bersikeras meminta jawaban tegas bupati. ‘’Kami minta ketegasan Bapak Bupati untuk menghentikan pembangunan masjid,’’ ujar beberapa massa.

Hingga akhirnya, Bupati menyatakan, bahwa pembangunan masjid akan dihentikan. Ia meminta agar massa dapat mendukung dan mengamankan dirinya.‘’Tolong amankan saya, dukung saya. Saya akan rapatkan barisan dengan pihak Muslim, bahwa umat Kristen tidak menerima (pembangan masjid). Masyarakat Kristiani di Manokwari harus mendukung saya,’’ ujarnya.

Pernyataan bupati tersebut disambut meriah ribuan massa. ‘’Bapak-Ibu, Puji Tuhan. Bupati Manokwari telah menerima aspirasi kita. Terima kasih banyak kepada semua yang hadir pada hari ini,’’ ucap seorang  koordinator aksi.

Setelah mendapat jawaban dari Bupati, massa pun membubarkan diri dengan tertib. Sebagian pulang menggunakan bus yang disediakan, tapi ada yang berjalan kaki.

Sementara itu, Ketua DPRD Ma­nokwari,Deddy S.May me­nyatakan, jajarannya siap me­nindaklanjuti aspirasi ma­syarakat untuk pembahas Ra­perda Manokwari Kota Injil untuk kemudian ditetapkan sebagai Perda (Peraturan Daerah). Pernyataan ini disam­paikan menjawab aspirasi masyarakat pada  aksi unjuk rasa di halaman kantor Bupati Manokwari, Kamis (29/10).

‘’Aspirasi dari masyaraka­rat untuk menugaskan DP­RD,mengamanatkan pada DPRD, pembahas dan  me­nye­tujui Raperda tentang Manokwari Kota Injil. Kemudian daripada itu,kami (DPRD Manokwari) siap untuk menindaklanjuti aspirasi (pembahasan Raperda tentang Manokwari Kota Injil,’’ ujar Ketua DPRD menjawab aspirasi masyarakat pada aksi unjuk rasa.

Politisi Partai Golkar ini menyatakan, DPRD akan segera membahas dan menyetujui Raperda Manokwari Kota Injil. Namun demikian,dalam proses pembahasan ini,Ke­tua DPRD ini meminta komponen masyarakat terutama lembaga gereja untuk ikut bersama. ‘’Kami mohon kepada pimpinan-pimpinan gereja, pendeta dan sebagainya untuk ikut bersama dalam pembahasan Raperda Manokwari Kota Injil,’’ tandasnya.

Kepada pihak lain,Deddy May berharap dapat memandang Raperda Manokwari Kota Injil ini sebagai bagian dari penghargaan terhadap sejarah. ‘’Karena itu,dalam pro­ses pembahasan,kami akan membuka diri kepada semua komponen untuk ikut bersama dalam proses pembahasan,’’ tuturnya lagi.

Pernyataan Ketua DPRD Manokwari ini menanggapi aspirasi yang disampaikan perwakilan pimpinan gereja,Pdt Alex Mandowen. ‘’Dalam menegakkan hukum yang adil,berdasarkan nilai dan nafas UU Otsus,supaya pimpinan dan anggota DPRD Manokwari segera menyikapi Raperda Kota Injil Manokwari,’’ tuturnya.

Adapun butir-butir aspirasi pimpinan gereja terkait  Kota Injil Manokwari,pertama,meminta kepada pimpinan dan anggota DPRD Manokwari untuk segera menetapkan dan mengesahkan Perda Kota Injil Manokwari paling  lambat Desember 2015. Kedua,segera membentuk panitia khusus (Pansus) untuk mengawal Raperda Kota Injil dan menganggarkan dalam APBD. ‘’Demikian aspirasi kami,’’ ujar Pdt Alex Mandowen.

(RS)

One Response to Warga Demo Tolak Pembangunan Mesjid Tidak Berijin Di Andai Manokwari

  1. ngatiem berkata:

    Itu yg benar…mantap lanjutkan saudara2 ku di manokwari…tutup mesjid2 yg tra beres tu…disana sj dong bakar gereja knapa di papua tong musti takut dengan dorang…INI TANAH PAPUA,bukan orang pendatang pung tanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *