Waduh, Angka Kolaborasi Penyakit TB-HIV Meningkat, Ini Penjelasan Kabid P2P Nabire

(Kabid P2P Nabire, dr. Frans Charles Sayori)

Hingga 31 Juni 2018, kasus HIV/AIDS di kabupaten Nabire masih tertinggi di Papua mencapai 7007 kasus. Data tersebut dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Papua.

Ironisnya dalam data tersebut, angka Korelasi untuk kasus TB-HIV mengalami peningkatan yaitu 3413 kasus dari 37991 kasus HIV/AIDS di Provinsi Papua.

Terkait persoalan ini, Nabire.Net meminta penjelasan dari Kepala Bidang Pengendalian & Pemberantasan Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan kabupaten Nabire, dr. Frans Charles Sayori, rabu malam 15 Agustus 2018.

Terkait angka kolerasi TB-HIV yang semakin meningkat di Papua dan Nabire secara khusus, dirinya membenarkan bahwaada hubungan antara penyakit TB dengan HIV.

“Benar, ada hubungan antara TB dan HIV, orang yang terkena penyakit TB, gampang terkena HIV,  sebaliknya orang yang terpapar virus HIV akan cepat sekali terkena TB, sehingga ada program kolaborasi TB-HIV”, jelas dr. Frans.

Lebih lanjut, Frans Sayori mengatakan bahwa dengan data kasus HIV/AIDS sebanyak 7007 jiwa tersebut, secara epidemiologi, kita semua sudah berada dalam keadaan endemis HIV, artinya hal ini sudah dalam kondisi mengkhawatirkan bagi kabupaten Nabire.

Ketika ditanyakan mengenai upaya dari Dinas Kesehatan kabupaten Nabire, dr. Frans Sayori menjelaskan bahwa sesuai dengan Peraturn Menteri Kesehatan, semua warga harus diperiksa status HIV-nya.

“Semua warga wajib diperiksa status HIV-nya, TOP atau Temukan, Obati dan Pertahankan minum obat seumur hidup. Jangan sampai putus minum obat. Selain itu sekarang juga ada program 90-90-90, artinya 90% harus sudah diperiksa status HIV-nya, 90% mengetahui hasil pemeriksaan HIV-nya dan 90% sudah periksa viral Loud. Selain itu promosi kesehatan tentang HIV harus terus dilakukan”, beber Frans Sayori.

Sementara ketika ditanyakan mengenai warga yang masih enggan memeriksakan diri karena belum siap secara pribadi maupun tidak siap jika hal tersebut akan menjadi beban moril bagi dirinya, keluarganya, maupun akan dikucilkan dari lingkungannya, Frans Sayori menuturkan bahwa pihaknya akan terus berupaya baik melalui promosi kesehatan seperti poster, media cetak, media elektronik, media online, juga bisa melibatkan konselor baik di Puskesmas maupun RSUD.

[Nabire.Net]



Silahkan Komentar

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] monkey emoticons by andreasandre Modified from nartzco source code.