Warga Deiyai Papua Kini Sudah Punya Bandara Baru

Masyarakat Kabupaten Deiyai Papua kini mulai menikmati penerbangan di Bandar Udara (Bandara) Waghete yang baru. Bandara dengan landas pacu sepanjang 1.400 meter dan lebar 23 meter itu, telah beroperasi sejak tanggal 7 Maret lalu.

Untuk sementara, jadwal penerbangan masih terbatas pada rute Wagheta – Nabire atau sebaliknya setiap hari Jum’at dan Sabtu. Letak bandara yang baru ini sangat ideal dibanding keberadaan lapangan terbang sebelumnya yang sering tergenang air jika terjadi luapan air Danau Tigi.  Selain masih berada di wilayah kota, kawasan bandara menempati dataran tinggi dan luas. Maskapai penerbangan yang sudah melayani penerbangan untuk rute Waghete – Nabire hanya Susi Air.

Kepala Urusan Bandara Waghete Markus Bonepandang, ketika dihubungi Tim UP4B di Nabire Jumat (28/3) mengatakan, bandara itu ke depan akan memiliki prospek yang lebih baik dibanding Bandara Enarotali yang ada di ibukota Paniai. Landas pacu yang masih berukuran 23 meter akan diperlebar menjadi 30 meter. Selain pelebaran landasan juga akan dibangun shoulder (bahu) pada bagian ujung landasan serta pemangkasan bukit untuk memberi keleluasaan saat pesawat landing maupun take off. Bertahap juga akan diusulkan pembangunan tower dan perluasan apron (tempat parkir pesawat) dua kali dari yang ada saat ini. Jika keseluruhan pekerjaan rampung, landasan bandara ini dimungkinkan bisa didarati pesawat sejenis ATR tipe 72 dan 42 yang bisa terbang langsung dari dan ke Jayapura. Jika pengembangan bandara ini selesai, ke depan bandara ini akan bisa setara dengan Bandara Nabire. Saat ini masih hanya didarati jenis pesawat perintis.

Sedang fasilitas penerbangan masih sangat terbatas.  Selain peralatan telekomunikasi navigasi berupa pesawat  SSB dan VHF, juga terdapat fasilitas keamanan penerbangan terdiri dari satu mobil pemadam tipe RIV dan 2 unit pemadam portable.  Areal bandara juga belum terdapat pagar pengaman. “Untuk menjadi bandara yang ideal, masih diperlukan sejumlah sarana dan prasarana lain”, ungkap Markus Bonepandang.

Ia mengemukakan, meski sudah beroperasi, pembangunan bandara ini masih “tersandera” dengan  persoalan pembebasan tanah.  Pembebasan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten itu, diharapkan dalam waktu dekat akan dapat dilunasi.  Saat ini, pihak Pemkab Deiyai sudah membayar pelepasan tanah sebesar Rp 27 milyar dari total Rp 30 milyar. Sisa pembayaran tanah adat kini tinggal Rp 3 milyar, tambahnya.

Koordinator Tim Dalev UP4B Abdul Alim Salam yang disertai Yensawai E.Rumbiak dari Fakultas Ekonomi Unversitas Cenderawasih dan Media Center UP4B ketika melakukan peninjauan di Bandara Waghete menilai, bandara ini punya nilai strategis. Lokasinya yang dapat dicapai sekitar 40-50 menit dari Enarotali. Bandara Enarotali yang telalu dekat dengan permukiman kota, juga akan sulit dikembangkan. Ke depan diperkirakan bandara ini akan menjadi bandara yang fungsinya tidak hanya melayani kebutuhan masyarakat Kabupaten Deiyai tetapi juga Kabupaten Paniai dan Kabupaten Dogiyai.

(UP4B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *